Al Khairiyah terbuka akan perbedaan pandangan mazhab dalam keagamaan. “Al-Khairiyah tidak perlu lagi gaduh mempersoalkan tahlil tidak tahlil, boleh ziarah atau tidak boleh ziarah, atau jenggot tidak jenggot dan celana cingkrang atau tidak cingkrang, di Al Khairiyah yang mau pakai satunya boleh, yang mau pakai jubahan boleh, yang mau pakai celana panjang atau levis boleh yang penting menyesuaikan diri secara etika dan akhlak,” ujarnya
Mumu menilai, diskrimasi pendapat pandangan dan debat soal-soal yang tidak produktif hanya akan membuang energi termasuk perdebatan soal Islam Nusantara, Islam Arab, serta Islam Modern tidak menarik karena yang menarik bagi Al-Khairiyah terus berbuat kebaikan yang dapat memberikan manfaat bagi umat.
Secara umum, pasca muktamar, sebagai ketua terpilih Mumu akan segera melaksanakan amanat-amanat yang telah menjadi keputusan utamanya menyusun struktur Pengurus Besar Al Khairiyah periode 2021 – 2026.












