PANDEGLANG,RADARBANTEN.CO.ID – Lebaran Idul Fitri 1 Syawal 1444 Hijriyah yang ditunggu-tunggu oleh umat Islam telah tiba setelah satu bulan lamanya menjalankan ibadah puasa Ramadan. Gema takbir berkumandang di setiap penjuru sebagai tanda merayakan hari Kemenangan.
Adapun Idul fitri berasal dari dua kata “id” dan “al-fitri”. Id secara bahasa berasal dari kata aada – ya’uudu, yang artinya kembali.
Hari raya disebut ‘id karena hari raya terjadi secara berulang-ulang, dimeriahkan setiap tahun, pada waktu yang sama.
Sementara kata fitri berarti suci, bersih dari segala dosa, kesalahan, kejelekan, keburukan.
Menurut warga Kecamatan Baros, Ustadz Dayat, makna Idul Fitri dapat dijabarkan dengan hari raya kemenangan.
“Dimana umat muslim merayakannya dengan digambarkan sebagai kembalinya seseorang kepada keadaan suci. Atau juga keterbebasan dari segala dosa, kesalahan, kejelekan, dan keburukan sehingga berada dalam kesucian atau fitrah,” katanya.
Pada hari raya Idul Fitri, diungkapkan Ustadz Dayat, Allah SWT mensyariatkan shalat Id yang merupakan suatu keistimewaan bagi umat Muhammad SAW. Ibadah shalat Id belum pernah ada pada umat sebelumnya.
“Shalat Id pertama kali dilakukan oleh Rasulullah pada tahun ke-2 Hijriyah. Shalat Id disunahkan untuk dilaksanakan secara berjamaah kerena lebih afdhal kecuali bagi orang-orang yang sedang melaksanakan ibadah haji,” katanya.
Menjalankan ibadah Shalat Id sebanyak dua rakaat yang diawali takbiratul ihram dengan niat shalat Idul Fitri. Niat shalat Idul Fitri bagi imam, Ushalli sunnatan li ‘idil fithri rak ‘ataini imaman lillahi ta’alaa dan untuk makmum Ushalli sunnatan li ‘idil fithri rak ‘ataini makmuuman lillahi ta’ala.
“Kemudian dilanjutkan dengan takbir sebanyak 7 kali di mana di antara dua takbir dibaca tahlil, takbir dan tahmid seperti subhanallah, walhamdulillah, wa lailaha illahu wallahu akbar, dibolehkan juga menambah bacaan lain, yaitu la haula wa la quwwata illa billahi al-aliyyi al-azhimi. Takbir sunat dibaca secara jihar, termasuk untuk makmum, sedangkan zikir sunat dibaca secara sir,” katanya.
Selanjutnya, membaca ta’awwuz dan al-Fatihah. Pada rakaat kedua disunatkan takbir sebanyak lima kali sebelum membaca al-Fatihah.
“Bagi makmum disunatkan mengikuti jumlah takbir imam. Semua takbir ini disunatkan untuk melakukannya sambil mengangkat kedua tangan dan hukum takbir ini sama dengan sunat hai’at yang lain yang makruh bila ditinggalkan,” katanya.
Reporter : Purnama Irawan
Editor: Abdul Rozak












