Mengutip pepatah lama ‘mulutmu harimaumu’, apa yang dialami pasangan muda yang sempat berstatus suami istri, sebut saja Jebod (37) dan Enye (35), keduanya nama samaran, menarik untuk ditelusuri. Bagaimana tidak, lantaran tak mau dianggap remeh oleh keluarga sang istri, sikap dan ucapan suami sombongnya bikin sakit hati. Aih maksudnya bagaimana, Teh?
“Ya begitulah, Kang. Ucapan enggak sesuai sama kenyataan,” kata Enye kepada Radar Banten.
Apalah daya, pernikahan yang masih seumur jagung, hanya menjadi kenangan penuh luka. Baik keluarga pihak wanita maupun mempelai pria, sama-sama tidak bisa berlapang dada. Peristiwa itu terjadi ketika Enyeh berusia 25 tahun dan Jebod 27 tahun. Oalah, kok bisa begitu ya, memangnya kenapa sih, Teh?
“Hem… saya kalau ingat kejadian itu suka sedih, Kang. Ya, semoga hal yang saya alami enggak terjadi pada siapa pun. Perih rasanya!” keluh Enye.
Meski tidak sampai menitikkan air mata, dari raut wajahnya, Enye memang tampak tak bergairah menceritakan kisah masa lalunya. Namun, mungkin ingin berbagi pengalaman atas apa yang dialami, ia pun rela menyempatkan waktu luangnya untuk bercerita panjang lebar kepada wartawan.
Semua berawal ketika Enye lulus SMA. Bagai bidadari turun dari kayangan, Enye yang sedari kecil tidak begitu menarik perhatian lelaki lantaran berpenampilan ala kadarnya dan belum bisa dandan, tiba-tiba saja hadir dengan penampilan baru yang lebih modis dan tampak dewasa.
Berbekal motivasi tinggi ingin menjadi wanita paling cantik di antara teman-temannya, Enye tak peduli jika harus mengeluarkan banyak biaya untuk pergi ke salon dan membeli baju-baju baru. Maklumlah, meski tarlihat sederhana, sebenarnya ia termasuk wanita yang terlahir dari keluarga kaya.
Sang ayah yang memiliki sawah di mana-mana, sejak muda memang tak pernah menghambur-hamburkan uang untuk kepuasan sementara. Menerapkan pola hidup sederhana dan apa adanya, mereka keluarga yang bersahaja. Katanya sih, ayah Enyeh memang sengaja seperti itu untuk bekal hidup anak-anaknya di masa depan. Widih, keren amat nih orangtuanya Teh Enyeh!
“Ya, bapak mah memang begitu, Kang. Pelit sih enggak, cuma kadang suka marah kalau beli barang-barang yang tidak penting,” curhatnya.
Setelah ditelusuri, wajar saja, ternyata Enye anak ketiga dari empat bersaudara dan wanita satu-satunya. Apa yang diminta, pasti dituruti kedua orangtua. Sampai Enye meminta kendaraan pribadi sekalipun, ayahnya membelikan motor untuk sang buah hati tercinta.
Hingga suatu hari, apa yang dilakukan Enye tidak sia-sia. Dengan penampilan baru yang lebih menggoda, banyak lelaki datang mendekat. Mulai dari teman seusia sampai yang jauh lebih tua, berlomba-lomba mendapatkan cintanya. Berbagai usaha pun dilakukan, ada yang diam-diam meminta nomor telepon, mengirim surat, bahkan ada juga yang nekat datang ke rumah.
Singkat cerita, dari sekian banyak lelaki yang berlomba mendapatkan hati Enye, akhirnya seperti apa yang dialami banyak wanita pada umumnya, Enye memilih satu lelaki pujaan hati yang menurutnya paling baik di antara yang terbaik. Ia adalah Jebod. Berpenampilan keren dengan gaya ala-ala orang kaya, ia sukses merebut Enye dari pacar-pacarnya.
Seiring bertambahnya usia, banyak teman-teman Enye mengakhiri masa lajang. Setiap kali kondangan berdua, selalu saja ada yang menanyakan kapan menyusul? Mungkin karena hal itulah, Enye dan Jebod ngebet ingin segara menuju pelaminan. Padahal, waktu itu usia mereka masih terbilang cukup muda.
Apa mau dikata, lagi-lagi, sambil merengek di hadapan sang ayah, Enye meminta segera dinikahi. Meski awalnya tidak disetujui, yang namanya naluri ibu, pasti tak tega melihat buah hati tersiksa, keluarga besar pun mengabulkan permintaan Enye.
Tak lama kemudian, datanglah Jebod beserta keluarga besar melamar sang kekasih hati. Enye yang malam itu mengenakan kebaya putih dengan kain batik, membuat siapa pun terkagum-kagum melihatnya. Apalagi, ketika bersanding dengan Jebod yang berkemeja dengan celana bahannya, mereka tampak serasi bak raja dan ratu.
Selesai acara lamaran, kedua keluarga saling berunding untuk menentukan tanggal pernikahan. Saat itu mulailah muncul benih-benih keretakan yang dirasakan keluarga Enye terhadap sosok Jebod dan keluarga. Lah, baru selesai lamaran kok sudah timbul keretakan, ini bagaimana ceritanya Teh?
“Waktu itu Kang Jebod ngomongnya ninggi terus, Kang. Dia bilang, pokoknya keluarga Enye enggak usah khawatir, pesta pernikahan nanti biar saya yang bayar. Mau undang tamu seluruh kampung atau kampung sebelah juga silahkan, menunya juga harus enak. Soal uang, enggak usah pusing,” kata Enye meniru ucapan Jebod.
Dua minggu setelah malam lamaran, pesta pernikahan pun terlaksana. Mengikat janji sehidup semati, Enye dan Jebod resmi menjadi sepasang suami istri. Mengundang tamu undangan dari berbagai kalangan, semua orang dipuaskan dengan mewahnya tenda hajatan dan menu hidangan istimewa. Pokoknya, hari itu semua terlihat bahagia.
Di awal pernikahan semua berjalan lancar. Baik Enye maupun Jebod saling menjaga perasaan. Tinggal di rumah sang istri, peran Jebod sebagai suami dilakoninya dengan baik. Bekerja setiap hari, rumah tangga mereka diselimuti kebahagiaan.
Hingga setahun kemudian, mereka belum juga dikaruniai momongan. Apalah daya, sindiran dan ucapan menyakitkan hati pun datang dari tetangga dan orang-orang. Sejak saat itu, keharmonisan seakan sirna. Hingga suatu malam, sang ayah mertua menanyakan kapan Jebod membeli rumah untuk rumah tangganya. Entah karena lelah bekerja atau tersinggung, Jebod mengamuk, keributan terjadi.
Parahnya, seolah tak menghormati sang mertua, Jebod memarahi sambil mengatakan hal yang tak pantas. Sontak hal itu membuat Enye tak terima. Amukan disertai jerit tangisnya menggema seisi ruangan. Aih, memang waktu itu Kang Jebod ngomong apa, Teh?
“Katanya, anak lu belum kasih gue keturunan, sudah minta rumah. Enggak ingat apa dulu pas nikah yang paling besar ngeluarin biaya siapa,” begitu kata Enyeh meniru ucapan Jebod.
Seminggu kemudian, Enyeh meminta perceraian. Mereka pun berpisah untuk selamanya. Saat ini Enyeh sudah hidup bahagia dengan suami baru dan dianugerahi dua anak. (daru-zetizen/zee/dwi)










