Tiga Lainnya Pakai Biaya Sendiri
SERANG – Sepuluh mahasiswa asal Banten yang berada di Kota Wuxi, China, telah dipulangkan secara bertahap mulai kemarin (3/2).
Menurut Gubernur Banten Wahidin Halim, Pemprov Banten membantu para mahasiswa yang tertahan di Kota Wuxi, China, dengan membelikan tiket pesawat agar mereka dapat pulang ke Banten. Namun, pemulangan mereka tetap harus sesuai dengan prosedur yang berlaku.
Pernyataan tersebut ditegaskan oleh Kepala Dinkes Provinsi Banten dr Ati Pramudji Astuti. Ia mengatakan, dari sepuluh mahasiswa yang ada, tiga orang di antaranya sudah pulang dengan biaya sendiri. Mereka merupakan warga Kota Serang dua orang dan Kabupaten Serang satu orang. Sementara, tujuh mahasiswa lainnya dibantu Gubernur untuk pulang. “Tiga orang dari Kota Serang, dua dari Kabupaten Serang, satu dari Kota Tangsel, dan satu dari Kabupaten Tangerang,” ujarnya.
Kata dia, pemulangan mereka ke Tanah Air tentu harus sesuai dengan prosedur Kementerian Kesehatan. Misalnya, screening yang didampingi petugas Dinkes Provinsi Banten.
“Dilakukan pemeriksaan berupa thermoscan personal maupun massal. Juga dilakukan penyelidikan epidemiologi. Ketika suhu badannya di atas atau sama dengan 38 derajat Celcius, mereka akan dibawa oleh KKP ke RSPI Jakarta,” tuturnya.
Apabila suhu tubuhnya di bawah 38 derajat Celcius, maka yang bersangkutan akan diserahkan ke Dinkes Provinsi Banten. Selanjutnya, akan kembali dilakukan screening kedua oleh Dinkes berupa pemeriksaan lanjutan, yakni fisik, laboratorium, dan radiologi.
“Itu kita bawa ke RSUD Kabupaten Tangerang. Kalau tetap sehat berdasarkan tiga hasil pemeriksaan tersebut, kami akan pulangkan ke rumah masing-masing. Selama kurun waktu 14 hari mereka diperiksa di puskesmas sampai benar-benar masa inkubasi mereka terlihat aman. Kontak dengan orang serumah kita lakukan surveilans epidemiologi,” terang Ati.
Kata dia, 115 RS di Banten siap menangani virus corona. Lantaran posisi warga baru datang dari China di bandara maka dilakukan pemeriksaan di RSUD Kabupaten Tangerang.
“Sesuai protap yang ada. Jadi, tidak bisa langsung ketemu keluarga,” ujarnya.
Seperti diketahui, sebanyak sepuluh mahasiswa asal Provinsi Banten yang sedang menempuh pendidikan di Changzhou Institute of Mechatronic Technology meminta kepada pemerintah untuk segera mengevakuasi mereka. Sebab, virus corona saat ini sudah mulai menyerang warga yang berada di sekitar asrama mereka di Kota Wuxi, Provinsi Jiangsu, China.
Kesepuluh mahasiswa tersebut, yakni Rifani, Fadel Ramadhan, Herawati, Rio Priyanto, Kristi Prihartini Dewi (asal Kota Serang), Syah Abriyatna, Royadin, Muhammad Pajar (asal Kabupaten Serang). Soelthan Andhara Kelvin (asal Kabupaten Tangerang), Kenny Eliezer Jaya (asal Kota Tangerang Selatan).
ORANGTUA KHAWATIR
Sementara itu, keluarga Rifani, khawatir akan nasib anaknya yang kini masih berada di Kota Wuxi, Provinsi Jiangsu, China. Rifani merupakan mahasiswa jurusan Manajemen Informatika di School of International Education of Wuxi Institute of Technology China Kota Wuxi, Provinsi Jiangsu, melalui program beasiswa.
“Kita keluarga khawatir, Rifani berada di sana bersama rekan-rekannya. Kami risi, orangtua mana yang tidak risi mendengar anak berada di negara lain. Dalam kondisi makanan, transportasi, dan lingkungan terbatas,” ujar Nila, ibu kandung Rifani, saat berbincang bersama Radar Banten di kediamannya, Senin (3/2).
Nila mengaku, sejak dua minggu terakhir sulit berkomunikasi dengan anaknya. Kata dia, ia pun bingung lantaran semua akses terbatas. Terlebih, saat anaknya bercerita virus corona sampai ke lingkungan kampus tempat anaknya kuliah.
“Dia bercerita lewat telepon kalau korban (virus corona-red) sampai ke daerah sekitar kampus. Ada yang meninggal. Sejak itulah, Wuxi jadi kota mati, makanan, transportasi, susah,” terangnya.
Rasa khawatir pun mulai hilang saat pihak keluarga mendapatkan kabar akan kepulangan Rifan. Berdasarkan informasi yang diperoleh dari pihak Pemkot Serang, anaknya kini sudah memiliki tiket pulang ke Indonesia. “Saya juga dapat kabar dari Rifan (sejam lalu-red) besok (hari ini-red) Rifani akan berangkat pulang ke Indonesia. Soal teknisnya saya tidak tahu,” katanya.
“Saya dan kelurga berharap, mudah-mudahan (Rifani-red) tidak ada kekurangan apa pun, kondisi sehat walafiat jangan sampai terjangkit virus corona. Kalau bisa disterilisasi,” sambung Nila.
Kekhawatiran yang sama dirasakan keluarga Syah Abriyatna, salah satu mahasiswa asal Kabupaten Serang yang terisolasi di China, yang merasa cemas dengan kondisi anaknya di sana. Syah Abriyatna terus berkomunikasi dengan pihak keluarga meminta untuk segera dipulangkan ke Tanah Air.
Syah Abriyatna atau yang akrab disapa Nana merupakan warga Kampung Panimbang, Desa Pancanegara, Kecamatan Pabuaran, Kabupaten Serang. Nana tinggal bersama kakek dan neneknya di Desa Pancanegara. Ia merupakan salah satu mahasiswa di Kampus Piksi Input di Kecamatan Kramatwatu yang sedang magang di salah satu perguruan tinggi di China.
Arlisah, nenek Nana mengatakan, Nana berangkat ke China sekira dua bulan yang lalu. Keberangkatan Nana ke China untuk mengikuti program magang selama satu tahun. “Berangkatnya katanya sama dosennya juga, ada juga teman-temannya tapi bukan orang sini,” katanya kepada Radar Banten, ditemui di kediamannya di Desa Pancanegara.
Sejak adanya informasi virus corona di Wuhan, ia merasa khawatir terhadap kondisi cucunya itu. Meskipun Nana tidak tinggal di Kota Wuhan. “Tapi, katanya virus itu sudah menyebar, sampai-sampai di depan kampus juga ada yang kena,” ujarnya.
Nana terus berkomunikasi dengan pihak keluarga saat virus corona mewabah. Kepada keluarga, Nana menceritakan kondisinya di China. Ia dan rekan-rekannya tidak bisa keluar penginapan karena kondisinya yang sedang genting.
“Di sana enggak bisa ke luar, kampusnya juga sudah ditutup,” terangnya.
Kemudian, Nana dan teman-temannya juga sudah mulai kekurangan stok makanan. Setiap harinya, mereka hanya mengandalkan makanan mi instan dan telur. “Paling juga katanya makan cokelat, kalau sebelumnya kan ada yang katering, sekarang sudah enggak ada,” kata Arlisah.
Meskipun kondisi cucunya di China baik-baik saja, Arlisah mengaku merasa cemas. Ia menginginkan cucunya segera pulang ke Tanah Air. “Setiap hari saya ngelamun terus, gimana cucu saya di sana, kalau yang lain kan katanya udah pada dipulangin, kok cucu saya belum saja,” ucapnya.
Sekretaris Desa Pancanegara Ade Wahyu yang juga mendampingi Radar Banten ke rumah keluarga Nana mencoba menenangkan keluarga Nana. Ia juga berharap pemerintah daerah dan pemerintah pusat untuk segera membantu pemulangan warganya itu. “Kami berharap warga kami dapat pulang dengan selamat ke kampung halaman, bertemu dengan keluarganya lagi,” katanya.
Sementara, ibu dari Siti Rahayu (56) merasa lega setelah mendapat kabar anaknya, Dista Wahyu Prasetyo, ikut dalam rombongan evakuasi dari Wuhan, China, ke Natuna, Indonesia. Kabar tersebut, ia dapat pada Minggu (2/2) bahwa sudah datang ke Indonesia.
“Alhamdulillah baik, sehat katanya. Kemarin sempat telepon, katanya ibu enggak usah khawatir, aku sehat,” katanya menirukan ucapan anaknya itu.
Dista Wahyu Prasetyo merupakan mahasiswa yang studi di Wuhan, di luar sepuluh mahasiswa yang sedang kuliah di Kota Wuxi.
Rahayu menerangkan, telepon yang digunakan saat itu bukan milik Dista. Karena, telepon anaknya itu, kata Rahayu, juga ikut diisolasi. “Dari kemarin magrib sampai sekarang belum ada kabar lagi. Tapi, sudah lega dibandingkan hari-hari kemarin,” terangnya kepada wartawan di temui di kediamannya di Kampung Blok Sawo, Desa Curugwetan, Kecamatan Curug, Kabupaten Tangerang, Senin (3/2).
Sebelumnya, Rahayu kebingungan mencari informasi ke siapa untuk memastikan kondisi anaknya tersebut. Ia kemudian mengandalkan informasi dari berita di televisi.
“Awalnya biasa saja karena awal-awal disebut cuma China saja, tapi kemudian ramai Wuhan. Baru mulai panik karena anak saya di sana. Mondar-mandir depan televisi. Sampai ada teman yang kirimin foto lagi proses evakuasi. Meskipun gambarnya enggak jelas, firasat saya anakku ada di sana dan sedikit lega,” ceritanya.
Lebih lanjut, Rahayu menjelaskan, anak satu-satunya itu berada di Wuhan, China, mendapat beasiswa dari kampus untuk berkuliah di Wuhan University of Technology selama satu tahun. Dista yang berstatus sebagai mahasiswa di Universitas Mercubuwana itu dijadwalkan pulang seharusnya Juli 2020 nanti.
“Tetapi karena kondisi di Wuhan sudah seperti kota mati karena virus corona, semuanya dievakuasi, pulang dulu ke Indonesia. Kalau sudah benar-benar aman, mungkin akan balik lagi ke sana,” tutur Rahayu.
Kini, dirinya pasrah dan menyerahkan semuanya kepada pemerintah. Karantina selama 14 hari pun tidak disoal, demi keselamatan bersama terhindar dari virus corona. “Udah lega, enggak punya pikiran apa-apa lagi. Percayain ke pemerintah,” jelasnya.
Sementara itu, salah satu warga Pagedangan, Kabupaten Tangerang, yang berada di China, Soeltan Andhara Kelvin belum dapat dihubungi. Pesan yang dikirimkan melalui akun instagramnya pun belum dibalas sejak kemarin pagi. (nna-fdr-jek-mg04/air/ira)









