Suka duka penjual cincin batu akik mulai dirasakan sejak masa tenar hiasan yang digunakan di jari itu tak lagi bersinar. Seolah cerita para pedagang batu akik kebanjiran order saat masa tenarnya itu kini cuma tinggal kenangan, para pedagang juga mengeluh lantaran pembeli yang lambat laun semakin menurun.
HAIRUL ALWAN – TANGERANG
KABAR cerita itu datang dari Hendra (22) seorang penjual batu akik yang ditemui wartawan koran ini di Jalan Kebonjahe, Sukarasa, Kecamatan Tangerang pada akhir pekan lalu. Ketika datang ke lapaknya, terlihat dirinya sedang melihat cincin batu akik yang ia jual. Nampak sepintas raut wajah bosan menunggu pelanggan datang ke lapaknya yang berada di pinggir jalan itu.
Di atas meja dengan ukuran sekira 2×2 meter, barang dagangan Hendra digelar sambil sesekali keluar lontaran kata untuk sekadar memberi isyarat kepada pejalan kaki agar mampir ke lapaknya. ”Batu cincin, batu, batu bacan, kalimaya dan lainnya. Ayo mampir sini,” tuturnya sambil mengelap salah satu batu bacan yang dipegangnya.
Hendra mengaku, lapaknya mulai dibuka setiap harinya sekira pukul 15.00 WIB hingga pukul 22.00 WIB. ”Saya jual dari siang sampai malam saja. Ya alhamdulillah kalau lagi banyak yang beli. Tapi kalau nggak ada sedih banget,” katanya.
Keluh kesah mulai terlontar dari bibirnya yang kecil dan dahi penuh keringat diterpa panas matahari. Ia menuturkan, saat batu akik tenar dan banyak peminatnya ada sekira delapan lapak pedagang batu dan tiga lapak penyedia bahan batu yang berjualan di sekitar jalan ini. Namun, itu tinggal cerita, karena sepinya pembeli, lapak yang menjual bahan sudah tidak lagi jualan alias gulung tikar.
Hendra mengaku, waktu populer setiap hari bisa mendapat omzet sekitar Rp2 juta ketika batu akik sedang tenar-tenarnya. Namun, kini berbeda, penghasilan merosot maksimal perhari Rp300 ribu. ”Dulu saya mempekerjakan enam orang, dan itupun cincin yang dikerjakan tidak habis-habis, kalau sekarang cuma saya sendiri yang mengerjakan,” imbuhnya.
Saat ini, lanjut Hendra, batu yang masih eksis dan banyak diburu di kalangan pencinta batu yakni jenis pandan dan bacan. Mulai dari Pandan nanas, merah, hijau yang berasal dari Sumatera dan Aceh masih laku, tapi itupun harganya paling berkisar Rp80-100 ribu. ”Kalau dulu paling murah kita jual Rp200 ribu,” ujarnya. (*)










