SERANG – Geger virus corona membuat penutup mulut dan hidung atau masker hilang di pasaran. Sejumlah apotek di Kota Serang, Lebak, dan Tangerang tidak lagi menjual masker lantaran kesulitan mendapatkan pasokan barang.
Pantauan Radar Banten di Kota Serang, sejumlah apotek memasang kertas bertuliskan “Masker Kosong” di bagian depan etalase obat. Ada juga yang memasang pemberitahuan di depan pintu masuk apotek. Pemasangan ini menegaskan bahwa apotek tidak menyediakan masker.
Apotek Gama, yang berada di jalan masuk Rumah Sakit Dradjat Prawiranegara (RSDP) Serang, termasuk apotek yang kehabisan stok masker. Ayuni, karyawan Apotek Gama, mengatakan, terjadi peningkatan penjualan masker sejak geger penyebaran virus corona. “Masker sudah satu bulan stoknya enggak ada. Makanya kami pasang pemberitahuan,” ujarnya saat berbincang dengan Radar Banten, Selasa (3/3).
Kata dia, ada satu warga yang membeli masker dalam jumlah besar dengan membeli satu karton dengan isi 40 boks. Tiap boks berisi 50 buah masker. “Mereka belinya per karton. Alasannya macam-macam. Ada buat bantuan, dijual lagi, dan digunakan sendiri,” katanya.
Kata Ayunni, biasanya menjual masker jenis alfamed dan sensi. “Sekarang sudah kosong. Biasanya yang beli itu paling banyak lima sampai 10 orang. Pas kejadian corona menjadi melonjak,” sambung Ayuni.
Sementara itu, pemilik Apotek Al-Madani, Bambang Hendi mengaku apotek miliknya tidak lagi memiliki stok masker. Pria yang akrab disapa Hendi itu mengaku bingung menentukan harga jual walaupun ada barangnya. “Sudah susah. Kalaupun ada, harganya pasti mahal. Biasanya harga Rp20 ribu sampai Rp30 ribu. Sekarang bisa mencapai Rp75 ribu. Itu merek standar,” katanya.
Menurutnya, harga jual masker bermerek bisa menembus Rp350 ribu per boks. “Warga sudah kesulitan mendapatkan masker,” pungkasnya.
Begitu pun di Rangkasbitung, Kabupaten Lebak, masker juga sudah sulit ditemukan. “Stok masker di Apotek Agara Medika habis, karena sejak sebulan lalu masyarakat banyak yang membeli masker setelah mewabahnya virus corona,” kata Disti Dwipratiwi, karyawan di Apotik Agara Medika.
Setelah pemerintah mengumumkan dua warga Indonesia terinfeksi corona, masyarakat Lebak tambah banyak yang datang untuk membeli masker. Namun, barang yang mereka cari sudah tidak tersedia dan dirinya menyarankan untuk membeli di ritel modern atau apotek yang lain.
“Saya hanya menyarankan kepada calon pembeli untuk mencari ke toko atau apotek yang lain. Karena mereka waswas dengan virus tersebut. Apalagi telah memakan banyak korban jiwa,” imbuhnya.
Terpisah, Fariz Abdullah, warga Rangkasbitung mengatakan, sejak diumumkan warga Indonesia terinfeksi virus corona langsung mendatangi beberapa toko untuk membeli masker. Namun sayang, di toko modern sudah tidak tersedia barang tersebut, termasuk di apotek-apotek di wilayah Lebak. “Saya udah cari (masker) sejak Senin (2/3) malam, tapi stok di toko maupun apotek udah enggak ada,” ujarnya.
Selain masker, hand sanitizer (pencuci tangan) juga sudah langka. Warga yang berburu pencuci tangan itu sudah tidak lagi menemukan di ritel-ritel. “Saya sudah mendatangi lima ritel yang berbeda, semuanya sudah tidak lagi menjual hand sanitizer karena sudah habis,” ujar Lia, salah satu warga Serang.
Kata Lia, keluarganya sangat khawatir dengan penyebaran virus corona yang sudah masuk ke Indonesia. “Katanya, harus rajin mencuci tangan, namun saat mau mencari hand sanitizer malah sudah habis,” pungkasnya. (fdr-tur/alt/ags)








