TANGSEL, RADARBANTEN.CO.ID – Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah menggelar pengajian Ramadhan di gedung Cendekia Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ), Ciputat, Kota Tangsel, Kamis 6 Maret 2025.
Hadir dalam acara tersebut hadir Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti, Menteri Agraria dan Tata Ruang Nusron Wahid, Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan dan Menteri Kelautan dan Perikanan Wahyu Sakti Trenggono.
Ketua PP Muhammadiyah, Haedar Nashir dalam pidatonya menekankan kembali pandangan Muhammadiyah tentang Islam berkemajuan.
“Kenapa Muhammadiyah membahas itu? karena telah menjadi arus utama pemikiran ke-Islaman di Indonesia pada satu dekade, bahkan telah menjadi isu penting di level dunia, bagaimana banyak disuarakan berbagai forum internasional,” ujar Haedar.
Menurut Haedar, Islam berkemajuan yang dipelopori Muhammadiyah dan dideklarasikan di Bogor menekankan tujuh nilai utama Islam Wasatiyah, di antaranya Tawazun artinya seimbang dalam meraih dunia dan akhirat, I’tidal artinya adil dengan penuh tanggung jawab.
Lalu, Tasamuh artinya memahami dan menghormati perbedaan atau toleransi, Shura artinya musyawarah menyelesaikan masalah dan mengambil keputusan bersama-sama, Islah artinya memperbaharui perilaku untuk kebaikan bersama, Qudwah artinya menjadi teladan dan pelopor menciptakan kesejahteraan bersama serta Muwathanah artinya menerima NKRI.
“Kalau kita pergi kepada perangkat teologis paham keagamaan kita, Islam Wasatiyah telah menjadi konsep interaktif yang sangat jelas dan tegas dibahas dalam Surat Al-Qarah,” ujarnya.
Menurut Haedar, Muhammadiyah tidak anti terhadap dunia, bahkan Muhammadiyah cinta dunia dan cinta pula akhirat. Menurutnya, seperti yang disampaikan Aisyah, istri Nabi Muhammad ketika ditanya sahabat Nabi tentang tiga hal yang dilakukan Nabi semasa hidup.
“Sahabat nabi bertanya apakah Nabi solat malam sampai tidak tidur? Apakah Nabi puasa sehari penuh? dan apakah Nabi tidak menikah? Lalu Aisyah menjawab, nabi Solat malam lalu tidur, Nabi puasa lalu makan dan Nabi menikah,” ujarnya.
Editor: Abdul Rozak












