Ketika Ramadan, apa yang paling dicari? Ya, menu berbuka puasa. Berbeda dengan sajian makanan di bulan biasa, menu makanan untuk berbuka puasa di bulan Ramadan lebih istimewa dengan cita rasa yang menarik dan beragam.
Banten memiliki banyak kekhasan kuliner yang dijumpai saat Ramadan. Pada bulan suci ini berbagai makanan khas tradisional bermunculan. Bukan hanya kolak, makanan khas lain seperti ketan bintul di Serang, apem cimanuk, dan balok di Pandeglang, serta bubur lemu di Cilegon menjadi favorit.
Di Cilegon, setiap Ramadan makanan yang paling dicari di antaranya bubur lemu. Dalam bahasa Cilegon kata ‘lemu’ berati gemuk karena secara penampilan bubur ini seperti gelambir perut. Selain banyak dijual, juga banyak yang membuatnya di rumah karena sangat mudah diolah.
Bubur ini terbuat dari tepung beras yang diberi kuah dari gula merah. Masing-masing daerah di Cilegon ada penambahannya, seperti cendil. Biasanya disantap dengan menambahkan es batu agar lebih segar. Bubur ini biasanya dijual dari Rp5.000-Rp10.000. Untuk mendapatkannya bisa dicari di daerah Grogol, mulai pukul 16.00 WIB.
“Sebenarnya hampir sama dengan bubur sumsum, hanya saja namanya berbeda dan terbuat dari tepung beras. Untuk membuat bubur lemu dibutuhkan bahan-bahan seperti tepung beras, santan, daun pandan, dan untuk membuat kuahnya bisa menggunakan gula merah, gula pasir, air, dan daun pandan,” ujar Uwak Diyah, wanita berusia sekira 60 tahun yang tinggal di Desa Tegalwangi, Kecamatan Grogol, Cilegon.

Sementara di Kota Serang, sebagai ibukota Provinsi Banten, beragam makanan khas bisa didapat di berbagai pusat takjil. Misalnya yang selalu menjadi primadona adalah ketan bintul di Pasar Lama, Kota Serang. Lebih dari satu lapak yang menjual ketan bertabur parutan kelapa yang disangrai dan ditabur di atas ketan sebagai topping ini.
Dijual dengan kisaran harga Rp15.000, satu bungkus ketan bintul berisi sepuluh potong. Harga ini masih termasuk murah, karena melihat dari bahan baku dan proses pembuatannya yang cukup panjang.
Ketan bintul bisa juga ditemukan di pusat kuliner takjil Masjid Agung Ats-Tsauroh Kota Serang. Di sini selain ketan bintul, jajanan tradisional khas Kota Serang lain seperti kue cincin, bontot, kue cucur, bacang, otak-otak bakar dan otak-otak goreng, serta kue cuer juga tersedia.
“Ketan bintul tidak hanya dijual saat mau berbuka puasa saja, tapi kita jualannya dari pukul 08.00 WIB hingga waktu berbuka. Di sini juga menyediakan ketan bintul dengan potongan daging, kalau pakai daging harganya Rp35 ribu,” tutur Ibu Edi, salah satu penjual ketan bintul di Pasar Lama, Kota Serang.
Sementara di Menes dan Labuan, balok menes paling dirindukan. Biasanya di Labuan, balok bisa ditemui di pasar atau di pedagang keliling. Menurut Madu Lestari, wanita yang tinggal Labuan, Pandeglang, karena balok itu berasal dari Menes, jadi di Labuan jarang yang menjual.

“Labuan lebih identik dengan khas makanannya itu otak-otak dan bubur sop,” tukas Top 20 Zetizen Icon Radar Banten 2018 yang baru saja menikah beberapa hari sebelum Ramadan itu.
Apem cimanuk, Pandeglang, juga termasuk yang paling dicari saat Ramadan. Sepanjang Jalan Batubantar, banyak sekali para wanita dan anak-anak berdiri di pinggir jalan menjajakan makanan ini.
Para pedagang apem cimanuk ini, menurut Halimatussa’adiyah, wanita asal Batubantar, Pandeglang, yang juga Top 10 Alpha Zetizen Banten 2017 itu mudah banget ditemui, apalagi kalau bulan puasa. Apem ini bisa didapatkan di sekitar jalanan Batubantar. Mulai pukul 10.00 WIB, banyak orang yang menjajakan apem ini di pinggir jalan.
Menurut lulusan SMAN 1 Pandeglang itu, yang bikin khas dari apem cimanuk adalah dari cara pengemasannya. “Dibungkus pakai daun pisang dan kesan tradisionalnya dapat banget. Apem cimanuk itu kurang lengkap kalau enggak ada gula merah atau sirup,” tukasnya.
Bukan hanya di Pandeglang yang beragam kulinernya, daerah lain di Banten seperti Rangkasbitung juga memiliki beragam kuliner menarik. “Kalau di Rangkasbitung itu terkenal dengan kuliner mie teklie. Makanan itu bisa didapatkan di Jalan Sunan Kalijaga,” jelas Nazwa Mubyn Fadillah, lulusan SMPN 2 Rangkasbitung yang juga Top 24 Zetizen Icon Radar Banten 2019 itu.
Sementara di Kota Tangerang tempat paling banyak menjual takjil dan menu berbuka puasa berada di Pasar Lama Tangerang dan sepanjang pinggir Sungai Cisadane. Theresia Vannya, siswi SMKN 2 Kota Tangerang, bilang, di daerahnya, banyak takjil tersedia seperti kolak, es buah, gorengan, dan biji salak. Bahkan, menurut Zetizen Icon Berbakat Radar Banten 2019 itu, ada juga pacar cina dan klepon, kue ijo-ijo yang disiram kuah gula jawa, bubur sumsum, juga asinan tersedia menggugah selera.
Di Kabupaten Tangerang tidak kalah unik. Saraah Haderizqi menyebutkan beberapa makanan khas Kabupaten Tangerang. Mahasiswi Untirta itu bilang, laksa menjadi makanan khas Kabupaten Tangerang. “Laksa ini mi pakai kuah kacang ijo, minya besar-besar. Selain laksa ada juga khas daerah sini namanya nasi jagal, ini yang lebih cocok untuk menu berbuka puasa,” tutur pemenang kompetisi menulis cerpen Zetizen Radar Banten itu. Saraah bilang, juga ada nasi jagal, yakni nasi yang memakai daging sapi dan diberi kecap. Pusat makanan takjil saat Ramadan, kata Saarah, ada di daerah Pintu Air 10. Sementara laksa pusatnya ada di taman laksa, tak jauh dari TC Mall. Tempat-tempat ini seperti tempat lain, biasanya ramai mulai pukul 16.00 WIB. (Hilal/Zetizen)









