Malang betul nasib Tuti (30), nama samaran, mempunyai suami yang terbiasa hidup dimanja orangtua, sebut saja Rudi (31), Tuti merasa tersiksa dalam rumah tangga. Untuk menafkahi Tuti, suami hanya mengandalkan bantuan orangtua tanpa mau bekerja. Kondisi itu memaksa Tuti menjadi tulang punggung keluarga bekerja demi memenuhi kebutuhan sehari-hari. Yassalam.
“Memang sih semua kebutuhan terpenuhi. Tapi, kalau hasil minta dari orangtua, saya mah enggak bangga, malah malu,” tukas Tuti yang ditemui Radar Banten di kawasan Pondok Cilegon Indah.
Tuti siang itu sedang mengantar makanan ke rumah tetangga. Tuti lalu menanggapi kedatangan wartawan yang menanyakan alamat kantor desa. Sambil menunjukkan alamat yang dituju, Tuti mengajak wartawan mengobrol. Ujung-ujungnya curcor seputar pengalaman pahitnya berumah tangga bersama Rudi. Diceritakan Tuti, pertemuannya dengan Rudi saat diajak orangtuanya berkunjung ke rumah kerabat dekat. Ternyata, tujuan dari silaturahmi ialah menjodohkannya dengan Rudi yang diketahui anak dari kerabat ayahnya. “Dia (Rudi) orangnya cuek banget pas ketemu. Pas kita sudah jadian, enggak pernah nolak disuruh antar ke mana-mana juga,” kenangnya.
Kehidupan Rudi di rumahnya bak seorang raja. Mau apa saja tinggal tunjuk sana tunjuk sini dengan sedikit kata. Seiring berjalannya waktu, nasib Rudi berubah setelah ayahnya meninggal karena sakit. sejak itu, kehidupan ekonomi pria bertubuh kurus hitam manis itu mulai terpuruk. “Tiga bulan setelah perkenalan saya dan Rudi, bapaknya meninggal. Kalau masih ada bapaknya, dia manja banget karena banyak duit,” ujarnya. Enggak pantas amat cowok manja Mbak!
Diketahui, ayahnya Rudi merupakan pemilik usaha dagang pakaian di pasar. Kehidupan keluarga Rudi lebih dari cukup. Bahkan terkesan mewah dulunya. Hidup bergelimang harta, Rudi dan saudaranya pun terlena dan jadi doyan hura-hura dan foya-foya. Rudi anak ketiga dari empat bersaudara. Dari nafkah ayahnya itu pula, Rudi dan saudaranya tinggal di rumah bertingkat. Masing-masing difasilitasi kendaraan roda dua dan roda empat. Uang jajan yang diberikan orangtua juga tak pernah kurang. Lantaran itu, dulu Rudi selalu menganggap enteng semua urusan. Lain dengan Tuti yang berasal dari keluarga sederhana. Ayah Tuti hanya anak buah ayahnya Rudi. “Padahal keluarga Rudi pernah dibantu kita. Mereka pinjam uang ke kita buat modal usaha. Enggak nyangka sampai bisa sukses,” ucap Tuti yang memiliki paras cantik, kulit putih, dan tubuh ideal itu.
Maka tak heran Rudi menerima perjodohan itu meski Tuti berasal dari keluarga sederhana. Soalnya Tuti di kampungnya cukup dikenal menjadi incaran banyak pria. Sampai akhirnya mereka lulus kuliah, kedua keluarga sepakat menikahkan keduanya karena merasa dua-duanya sudah menyukai satu sama lain. Berkat harta warisan orangtua, Rudi pun meminang Tuti dan menggelar pesta meriah. “Warisannya banyak, tanah dan sawah di mana-mana,” ungkapnya. Banyak amat ampe dimana-mana!
Mengawali rumah tangga, keduanya selalu menunjukkan kemesraan di depan tetangga dan berjalan harmonis. Semua kebutuhan Tuti selalu bisa dipenuhi Rudi, termasuk rumah. Awalnya Tuti menikmati keseharian bersama suami. Sampai akhirnya ia mendengar omongan tak sedap tentang rumah tangganya bersama Rudi. “Banyak tetangga pada gunjing. Katanya saya cuma manfaatin warisanlah, cuma cari untung doanglah, kan kesal,” keluhnya. Biarin aja enggak usah didengar Mbak.
Tuti mencoba mengabaikan ocehan tetangga dan fokus mengurus suami dan rumah barunya. Tiga bulan pertama hubungan mereka masih harmonis. Sampai berjalan enam bulan, Tuti mulai bosan melihat tingkah suami yang banyak menghabiskan waktu di rumah.
“Lagi-lagi saya diomongin orang karena suami enggak kerja. Kan yang lain pagi-pagi berangkat kerja. Ini malah tidur sampai siang,” kesalnya. Sembur aja Mbak.
Menyadari hal itu, Tuti mulai sering menegur suaminya dan mendorongnya untuk bekerja. Namun, nasihat Tuti enggak pernah didengar. Kondisi itu pun membuat hubungan keduanya mulai merenggang. Di rumah sudah tidak ada lagi tegur sapa dan keharmonisan. Setiap ada keperluan, Rudi selalu meminta uang ke ibunya. Padahal adik-adiknya masih sekolah dan butuh biaya. “Setelah menikah saya baru tahu kalau dia manja banget,” sesalnya. Ke Mbak manja juga enggak?
Sampai setahun kemudian, Tuti mengandung anak pertama. Namun, kabar baik itu tak membuat sikap Rudi berubah. Merasa kesal, kesekian kalinya Tuti mendesak Rudi agar bekerja untuk menutupi kebutuhan rumah tangga. Bukannya termotivasi, yang ada Rudi malah balik emosi dan balik menyuruh supaya Tuti yang bekerja. “Masa perut saya lagi buncit, dia seenaknya nyuruh saya kerja sambil ngebentak,” kesalnya. Wah, enggak tahu diri nih suami.
Merasa tak kuat dengan perlakuan suami, Tuti akhirnya memilih pulang ke rumah orangtua sampai proses kehamilan. Rudi dan Tuti pisah ranjang selama dua tahun. Tak lama kemudian ekonomi keluarga Rudi bangkrut. Sejak itu, Rudi mulai mencari nafkah hasil menjual rumah dan pindah ke rumah sedarhana. “Alhamdulillah sekarang dia sudah jadi suami pekerja keras dan sayang keluarga,” ucapnya. Syukur deh Mbak, semoga langgeng ya. Amin. (mg06/zai/ags)









