TIGARAKSA – Kasus ditemukannya 25 anak kurang gizi di Desa Kronjo, Kecamatan Kronjo, Kabupaten Tangerang, disikapi serius pemerintah setempat. Mereka menggelar rapat dengan melibatkan sejumlah organisasi perangkat daerah (OPD) di Pendopo Bupati Tangerang, Jalan Kismaun, No. 1, Kota Tangerang, Senin (29/1).
Dalam rapat yang dipimpin langsung Bupati A Zaki Iskandar itu termasuk di dalamnya membahas solusi penanganan kasus 25 anak kurang gizi. Dan, mereka sepakat, Desa Kronjo akan dilakukan bedah desa seperti yang sudah dilakukan di Desa Kohod, Kecamatan Pakuhaji. Langkah itu sebagai upaya menggerakkan perekonomian dan kesehatan bagi masyarakat dengan harapan warga Desa Kronjo bisa hidup sejahtera dengan pola hidup sehat.
Usai rapat dalam konferensi pers, Bupati Zaki menyatakan, masyarakat sehat dapat dicapai jika ada pendapatan keluarga yang memadai. ”Kesehatan memang sangat penting, apabila taraf kehidupan keluarga memadai,” ucapnya.
”Untuk itu, program bedah desa akan digulirkan untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat. Dengan demikian, pola hidup sehat juga akan terbangun. Seperti halnya di Desa Kohod, Pakuhaji yang kini menjadi desa sejahtera,” terangnya.
Zaki menambahkan, sebelumnya masyarakat Desa Kohod punya karakteristik yang sama dengan Desa Kronjo sekarang. Namun, setelah dilakukan bedah desa atau dikenal dengan program Gerakan Pembangunan Masyarakat Pesisir, kondisinya sekarang berubah jauh lebih baik.
Selain membangun infrastruktur, layanan air bersih, pemerintah juga membangun perekonomian masyarakat dengan melatih bertanam tanaman organik dan beternak ikan. ”Setelah dilakukan pembangunan menyeluruh, dampaknya, masyarakat Desa Kohod mengalami kemajuan. Dan, replikasi pembangunan Desa Kohod akan diadopsi dalam program bedah desa di Kronjo,” tuturnya.
Zaki juga meminta warga Desa Kronjo dapat bersabar. Sebab, baru tahun depan (2019-red) program bedah desa akan digulirkan. ”Tahun ini, kami masih menyiapkan analisa dan kajian akademiknya,” jelasnya.
Meski demikian, pemkab tetap melakukan upaya-upaya mengatasi kekurangan gizi di Desa Kronjo. Salah satunya dengan memaksimalkan jaringan kader posyandu yang dipantau tim puskesmas. ”Jika ditemukan adanya balita yang mengalami kekurangan gizi di mana saja, kita langsung melakukan intervensi ke balita tersebut dengan memberikan nutrisi dan suplemen,” kata Zaki.
Dalam kesempatan itu, Zaki menepis tudingan 25 anak di Kronjo itu menderita gizi buruk. Menurut Zaki, yang terjadi mereka mengalami kekurangan gizi. ”Kami sudah menangani selama dua bulan. Makanya, saya ingin meluruskan bahwa gizi buruk itu memiliki beberapa indikator sesuai hasil medis,” sergahnya. seraya menyebut tiga indikator itu yakni berat badan menurut umur (BB/U), tinggi badan menurut umur (TB/U), berat badan menurut tinggi badan (BB/TB).
”Nah, 25 anak tersebut tidak masuk dalam kategori gizi buruk. Mereka hanya kekurangan gizi, penanganan untuk pemulihan sudah dilakukan sejak dua bulan lalu. Sekarang sudah 20 anak yang telah mengalami pemulihan,” imbuhnya.
Sementara, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Tangerang Desriana Dinardianti menyatakan, kasus kekurangan gizi di Kabupaten Tangerang hanya 0,01 persen atau sekitar 400 balita. Sedangkan indikator skala nasional di angka 5 persen. ”Jadi memang kabupaten jauh dari kasus gizi buruk,” tegasnya.
”Program Kader Asuh Masa Emas (Kramas) yang berada di puskesmas bekerja dan mengindentifikasi persoalan kebutuhan dalam penanganan gizi. Semuanya dilakukan penanganan dengan terintegrasi,” tandasnya. (Wahyu/RBG)









