LEBAK, RADARBANTEN.CO.ID- Fenomena olahraga lari belakangan ini tak hanya menjadi ajang menjaga kebugaran, tetapi juga menciptakan tren sosial di kalangan masyarakat urban. Istilah FOMO (Fear of Missing Out) kian melekat pada aktivitas lari banyak orang merasa “tertinggal” bila tak ikut meramaikan event lari yang digelar di kota-kota besar. Berbagai lomba lari yang semula eksklusif untuk pelari serius kini berubah menjadi pesta massa, dengan ribuan peserta dari berbagai latar belakang.
Dorongan FOMO tersebut dipicu oleh gempuran foto dan video pelari di media sosial. Setiap kali sebuah foto finis diunggah dengan senyum kemenangan dan medali di dada, muncul rasa ingin mencoba dan membuktikan diri. Tak jarang, calon pelari mendaftar hanya karena melihat teman atau selebritas kebugaran memamerkan t-shirt dan medali event sebelumnya. Akibatnya, jumlah tiket lomba lari terjual habis dalam hitungan jam, bahkan menit.
Dengan makin banyaknya peserta, panitia lomba lari juga berlomba memasarkan event dengan cara menarik perhatian medali eksklusif, medali glow in the dark, hingga finisher shirt edisi khusus. Semua itu dirancang untuk meningkatkan rasa “khasian” bagi pelari, agar foto-foto mereka di media sosial tampak lebih istimewa daripada lomba lain. Semakin estetis tema dan medali, semakin tinggi kemungkinan peserta memamerkannya di linimasa, dan itu semakin menularkan FOMO ke khalayak.
Di tengah kegilaan peserta mencari pengalaman unik dan ingin diabadikan secara profesional, muncullah peluang emas bagi fotografer olahraga. Fotografer lari kini bukan lagi sekadar hobi, melainkan profesi yang mampu mendatangkan pendapatan signifikan. Mereka dibutuhkan untuk menangkap momen krusial pelari melewati garis start, berlari di underpass, loncatan di jembatan gantung, hingga ekspresi lega saat mengangkat tangan melewati garis finish.
Model bisnis fotografer lari pun semakin variatif. Ada yang bekerja sama langsung dengan penyelenggara lomba, menerima honor tetap plus bonus per foto terjual. Ada pula yang berstatus freelance mereka menawari paket dokumentasi foto aksi, galeri momen, hingga cetak poster kepada pelari yang bersedia membayar. Harga satu paket foto eksklusif bisa berkisar dari puluhan hingga ratusan ribu rupiah, tergantung kualitas, kuantitas, dan reputasi fotografer.
Tidak hanya itu, sebagian besar fotografer lari juga memanfaatkan platform digital untuk memasarkan jasa. Mereka mengunggah hasil jepretan di Instagram, Facebook, Aplikasi Foto dan WhatsApp Group komunitas pelari. Semakin banyak foto yang menjadi viral atau dipuji karena sudut pengambilan unik, semakin besar peluang penjualan.
Beberapa event organizer bahkan menuntut fotografer untuk langsung mengunggah foto dalam waktu singkat, sehingga peserta bisa segera membagikan foto mereka sembari lomba masih berlangsung.
Namun, ladang cuan ini tidak luput dari tantangan. Dengan banyaknya fotografer yang berlomba mencari klien, persaingan semakin ketat. Kualitas foto, kecepatan pengolahan, hingga keahlian dalam memotret momen yang unik jadi faktor pembeda.
Dokumentasi foto tak sekadar kenang-kenangan, tetapi juga bagian dari identitas sosial. Foto finis dengan latar balon udara, panorama pegunungan, atau siluet di bawah pancaran lampu kota kerap dijadikan bukti pencapaian dan gaya hidup sehat.
Fenomena FOMO olahraga lari telah mengubah cara pelari dan fotografer berinteraksi. Bagi pelari, lomba bukan sekadar kompetisi kecepatan, tetapi ajang unjuk identitas digital. Bagi fotografer, setiap event menjadi kesempatan meraup keuntungan sekaligus membangun portofolio. Kolaborasi antara keduanya membentuk rantai ekonomi baru di dunia olahraga.
Reporter: Nurandi
Editor: Aditya












