TANGERANG – Warga miskin cukup menjadi perhatian Sukron Ma’mun. Untuk membantunya, Kepala Desa Babat, Kecamatan Legok, itu menumbuhkan jiwa sosial warganya yang memiliki rezeki lebih. Hasilnya, saat ini, ada 17 kepala keluarga yang tidak lagi menempati rumah tak layak huni (RTLH).
Program bedah rumah swadaya masyarakat ini, menurut Sukron, terbangun karena Pemerintah Desa Babat tak memiliki anggaran untuk membantu warganya yang miskin. Penggunaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa (APBDes) Babat, masih difokuskan pada pembangunan fisik, pemberdayaan masyarakat, dan pertanian.
Jiwa sosial, menurut Sukron, tak hanya ditunjukkan oleh warga menengah ke atas yang tinggal tak jauh dari tetangganya yang miskin. Pemilik toko material bangunan dan toko kayu di Babat juga ambil peran, ikut menyukseskan program bedah rumah secara swadaya itu.
”Sampai sekarang, sudah 17 rumah yang kami bedah. Dananya dari swadaya masyarakat aja. Kayak toko material, toko kayu. Bantuan dana juga ada dari masyarakat yang berekonomi menengah ke atas. Masing-masing rumah menghabiskan sekira Rp25 juta,” jelas Sukron kepada Tim Saba Desa Radar Banten di Kantor Desa Babat, Jalan Raya Panongan, Senin (25/3).
Kepedulian warga terhadap tetangganya yang miskin itu telah berlangsung sejak 2014. Selama hampir lima tahun, program bedah rumah secara swadaya ini baru menyasar 17 unit rumah. Kata Sukron, hal itu lantaran bantuan dari warga juga tidak bisa terkumpul sekaligus.
”Jadi bertahap. Ada berapa uang yang terkumpul (dari warga-red), dibelanjain untuk betulin bagian rumah warga yang perlu diperbaiki. Satu rumah itu tidak sekaligus. Bertahap juga betulinnya,” ungkapnya.
Kepedulian terhadap warga yang tinggal di RTLH, tak lepas dari peran Sukron. Sebagai pemimpin Desa Babat, ia memberikan contoh. Awalnya, tahun 2014, Sukron merogoh kocek pribadinya untuk membeli beberapa bahan material bangunan. Sasarannya waktu itu, hanya satu rumah yang hampir roboh. Pemiliknya, Aska.
Lantaran uang pribadi Sukron tak cukup, ia menggalang dana dari warganya yang mampu. Bergantian warga menyumbangkan sebagian hartanya untuk membantu Sukron membedah rumah Aska. Niat Sukron kesampaian.
”Rumahnya bisa rampung (dibedah seluruhnya-red) pada tahun 2014. Sekarang, rumahnya sudah enggak bocor. Nyaman untuk tidur. Dulu, hampir roboh,” tutur Yayah, istri Aska.

BIDANG PERTANIAN
Soal pembangunan bidang pertanian, Kepala Desa Babat Sukron Ma’mun menuturkan, lantaran mayoritas warganya adalah petani. Padi menjadi sumber utama penghasilan warga Babat.
Di desa seluas 399 hektare ini, 150 hektare di antaranya sawah. Sejak Desa Babat berdiri, luas lahan pertanian itu tidak berkurang hingga sekarang.
Sukron ingin, perekonomian petani di desanya meningkat. Dana Desa dialokasikan untuk pengadaan peralatan pertanian dan peralatan penunjangnya. Hingga 2018, Pemerintah Desa Babat telah memberikan bantuan tiga unit traktor tangan, lima unit mesin pemotong rumput, dan empat pompa air. Bantuan ini telah diserahkan kepada empat kelompok tani di Kampung Babat dan Kampung Cakung.
”Untuk traktor, baru tiga kelompok tani yang dapat (bantuan-red). Ketuanya, Haji Saep, Haji Ma’tum, dan Rahasan. Satu alat pemotong rumput masih disimpan di kantor desa untuk kepentingan bersama,” ujar Sukron. ”Sampai 2018, pertanian di sini (Desa Babat-red) sudah sedikit berkembang. Sekarang, petani enggak begitu kesulitan mengolah lahan mereka. Supaya enggak kesulitan air, kita (Pemerintah Desa Babat-red) juga kasih mesin diesel air,” sambung kepala desa berkacamata tersebut.
Pertanian menjadi salah satu potensi ekonomi masyarakat di Babat. Empat potensi lainnya, disebutkan, produksi ikan pindang, kaligrafi bambu, peternakan, industrial.
Pembuatan ikan pindang di Kampung Babat, RT 002, RW 001, dikelola oleh Muslih dan keluarganya. Industri rumahan selama 21 tahun ini berlangsung secara turun-temurun. Pendirinya adalah almarhum H. Emad. Saat ini, Muslih mampu mengentaskan beberapa pengangguran di Desa Babat. Ada delapan orang yang kini ikut memasarkan ikan pindang.
Sementara, kaligrafi bambu diproduksi oleh Ustaz Dede Kuswara. Industri kreatif ini didirikannya sejak 2012 lalu. Hanya saja, kata Dede, usaha kecilnya terkendala di pemasaran. ”Dulu, sempat dilirik sama Bagian Promosi dari Dinas Koperasi dan UMKM Kabupaten Tangerang. Itu tahun 2015. Tapi, sampai sekarang, belum ada kabar lagi,” pungkasnya. (pem/rb/sub)










