Bukan kali pertama bagi Nur (38), nama samaran, memarahi suaminya, sebut saja Jojon (41), agar giat bekerja layaknya kepala rumah tangga pada umumnya. Namun, layaknya remaja tujuh belas tahun, bukannya sadar, Jojon malah asyik dengan hobinya bermain musik sambil nongkrong santai bersama kawan-kawan. Oalah.
Mungkin lantaran habis kesabaran, di usia Nur yang ke-34 tahun dan Jojon 37 tahun, rumah tangga mereka mengalami keributan hebat. Mertua dan tetangga yang melihat hanya bisa menonton sambil menyebar kejelekan mereka ke orang banyak.
“Waktu itu saya sih sudah enggak peduli orang mau ngomong apa tentang saya. Toh, mereka juga tahu, siapa penyebab keributan itu terjadi,” curhat Nur kepada Radar Banten.
Seperti diceritakan Nur, Jojon memiliki paras yang tak jauh berbeda dengan salah satu penyanyi asal Kota Kembang, yang digandrungi banyak wanita. Ya, sebelas dua belaslah sama Ariel Noah. Katanya, sejak remaja, Jojon seperti sudah kecanduan dengan segala hal berbau musik. Mulai dari pengoleksi alat musik, penampilan ala musisi dunia, gaya rambut, hingga aksesori yang dipakai, semuanya berbau musik.
Nur mengaku, awalnya ia juga tertarik dengan penampilan Jojon yang nyentrik. Lelaki yang dulu sering buat onar di sekolah itu mampu menarik perhatian kaum hawa. Dengan rambut lurus belah tengahnya, Jojon menjadi magnet bagi cewek-cewek remaja di kampungnya. Dulu, saking banyaknya wanita yang mengantre, Nur bahkan rela menjadi pacar Jojon yang kedua. Penampilan keren dengan pergaulan luas, membuat kehidupan Jojon selalu dikelilingi wanita cantik.
Di kehidupan yang serba kekurangan, Jojon lupa bahwa masa depan tidak selamanya dihadapi dengan berleha-leha. Hingga suatu hari, lantaran geram melihat kelakuan Jojon yang semakin hari semakin tak karuan, ia didesak ayahnya untuk segera menikah.
Dalam pikiran sang ayah, hanya dengan jalan itulah, harapan akan membaiknya perilaku Jojon bisa terwujud. Tidak ada hujan tidak ada badai, Jojon memilih Nur sebagai pasangan hidupnya. Entah mengapa, Nur pun tak bisa menjelaskan alasan Jojon memilih dirinya, padahal banyak perempuan lain yang lebih menarik dan cantik.
“Ya, namanya juga jodoh, Kang. Enggak lihat mana cantik mana jelek!” akunya. Ini Teh Nur kok mau sama Kang Jojon?
“Waktu itu dia janji mau berubah. Ditambah lagi dulu tuh sempat kerja ikut temannya. Ya sudah saya terima lamaran dia,” terang Nur.
Di awal masa pernikahan, Jojon termasuk suami yang bertanggung jawab. Meski masih tinggal satu atap bersama orangtua, ia selalu bisa mengambil hati ayah dan ibunya dengan sikap dewasa yang ia tunjukkan. Bersama Nur, ia membangun bahtera rumah tangga keluarga kecilnya. Mengetahui perubahan sikap Jojon yang perlahan mulai menemukan jati diri, tentu sang ayah turut berbahagia. Meski demikian, Jojon masih belum bisa hidup mandiri lantaran kerap meminta uang kepada ibunya di toko milik saudara. Lah kok?
“Ya, jadi ibunya tuh kerja jadi karyawan di toko punya saudara,” kata Nur. Aih-aih. Itu sih namanya mencuri.
Parahnya, Jojon sering diam-diam datang ke toko dan meminta uang. Hal semacam itu sudah sering terjadi. Meski hanya seratus sampai dua ratus ribu rupiah, namun Nur pun sadar, itu akan menjadi masalah besar jika dilakukan terus-menerus.
Mengetahui akan hal itu, sebagai istri tentu Nur tak bisa berbuat banyak. Bukan sekali-dua kali ia mengingatkan suaminya agar mencari pekerjaan yang lebih baik untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga, tapi lagi-lagi Jojon tak mau mendengarkan nasihat orang lain, termasuk istrinya sendiri. Tak tahan dengan kondisi perekonomian yang masih bergantung pada orangtua, Nur memarahi suaminya. Wah, ribut dong Teh?
“Kalau ribut mah sudah enggak kehitung, Kang. Kesel saya. Dia itu kesehariannya kurang produktif. Pagi sampai siang tidur, sore nonton televisi, malamnya sibuk main musik bersama kawan-kawan. Begitu terus setiap hari,” tukas Nur emosi.
Berbeda dengan keributan sebelumnya, kali ini Nur pulang ke rumah orangtua. Sedangkan Jojon masih menjalani kehidupannya seperti biasa. Jika sudah begini, lagi-lagi keluarga yang kena batunya. Tak mau menanggung malu atas konflik yang terjadi antara Jojon dan Nur. Akhirnya, sang ayah kembali menyatukan keluarga kecil Jojon dengan memberinya modal untuk membuka usaha. Jojon pun membujuk sang istri untuk pulang, dengan modal yang diberikan ayahnya, ia berjanji akan membuka usaha warung makanan di pasar.
Meski masih merintis, Nur tetap bahagia dan menuruti permintaan Jojon. Baginya, usaha sekecil apa pun yang dilakukan bersama merupakan awal dari sesuatu yang besar yang akan bermanfaat bagi masa depan keluarga.
Di warung yang berlokasi di pinggir jalan dekat pasar, mulai dipenuhi oleh makanan untuk dijajakan. Berbagai macam menu seperti ayam, telur dadar, pepes tahu, sayur dan lainnya, menjadi bagian dari perjuangan Jojon dan Nur dalam mengarungi bahtera rumah tangga.
Di awal usaha, Jojon rutin datang setiap pagi dan pulang sore. Usahanya itu berjalan sebagaimana pebisnis pada umumnya, terkadang ramai, terkadang juga sepi pembeli. Tiga bulan berjalan, Jojon mulai kehilangan gairah, ia jarang datang membantu sang istri. Akhirnya, Nur pun berjuang sendiri.
Hingga suatu hari, mungkin karena lapar, Jojon datang bersama teman-teman meminta makan. Nur yang saat itu sebenarnya masih kesal dengan suami, menjadi agak terhibur karena Jojon datang membawa pelanggan. Mengambil sendiri makanan yang tersaji, mereka tampak menikmati.
Sampai beberapa menit kemudian, saat makanan habis dilahap, Jojon bersama teman-temannya menghisap rokok sambil mengobrol tak jelas. Tak disangka, Nur yang menanti mereka membayar makanan dibuat melongo alias diam penuh tanda tanya, saat Jojon dan kawan-kawannya pergi begitu saja.
Diteriakilah sang suami bersama teman-temannya. Jojon pun tak terima karena malu kepada orang pasar. Parahnya, bukannya membantu dan menyakan apa yang sebenarnya terjadi, semua teman-teman Jojon kabur seolah tak punya dosa. Oalah.
“Saya enggak habis pikir sama dia. Sudah enggak ngebantuin masak, datang cuma makan sambil bawa teman dan enggak bayar. Kan emosi,” kata Nur.
Seminggu kemudian, seolah tak sanggup lagi menahan kesabaran menghadapi sang suami, Nur mengajukan perceraian. Mereka pun berpisah untuk selamanya.
Aih-aih, sabar ya Teh Nur. Semoga mendapat lelaki yang jauh lebih baik lagi. Amin. (daru-zetizen/zee/ira)








