Kelompok budi daya jamur bermunculan seiring tingginya permintaan pasar. Kesempatan itu pula yang dimanfaatkan Arsa untuk membudidayakan jamur tiram karena dinilai menjanjikan dan bisa menjadi potensi daerah.
Siang itu, Rabu (24/1), cuaca di wilayah Kecamatan Gunungsari, Kabupaten Serang, cukup bersahabat. Suasananya sejuk. Perjalanan terhenti di Desa Ciherang yang sohor dengan budi daya jamur tiramnya.
Radar Banten berkesempatan menjumpai Arsa, pria paruh baya pembudi daya jamur tiram di kediamannya. Diakui Arsa, sebelum terjun mengembangkan budi daya jamur tiram awalnya hanya coba-coba di lahan miliknya. Kemudian, jamur yang tumbuh di lahan budi dayanya rumbuh dan ia jual di pasar. Siapa yang menyangka kalau jamur yang dijualnya di pasar ternyata laku keras.
Arsa diketahui sebagai Ketua Kelompok Budi Daya Jamur Bunda Jaya Merdeka. Ia memimpin 20 anggota dari warga Desa Ciherang. Dalam sehari ia mampu menjual hingga enam kilogram jamur kepada tengkulak untuk dijual kembali ke Pasar Rau hingga Pasar Cilegon.
Harga satu kilogram jamur, di jual Arsa yang juga berprofesi sebagai guru SDN Gunungsari 3 itu seharga Rp10 ribu. Diakui Arsa, keterampilannya membudidayakan jamur didapat dari temannya di Rangkasbitung, Lebak. Arsa juga sampai saat ini masih membeli bibit jamur dari Rangkasbitung.
“Dalam sekali produksi, saya bersama kelompok bisa memproduksi sekira 600 beglog (wadah tempat berkembangnya jamur tiram-red),” ujarnya.
Sejumlah beglog yang ada di beranda rumahnya pun ia sulap menjadi tempat pembudidayaan jamur tiram. Proses budi daya jamur tiram yang dikembangkan Arsa relatif mudah. Bahan berupa serbuk gergaji dan bekatul diaduk dan diberi sedikit air terus direbus sebelum dikasih bibit jamur tiram. Setelah 40 hari masa pembenihan, jamur akan muncul dan siap petik. Satu beglog akan menghasilkan jamur hingga empat bulan lamanya. Tiap hari jamur yang sudah muncul diambil dari beglog. Sampai empat bulan jamur masih produktif.
“Saya pernah mencoba budi daya jamur merang atau kancing. Tapi pengolahannya terlalu ribet dan memerlukan lokasi khusus yang tertutup. Akhirnya enggak bertahan lama,” jelasnya.
Menurutnya, berbudi daya jamur tiram lebih menjanjikan dan perawatannya juga relatif sederhana. Kondisi itu memacu Arsa untuk terus mengembangkan bisnis yang belum lama dijalankan di rumahnya itu. “Bisnis ini (jamur tiram-red) menjanjikan, perawatannya juga sederhana. Penginnya sih terus diperbesar usahanya,” pungkasnya. (Riza Rinaldi)











