Ibarat pepatah lama ‘Habis Manis Sepah Dibuang’ kisah rumah tangga Boah (45) nama samaran sangat mengenaskan. Hanya karena usianya lebih tua delapan tahun dari sang suami, sebut saja Boim (37), Boah yang tampak keriput di bagian wajah dan tak memiliki tubuh sekencang saat masa muda, harus rela diduakan Boim. Rumah tangga pun hancur berantakan. Yassalam.
Ditemui Radar Banten di Kecamatan Mancak, Minggu (1/8) siang, Boah yang siang itu tampak bersantai di teras rumah, hanya mengenakan kaos tidur dan kain batik dilipat hingga dada. Meski tampak tak muda lagi, namun Boah masih sangat menggoda. Penasaran dengan kisah Boah? Yuk simak ceritanya.
Ialah Boim, mantan suami Boah yang dulu disanjung dan dicinta setuluh hati. Maklumlah, Boim memang maco. Rambut klimis dengan hidung mancung dan penampilan rapi, membuat wanita akan mudah jatuh cinta padanya. Begitu pula dengan Boah, perempuan yang memiliki sifat keibu-ibuan dengan bentuk tubuh langsing itu tampak menarik. Terlebih, Boah dianugerahi kulit putih bersih dan rambut hitam sedikit bergelombang. Wah, siapa sih lelaki yang tak suka padanya?
Namun ternyata, keserasian Boim dan Boah tidak menjamin kesetiaan saat menjalani hubungan rumah tangga. Boah tak menyangka, Boim, lelaki yang selama ini dicinta malah mendua. Kejadiannya sekira belasan tahun lalu.
Boah mengenal Boim sebagai lelaki baik-baik dan pandai bergaul di masyarakat. Pokoknya, sesibuk apa pun Boim dengan pekerjaannya sebagai pegawai di pemerintahan, Boim tak pernah ketinggalan jika ada kegiatan masyarakat. “Wah dia mah orangnya hambel, setiap ada kegiatan kerja bakti, ronda, apa pun pasti ikutan. Padahal kerjaannya banyak,” kata Boah memuji sang mantan.
Karena sikapnya yang baik ditambah sosok Boim yang menarik, sebenarnya banyak wanita yang mengejar Boim makanya, Boah merasa beruntung bisa berumah tangga dengan Boim. Sudah baik, tampan, berondong pula.
Meski begitu, Boah mengaku, dahulu Boimlah yang mengejar-ngejar cinta darinya. Perjuangan Boim tak mudah untuk menjadi kekasih Boah. Selain karena perbedaan usia yang cukup jauh, katanya, saat itu Boah sudah punya pacar yang sudah sangat dekat dengan kedua orangtua. Ya istilahnya tinggal selangkah lagilah menunu tangga pelaminan.
Namun saat Boah dan Boim bertemu di jalan depan mushola, saat itu Boim tengah melaksanakan tugas kantornya mendatangi rumah kepala desa. Setelah lama bolak-balik namun tak ketemu, akhirnya berkat bantuan Boahlah tugas Boim selesai. Saat itu, Boim pun jatuh cinta pada pandang pertama. Ia pun menjadi sering datang ke kampung Boah untuk menemui wanita pujaan hatinya.
Pucuk dicinta ulam pun tiba, Boah yang tak kunjung mendapat kejelasan perihal hubungannya dengan sang kekasih, akhirnya lebih nyaman dengan sosok Boim yang humoris dan punya pekerjaan jelas. Akhirnya, tiga bulan menjalani masa pendekatan, Boim dan Boah pun jadian. Padahal saat itu status Boah belum putus dengan pacarnya. Aih, jahat amat sih Teh. “Ya gimana ya, Kang. Daripada dipaksa tapi enggak sreg, mending pilih yang pasti aja,” kilah Boah.
Kedekatan keduanya semakin lengket. Hingga suatu hari, pacar Boah memergoki. Terjadilah baku hantam antara Boim dan pacar Boah. Bagai drama cinta segitiga yang sering kita tonton di televisi, Boah membela Boim yang saat itu kalah telak lantaran ukuran tubuhnya lebih kecil dibanding pacar Boah. “Akhirnya saya ajak ke rumah tuh Kang Boim, orangtua jadi tahu siapa dia,” curhat Boah.
Hebatnya, seolah memang sudah ditakdirkan Tuhan untuk berjodoh. Kedua orangtua Boah langsung suka dengan sosok Boim. Tak butuh waktu lama, seminggu kemudian ketika Boim main ke rumah Boah, ia sudah akrab dan banyak mengobrol dengan ayah Boah. Ciyye, lah trus pacar Teh Boah gimana? “Ya dia mah sudah saya putusin dan alhamdulillah enggak gangguin saya lagi,” ungkapnya.
Enam bulan menjalani masa pacaran, Boim yang sudah bekerja dan tinggal di rumah kontrakan, akhirnya berhasil meminang Boah menuju tangga pelaminan. Mengikat janji sehidup semati, keduanya resmi menjadi sepasang suami-istri.
Mengawali rumah tangga, Boim mengajak Boah tinggal di rumah kontrakan. Namun Boah menolak dan meminta tinggal di rumah keluarganya. Boim pun menurut dan terpaksa hidup bersama keluarga sang istri. Wih, mentang-mentang lebih tua, jadi bisa ngatur suami ya, Teh?
“Ya enggak gitu, lagian kan lebih hemat tinggal sama keluarga. Daripada ngontrak mah mahal,” kata Boah.
Hebatnya, Boim tak pernah menyangkal setiap keputusan Boah. Selalu sabar dan penurut, keduanya tampak bahagia menjalani bahtera rumah tangga. Namun tidak untuk urusan ranjang, katanya, Boim cenderung mendominasi dan agresif terhadap sang istri. Hingga setahun kemudian, Boah pun melahirkan anak pertama, melengkapi kebahagiaan Boim dan keluarga. Hal itu memicu Boim dan Boah untuk bisa hidup mandiri dan mereka pun mengontrak rumah sederhana yang tak jauh dari rumah orangtua Boah.
Sejak saat itu, Boah dan Boim hidup rukun, bahu-membahu mengurus anak dan membina mahligai rumah tangga, berbaur dengan tetangga dan lingkungan sekitar. Rumah tangga mereka semakin mapan saat Boim diangkat menjadi Aparatur Sipil Negara (ASN) di tempatnya bekerja.
Seiring berjalannya hari, rumah tangga Boim dan Boah semakin berwarna dengan kehadiran anak kedua. Bahkan, lima tahun kemudian, Boim membangun rumah baru di atas tanah warisan orangtua. Semakin sempurna lah kehidupan Boim dan Boah. Dengan semua fasilitas yang ada, mereka sering menikmati liburan dengan jalan-jalan ke tempat wisata di luar kota. “Ya kita dulu harmonis dan bahagia, Kang. Enggak pernah nyangka kalau akhirnya bakal kayak gini,” kata Boah yang mulai mengusap matanya.
Boah bercerita, kejanggalan itu dimulai sejak kelahiran anak kedua. Ia mengaku bentuk tubuhnya memang mulai mengendur. Terlebih wajahnya menjadi tampak lebih tua. Padahal, Boah bisa dibilang termasuk wanita yang rajin membeli produk kecantikan. Namun tetap saja usia tak bisa dibohongi. Hal itu berbeda dengan Boim yang masih tampak segar dan muda.
Jadilah Boim mulai malas-malasan ketika diajak bersenggama. Bahkan tak jarang Boim menolak dan memilih tidur. “Waktu itu saya bingung harus bagaimana. Semua produk kecantikan saya beli, belum lagi pakaian-pakaian seksi khusus buat dipakai di rumah juga saya beli, tapi Kang Boim tetep cuek,” aku Boah.
Ternyata eh ternyata, saat Boah memeriksa ponsel suaminya, ada satu kontak dengan nama istriku, ternyata itu wanita lain. Boah kaget, saat ditelepon, ternyata wanita itu mengaku istri Boim. “Saya langsung minta ketemuan, ternyata dia enggak tahu kalau Boim sudah punya istri,” katanya.
Saat itu juga Boah minta cerai, Boim tanpa rasa penyesalan langsung menyetujui dan mengurusnya. Mereka pun resmi bercerai, sekarang Boah masih sendiri, sedangkan Boim sudah bahagia dengan istri simpanannya.
Ya ampun, sabar ya Teh. (drp/alt)










