Perjuangan Kelompok Penyanyi Jalanan (KPJ) Rangkasbitung menumbuhkan budaya literasi tidak mudah. Citra negatif anak jalanan dan persoalan keuangan menjadi tantangan dalam mendukung program gerakan membaca. Selama ini, KPJ hanya mengandalkan uang hasil mengamen (manggung) untuk membiayai kegiatan tersebut.
MASTUR – LEBAK
KPJ Rangkasbitung berdiri pada 26 Desember 1990. Tahun ini, KPJ genap berusia 28 tahun. Perjalanan panjang anak-anak jalanan yang bernaung dalam KPJ Rangkasbitung telah memberikan warna dalam kehidupan masyarakat. Kerasnya kehidupan jalanan tidak membuat mereka putus asa. KPJ Rangkasbitung justru mampu menunjukkan eksistensinya dengan karya nyata dalam bidang seni dan budaya. Bahkan, sejak tahun 2011, KPJ Rangkasbitung membuat Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Sumlor yang bermarkas di Kampung Sampay, Desa Sukarendah, Kecamatan Warunggunung.
TBM Sumlor digagas dan digawangi koordinator KPJ Rangkasbitung Ahmad Lugas Kusnadi bersama beberapa orang sesepuh aktivis jalanan. TBM tersebut awalnya difokuskan untuk meningkatkan minat baca anak-anak jalanan. Tapi, seiring berkembangnya waktu, TBM Sumlor kemudian mempelopori tumbuhnya taman bacaan masyarakat di berbagai pelosok Lebak. Hingga sekarang, sudah ada 20 TBM yang menjadi binaan TBM Sumlor yang tersebar di beberapa kecamatan di Kabupaten Lebak.
Tidak hanya itu, TBM Sumlor juga memiliki relawan literasi yang aktif melakukan gelar buku (perpustakaan keliling) ke kampung-kampung. Relawan literasi itu merupakan anak jalanan yang berjumlah kurang lebih 20 orang. Setiap Kamis dan Minggu, para relawan literasi berkunjung ke kampung-kampung. Dengan keuangan yang terbatas, TBM Sumlor tetap konsisten melakukan gelar buku bacaan. Uang dari hasil manggung, sewa sound system, jualan kaus kreatif, dan jualan handycraft digunakan untuk membiayai operasional perpustakaan keliling.
“Antusiasme anak-anak di pelosok Lebak membuat kami termotivasi untuk terus menggelar buku bacaan di kampung-kampung,” kata Ahmad Lugas Kusnadi kepada Radar Banten, kemarin.
Lelaki yang akrab disapa Ugas itu mengungkapkan, pada awal berdirinya KPJ Rangkasbitung, para pendiri telah menyediakan perpustakaan mini di saung KPJ Rangkasbitung di Jalan Bypass Soekarno-Hatta di Kampung Pasir Jati, Kecamatan Cibadak. Perpustakaan tersebut menjadi bahan bacaaan anak-anak jalanan. Setiap pulang mengamen, mereka istirahat di saung KPJ sambil menikmati buku bacaan yang jumlahnya terbatas.
“Keberadaan perpustakaan di saung KPJ hanya untuk memotivasi anak-anak jalanan agar rajin membaca,” paparnya.
Untuk itu, KPJ Rangkasbitung tidak hanya fokus dalam bidang seni dan budaya. Sekarang, KPJ ikut bertanggung jawab dalam mendukung program pembangunan di Bumi Multatuli. Untuk itu, mereka gerilya ke kampung-kampung untuk mengampanyekan gerakan membaca di daerah. Dengan membaca, masyarakat Lebak dapat membuka jendela dunia.
“Perjuangan kami dalam meningkatkan minat baca masyarakat kurang mendapatkan perhatian dari pemerintah. Kerja keras kami selama ini hanya mengandalkan uang yang dihimpun KPJ dari usaha yang halal. Enggak ada bantuan dari pemerintah sedikit pun,” ungkapnya.
Walaupun demikian, Ugas dan anak-anak jalanan yang menjadi relawan literasi tetap ikhlas dalam menumbuhkan budaya membaca di Lebak. Ke depan, Ugas ingin semua desa di Lebak memiliki satu taman bacaan. Kehadiran TBM di setiap desa akan meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) masyarakat Lebak.
“Harapan saya, ke depan Lebak menjadi maju dan sejahtera. Kami ingin menjadi bagian dari sejarah kemajuan Lebak di masa yang akan datang,” ujar suami dari Siti Mariani Sirait itu.
Menurut Ugas, anak-anak jalanan yang terdata sebagai anggota KPJ Rangkasbitung mencapai 270 orang. Mereka memiliki kartu tanda anggota (KTA) dan selalu mendapatkan pembinaan dari pengurus. Tiap malam Jumat, KPJ selalu menggelar pengajian untuk meningkatkan pemahaman anak-anak jalanan tentang ilmu agama. Jadi, mereka tidak hanya peduli terhadap budaya membaca masyarakat, tapi juga peduli terhadap kualitas anak jalanan yang beraktivitas di wilayah Kabupaten Lebak. “Anak-anak jalanan yang tidak memiliki pendidikan diikutsertakan dalam pendidikan non-formal,” jelasnya.
Mantan pengurus KPJ Rangkasbitung Aan Wiguna atau yang karib disapa Belek mengatakan, organisasi anak jalanan di Rangkasbitung punya peran strategis dalam meningkatkan minat baca masyarakat. Tumbuh suburnya TBM di Lebak menjadi bukti suksesnya kampanye gerakan literasi yang digagas anak-anak jalanan, khususnya yang tergabung dalam relawan literasi TBM Sumlor. Karenanya, ke depan Belek berharap anak-anak jalanan di Lebak dapat terus berkarya dan memberikan kontribusi terhadap pembangunan.
“Beberapa pekan lalu, koordinator KPJ Rangkasbitung menggelar konser tunggal dalam Festival Seni Multatuli (FSM) 2018. Hal itu merupakan bentuk apresiasi terhadap karya anak-anak jalanan dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan,” ujarnya. (*)









