CILEGON – Puluhan siswa SMPN 1 Cilegon mengalami kesurupan massal, Senin (2/9). Para siswa ada yang pingsan, menangis, berteriak, hingga mengamuk.
Informasi yang dihimpun, insiden itu berawal adanya enam siswa yang pingsan saat upacara bendera. Pihak sekolah mengira keenam siswa tersebut pingsan hanya karena gangguan kesehatan akibat asam lambung naik akibat tidak sarapan. Usai apel, pihak sekolah melanjutkan kegiatan belajar mengajar (KBM) seperti biasa.
Namun, saat melakukan KBM, sejumlah siswa mulai tidak sadarkan diri. Banyak di antara mereka tiba-tiba menangis, berteriak tidak jelas, hingga mengamuk. Menyadari ada yang tidak beres dan mengantisipasi makin banyaknya siswa yang kesurupan, pihak sekolah mengambil langkah menghentikan KBM.
Salah satu siswa SMPN 1 Cilegon, Aini menyatakan, lebih dari 30 siswa mengalami kesurupan. “Teman-teman lagi proses belajar dan salah satu kelas sedang melakukan tadarus di musala, sebagian tidak sadarkan diri. Bahkan, hampir seluruh kelas dari kelas VII, VIII dan IX mengalami kesurupan,” kata Aini, kepada wartawan, Senin (2/9).
Menurut Aini, sebelum kesurupan, teman-temannya banyak yang tiba-tiba menangis. “Nyebar ada di semua kelas. Di atas (kelas di lantai dua -red) ada. Kemudian ada yang di musala, ada di UKS (unit kesehatan sekolah), dan di ruang BK (bimbingan kesiswaan). Memang pertamanya itu upacara dan awalnya ada enam orang,” katanya.
Aini menyatakan, dengan kejadian tersebut pihak sekolah langsung menghubungi orangtua siswa untuk menjemput anaknya pulang. Terlebih, banyak siswa yang ketakutan dengan kejadian tersebut. “Kejadian kesurupan sebelumnya juga sudah pernah,” imbuhnya.
Hal sama juga diungkapkan Widya, siswa SMPN 1 lainnya. Awalnya dia heran banyak teman di kelasnya yang tidak sadarkan diri. Mulanya hanya menangis dan beberapa menit kemudian mengamuk. “Ada yang mengaku nona Belanda, ada juga yang teriak-teriak masalah nasionalis seperti sedang perang. Kami juga tadi ketakutan ngeliatnya,” ujarnya.
Sebelumnya, kata Widya, saat Perkemahan Jumat-Sabtu (Perjumsa) tepatnya Sabtu (31/8) malam ada kurang lebih dari lima siswa yang mengalami kesurupan. “Namun, itu hanya sedikit saja,” paparnya.
Sementara itu, salah satu orangtua siswa SMPN 1 Cilegon, Ebet mengaku, menerima kabar kejadian kesurupan pada pukul 08.00 WIB. Pihak sekolah menghubungi agar menjemput anaknya. “Awalnya hanya belasan saja yang kesurupan, pihak sekolah bertindak cepat dengan memanggil (menghubungi-red) dan menyuruh membawa pulang anak-anak,” paparnya.
Sementara itu, Kepala Sekolah SMPN 1 Cilegon Rullyanto malah menutupi adanya kabar kesurupan massal tersebut. Dia hanya menjelaskan bahwa ada sejumlah siswa yang mengalami pingsan karena kepanasan dan mengalami asam lambung karena sedang puasa sunah Senin.
Terkait dipulangkannya para siswa, Rullyanto berkilah khawatir siswa lainnya histeris melihat temannya pingsan. “Kami hanya khawatir melihat ini (siswa pingsan-red). Akhirnya dipulangkan, sebab ada salah satu siswa yang pingsan sambil mengeluarkan darah dari hidung,” ungkapnya.
Meski begitu, pihaknya tidak membantah jika pihak sekolah juga memanggil orang pintar untuk melakukan antisipasi. Sebab, area sekolahnya merupakan bekas penjara pada zaman kolonial Belanda. “Ustaz saja sekitar sini (dipanggil-red). Namanya juga di sini bekas penjara Belanja, jadi antisipasi saja,” imbuhnya. (brp-ibm/ira)










