Perlu Tiga Hari Tembus NASA, KPU hanya Dua Jam
Tak ada yang membedakan Putra Aji Adhari, remaja 15 tahun, dengan remaja lainnya. Suka games dan betah di depan komputer. Kini, siswa Madrasah Tsanawiyah (MTs) Manbaul Khair, Kota Tangerang itu menjadi perbincangan publik.
HAIRUL ALWAN – CILEDUG
Remaja yang kini duduk di kelas VIII itu tinggal di RT 01 RW 07, Kelurahan Cipadu, Kecamatan Larangan, Kota Tangerang. Ia berhasil menembus sistem keamanan situs National Aeronautics and Space Administration (NASA) pada Januari 2018 dan menembus sistem keamanan situs KPU RI pada awal April 2019.
Lantaran orangtua Putra membuka warnet di bagian ruang tamu, ia tak asing dengan komputer. Selain bermain game online di komputer, remaja yang mengagumi pendiri Microsoft Bill Gates dan Mark Zuckerberg itu mencari tahu tentang kedua idolanya hingga menemukan artikel soal penetration testing (pentest) dari Google.
“Kalau Bill Gates dan Mark lebih membuat programnya, kalau aku tertarik pada pentest,” katanya kepada Radar Banten saat ditemui di kediamannya, Rabu (10/4).
Mulai tertarik pada pentest sejak kelas enam SD, Putra mengaku tertantang untuk mendalami. Menurutnya, orang yang mendalami pentest terbilang jarang dan lebih didominasi pemrograman developer. “Jadi, aku mencari bug (celah kelemahan di website-red), dari kelas enam SD saya sudah menembus keamanan ratusan situs perusahaan,” ungkap anak bungsu dari empat bersaudara itu.
Awalnya Putra hanya belajar dari Google. Lalu, ia menemukan komunitas Cyber White Head di Facebook. “Jadi kalau aku kebingungan bisa tanya-tanya di situ, itu anggotanya seluruh Indonesia. Member-nya ribuan, bahkan puluhan ribu,” tutur pria kelahiran 1 Februari 2004 itu.
Berbagai penghargaan sudah digondol remaja belasan tahun itu. Di antaranya sertifikat apresiasi dari Badan Siber dan Sandi Negara, sertifikat apresiasi dari Times Indonesia, Hukum Online.com, sertifikat dari Redtech, dan sertifikat dari Tokopedia.
Menurutnya, pengalaman paling menarik saat ia mencoba menemukan bug NASA pada tahun lalu. Ia mengaku memerlukan waktu tiga hari untuk masuk dalam situs NASA.
“Saat mencoba menembus keamanan NASA memang agak sulit, jadi butuh waktu yang lumayan lama,” ujarnya.
Untuk situs Komisi Pemilihan Umum (KPU) RI, Putra menganggap tidak terlalu sulit menembusnya. “Kalau KPU belum lama ini saya lakukan, awal April ini. Untuk waktunya, satu atau dua jam,” urainya.
Setelah menemukan bug yang bisa ditembus, Putra biasanya memberitahukan instansi ataupun perusahaan tentang kelemahan situsnya. “Kalau sudah ketemu bug-nya, aku buat laporan detailnya setelah itu dikirim ke mereka (perusahaan atau institusi-red),” ujarnya.
Berbagai situs telah ia cari celah kelemahannya, mulai dari perbankan, e-commerce, asuransi, dan berbagai lembaga lain. “Aku pernah diapresiasi sama BI (Bank Indonesia-red) karena menemukan celah kelemahan situsnya, dikasih hadiah juga uang tunai puluhan juta rupiah,” urai remaja yang sering memakai topi itu.
Semenjak Putra viral di berbagai media sosial, banyak perusahaan-perusahaan yang meminta untuk mencari kelemahan situsnya. “Sebelum viral juga sebetulnya sudah banyak yang minta tolong, sekarang lebih banyak lagi,” tuturnya.
Saat ini, Putra sering menghabiskan waktu di depan komputer yang berada di ruang tengah rumahnya. Selepas pulang sekolah pukul 14.00 WIB, ia langsung asyik di depan komputer, tak jarang hingga larut malam masih asyik dengan komputernya yang dibeli dari hasil uang sunatnya.
“Kalau ada project kadang bisa 22.30 WIB. Kalau hari libur malah kadang sampai 24.00 WIB,” katanya.
Berbagai penghargaan dan beasiswa mulai berdatangan kepada Putra. Mulai dari beasiswa dari dibebaskan membayar SPP selama enam bulan hingga beasiswa universitas dari BI dan Cyber Polri.
“Dari BI dan Cyber Polri sudah menawarkan untuk pilih SMA dan kuliah di mana, nanti digratiskan biayanya,” kata Putra.
Putra mengaku bercita-cita ingin membuat perusahaan teknologi informasi. Ia mengaku akan mengambil kuliah di bidang IT untuk melatih kemampuannya.
Sementara itu, ibunda Putra, Sa’anah (50) mengaku, awalnya khawatir dengan hobi anaknya yang suka menembus keamanan situs perusahaan.
“Saya selalu ingatkan kepada Putra, kalau cari kelemahannya situs perusahaan nanti kasih tahu perusahaannya untuk menolong agar tidak bisa di-hack,” katanya.
Ia bersyukur akan bakat anaknya yang terbilang langka itu. Namun, ia terus mengingatkan anaknya agar selalu taat beribadah. “Awalnya saya kaget karena saya kan tidak tahu apa-apa soal komputer, tapi kalau sekarang banyak yang minta tolong saya jadi senang. Bahkan, ada beberapa yang mengontrak Putra untuk menemukan celah kelemahan websitenya,” ujarnya. (*)









