Selain 10 mahasiswa asal Banten, ada sekira 150 mahasiswa asal Indonesia tinggal di mes tersebut. Usai gempa, mereka harus menghadapi cuaca ekstrem berupa cuaca dingin dengan suhu minus tujuh derajat.
Kondisi itu sangat menyiksa mahasiswa mengingat perlengkapan yang mereka miliki saat ini sangat terbatas.
“Kondisi saat ini, suhu derajat minus tujuh sangat dingin sekali, di dalam mes juga ala kadarnya. makanan sudah terpenuhi sedikit,” ujar Fajar.
Menurut Fajar, saat ini ia dan mahasiswa lainnya sangat membutuhkan pakaian hangat untuk bisa bertahan dari dinginnya cuaca.
Hal senada disampaikan oleh Torik. Selain kurangnya pakaian hangat dan sepatu, mereka harus menerima fasilitas mes yang sangat terbatas.
Bangunan mes menurut Torik cukup untuk menampung 150 siswa, namun sebagian mahasiswa harus tidur di lantai hanya dengan beralaskan karpet karena keterbatasan kasur.











