ANYAR – Salah satu lulusan terbaik SMA Pesantren Unggulan (PU) Al Bayan Anyer ramai diperbincangan warganet, setelah videonya saat diwawancarai Panglima TNI Jenderal Hadi Tjahjanto dalam bahasa Prancis tersebar di berbagai grup WhatsApp dan kanal youtube. Enzo Zens Ellie, yatim asal Prancis yang supel dan berprestasi.
Mengunjungi pesantren tempat Enzo menimba ilmu dan berlatih fisik selama tiga tahun di Pondok Pesantren Unggulan (PU) Al Bayan di Jalan Raya Anyer-Cinangka pada Kamis (8/8) pagi, Radar Banten disambut Kepala Sekolah Ponpes Al Bayan, Deden Ramdani.
Cerita tentang Enzo, salah satu siswa terbaik di pesantren itu pun berlangsung. Enzo menghabiskan masa kecilnya di Prancis, ia dibawa pulang ke Indonesia oleh ibunya setelah ayahnya meninggal pada tahun 2012. Di Indonesia ia hidup bersama ibunya ketika ia berada di jenjang SMP dan selanjutnya mengikuti pendidikan menengah di SMA PU Al Bayan Anyer dari tahun 2016-2019.
Bukan hal mudah bagi Enzo beradaptasi dengan lingkungan barunya di Indonesia. Terbiasa berbahasa Ingris dan Prancis, Enzo kesulitan saat berkomunikasi dalam hal bahasa Indonesia dengan teman-teman dan guru di Pesantren. “Tak hanya itu, Enzo juga kesulitan saat pelajaran bahasa dan sastra Indonesia,” Kata Deden.
Terlebih ketika ada tugas untuk mendongeng atau menulis cerita, Enzo tidak bisa mengikuti pelajaran dengan baik. Lantaran itu, akhirnya pihak sekolah memberikan jam pelajaran bahasa Indonesia tambahan untuk Enzo. “Kami tugaskan guru bahasa Indonesia mendatangi Enzo ke kamarnya untuk private bahasa Indonesia,” ungkapnya.
Setelah sekira setahun mempelajari bahasa Indonesia, Enzo yang terkenal supel dan sopan itu menjadi idola sekolah karena prestasinya di bidang olahraga seperti renang dan lari. “Dia juara renang 2017 O2SN dan meraih medali emas Persatuan Atletik Seluruh Indonesia (PASI) juara lari sprint di tingkat Kabupaten 2018,” katanya.
Kemudian pada kelas XI atau 2 SMA, Enzo mengatakan cita-citanya kepada kepala sekolah bahwa ia ingin masuk Akmil anggota Tentara Nasional Indonesia (TNI), pihak sekolah pun menyambut baik kemauan Enzo dengan memberikan pelatih fisik khusus Eksber, guru olahraga. Sejak itu Enzo berlatih fisik satu minggu tiga kali selama satu jam tiga puluh menit, yakni pukul 16.30 WIB sampai 17.30 WIB dengan syarat Enzo wajib mengikuti jamaah salat Magrib. “Enzo pun mampu memegang komitmennya salat jamaah,” ujarnya.
Buah dari kerja kerasnya berlatih fisik pun menuai keberhasilan dengan lolos masuk Akademi Militer (Akmil) TNI di Magelang. Namun, kesuksesan Enzo sempat menuai kontroversi lantarnya adanya isu terpapar aliran radikalisme saat Enzo memegang bendera berlafadz Laa Illa Ha Illallah.
Hal itu dibantah pihak pesantren Al Bayan, Anyer. Pihak Pesantren meyakinkan jika Enzo sama sekali tidak terpapar radikalisme karena kegiatan di sekolah sangat padat seperti mengaji, tahajud, bahkan, untuk memegang ponsel pun mendapat kontrol ketat. “Kami jamin Enzo bersih dari aliran terlarang itu,” tegasnya. (Haidar)










