SERANG, RADARBANTEN.CO.ID – Fraksi Partai NasDem DPRD Banten menyetujui rencana Pemerintah Provinsi (Pemprov) Banten membeli mobil listrik guna mengatasi polusi udara.
Namun, Fraksi NasDem mengingatkan, pengadaan mobil listrik untuk kendaraan dinas pejabat Pemprov Banten itu harus menyesuaikan ketersediaan anggaran. Jangan dipaksakan.
“Iya kita setuju, karena sebagai langkah contoh untuk masyarakat agar membeli mobil listrik. Saya yakin ini bisa jadi percontohan yang baik karena pemimpin di Pemprov Banten saja sudah menggunakan kendaraan ramah lingkungan,” ujar anggota DPRD Banten Fraksi NasDem, Ali Nurdin, Sabtu, 2 September 2023.
Ali mengatakan, pengadaan mobil listrik bisa dilakukan untuk satu atau dua unit terlebih dahulu saja. Hal itu dilakukan agar program-program yang bersentuhan langsung kepada masyarakat tidak terganggu.
“Kita berpikir kalau satu dua unit dulu karena kalau semua kendaraan yang menggunakan bahan bakar diganti semua, yang ada kita khawatir program-program yang pro rakyat seperti pengembangan ekonomi untuk rakyat terhambat,” ucapnya.
“Jangan sampai pejabat naik mobil listrik, rakyat di bawah teriak lapar. Itu kita tidak ingin,” sambungnya.
Dia juga mengatakan bahwa salah satu langkah yang dapat digunakan oleh Pemprov Banten dengan menggunakan kendaraan listrik yang harganya lebih terjangkau.
Ali Nurdin menyebutkan bahwa saat ini mobil listrik masih terkendala dengan harga yang tinggi. Menurutnya, perlu ada upaya untuk membuat mobil listrik dengan harga yang lebih terjangkau.
“Salah satunya adalah mobil listrik yang murah, itu bisa mencapai misalkan 500 kilo belum ada, jadi harga mobil listrik yang Rp 300 juta aja,” katanya.
Mobil listrik juga, tuturnya, perlu ada sarana tambahan seperti tempat mengisi ulang.
Hal itu perlu ditingkatkan agar tersedia pada beberapa lokasi yang ada. Jangan sampai mobil listrik yang digadang-gadang nol emisi nyatanya terkendala pada fasilitas daya pengisian ulang listrik.
“Fasilitas-fasilitas charger-nya itu belum memadai. Minimal jarak tempuh itu adalah 1.000 kilo kemudian kalau dibagi jam kuat untuk 24 jam,” tuturnya.
“Jangan sampai lagi jalan tiba-tiba berhenti kan baterainya habis teknologi itu harus kemudian dikembangkan,” tutupnya. (*)
Reporter : Yusuf Permana
Editor: Agus Priwandono

