Cimeng (44), nama samaran, mengaku cintanya terhadap sang istri, sebut saja Wiwi (41), tak pudar hanya karena masalah ekonomi. Katanya, jangankan dimusuhi mertua, tak disenangi orang sekampung pun, kasih sayangnya tak akan pernah sirna. Widih, lebay amat sih Kang.
Hingga suatu hari, di usia Cimeng 34 tahun dan Wiwi 31 tahun, peristiwa tak mengenakkan itu terjadi. Apa mau dikata, janji cinta dengan sejuta kata mesra yang telah diucapkan belasan tahun silam, seolah hilang entah ke mana. Cimeng kecewa, Wiwi terluka. Aih, kok gitu sih, Kang?
“Bagaimana ya Kang, saya juga bingung. Waktu itu situasinya memang serbasalah,” curhat Cimeng kepada Radar Banten.
Kalau dilihat dari penampilan fisik serta kecocokan, Cimeng dan Wiwi memang bak langit dan bumi. Berkulit hitam dan wajah tak terlalu tampan, Cimeng banyak dibicarakan orang. Dibilang lelaki beruntung dan segala bentuk ledekan lainnya. Hebatnya, ia tak pernah marah. Menganggap semua ocehan orang sebagai bahan hiburan, ia mensyukuri kenikmatan Tuhan. Widih.
“Ya, saya mah enggak peduli, mau orang ngomong apa pun yang penting enggak bikin istri sakit hati. Hidup mah dibawa santai saja,” ungkapnya bangga.
Dari cara mengobrol dan bersenda gurau, tampak jelas Cimeng memang termasuk tipe lelaki humoris. Murah senyum dan tak sungkan berbicara dengan orang baru, ia lelaki yang pandai bergaul. Tak heran ia memiliki banyak teman. Mudah diterima berbagai kalangan, Cimeng orang yang asyik diajak bicara.
Sementara Wiwi berdasarkan keterangan Cimeng, ia wanita spesial. Sewaktu SMA, kebetulan mereka teman satu kelas. Dari sekian banyak wanita, hanya Wiwi-lah yang jadi pusat perhatian. Bagaimana tidak, meski berpostur kecil, kecantikan wajah berpadu dengan putih kulitnya membuat siapa pun akan terpesona.
Hingga lulus sekolah, lantaran tak ada biaya, baik Cimeng maupun Wiwi tak melanjutkan kuliah. Mereka yang merupakan warga asli di salah satu kampung di kota baja memilih bekerja di perusahaan ternama menambah ekonomi keluarga. Cimeng dan Wiwi jadi kebanggaan orangtua.
Meski sama-sama sibuk bekerja, setiap kali ada waktu luang keduanya sering main ke rumah orangtua. Baik Cimeng maupun Wiwi, saling mengenal kedua keluarga masing-masing. Bercerita tentang latar belakang keluarga dan kondisi ekonomi, mereka menerima apa adanya.
Singkat cerita, lantaran banyak teman-teman mengakhiri masa lajang, Cimeng dan Wiwi pun sepakat menuju jenjang pernikahan. Mengikat janji sehidup semati, keduanya resmi menjadi sepasang suami istri. Ya, meski dengan pesta sederhana, hanya menyediakan makan dan hiburan dangdut biasa, mereka tampak bahagia.
Di awal pernikahan, Cimeng bersikap layaknya suami pada umumnya. Perhatian pada istri dan mertua, setiap tanggal muda, ia mengajak Wiwi dan ibunya makan di luar. Tak hanya itu, bahkan sampai dibelikan baju dan barang mewah lainnya. Hal itu membuat istri dan ibu mertuanya senang.
Pokoknya, demi kebahagian mereka, Cimeng rela melakukan apa pun. Efeknya, tentu ia bisa tinggal dengan nyaman. Dilayani penuh keistimewaan, Cimeng merasa hidupnya sempurna. Sampai berjalan dua tahun usia pernikahan, hadirlah anak pertama membuat rumah tangga mereka semakin berwarna.
Seiring berjalannya waktu, Cimeng dan sang istri memutuskan tinggal terpisah dari orangtua, mereka mencicil rumah sederhana. Sebulan dua bulan hingga setahun berlalu, semua tak ada kendala. Ekonomi rumah tangga lancar jaya. Namun, Cimeng yang bekerja sebagai karyawan habis kontrak masa kerja. Apalah daya, meski masih ada uang tabungan karena kekurangan, mertualah yang ikut membayar uang cicilan rumah.
Sejak saat itu Cimeng merasa hubungannya dengan keluarga istri semakin renggang. Beruntungnya, Wiwi bukan wanita perhitungan. Katanya, kalau urusan ekonomi, selama keluarga masih bisa menyanggupi, ia tak ada masalah. Yang terpenting suami terus berusaha. Widih, ini baru namanya istri salehah.
Hingga suatu hari, musibah datang tak terduga. Cimeng yang malam itu hendak pulang setelah keliling mencari pekerjaan, tampak letih mengendarai sepeda motor di jalan perkampungan. Suara jangkrik dan kodok sawah saling bersahutan, sesekali ia menguap menahan kantuk. Sampai di persimpangan jalan, sekumpulan warga yang asyik menongkrong di gardu menyapa.
Lantaran tak enak hati, Cimeng berhenti untuk menghargai sambil ikut nimbrung sekadar berbasa-basi. Ketika melirik ke dalam gardu, tampak beberapa orang asyik ketawa-ketiwi sambil memainkan kartu. Lembaran uang ratusan ribu rupiah tergeletak di hadapan mereka. Tak disangka, Cimeng diajak ikut bermain.
Lagi-lagi karena tak enak hati. Terlebih, Cimeng termasuk warga baru dan ingin cepat akrab dengan masyarakat, ia pun mengiyakan dan mengeluarkan tiga lembar uang ratusan ribu rupiah. Berbekal kemampuan main kartu hasil pergaulan saat remaja, ia langsung menang dan melanjutkan permainan.
Kartu pun dikocok. Lembaran uang terselip di antara kedua kakinya. Saat Cimeng mengambil kartu, terdengar suara segerombolan lelaki dewasa menggertak, gemuruh kaki yang berbenturan dengan lantai gardu terbuat dari papan balok menambah suasana riuh.
Cimeng bingung akan apa yang terjadi. Hingga dua lelaki berseragam cokelat lengkap dengan topi dan pistol di pinggang membekuknya, barulah Cimeng sadar kalau ia tengah berada dalam masalah. Bayang wajah istri dan anaknya berkelebat, tampak wajahnya pucat dan pasrah.
Saat itu menyebarlah image buruk tentang Cimeng dan keluarga sang istri. Omongan miring tentang mereka selalu terngiang di setiap obrolan ibu-ibu kampung. Sontak hal itu membuat Wiwi dan seluruh keluarga malu. Parahnya, mereka tak mau dan melarang Wiwi menjenguk Cimeng di sel.
Sontak keluarga Cimeng murka. Sebulan kemudian Cimeng bebas. Rumahnya kosong, ternyata sang istri tinggal di rumah orangtua, ketika dijemput, Cimeng seolah tak diterima. Mengamuklah ia, keluarga Wiwi pun tak terima. Keributan terjadi bak perang dunia kedua. Perceraian jadi solusi. Namun, setahun kemudian setelah Cimeng dapat pekerjaan, rumah tangga mereka kembali bersama. (daru-zetizen/zee/dwi)










