Oleh : DR. KH. ENCEP SAFRUDIN MUHYI. MM., M.Sc, Pimpinan Pondok Pesantren Fathul Adzmi
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍۚ وَاتَّقُوا اللّٰهَۗ اِنَّ اللّٰهَ خَبِيْرٌ ۢ بِمَا تَعْمَلُوْنَ
Artinya : Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat). Bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan (Q.S. Al-Hasyr: 18).
Bulan Pertama Hijriah: Muharam
Bulan Muharam merupakan bulan pertama dalam kalender Hijriah dan dimaknai sebagai Tahun Baru Islam atau Tahun Baru Hijriyah oleh umat Muslim. Bulan ini termasuk salah satu bulan mulia selain Zulkaidah, Zulhijah, dan Rajab. Kemuliaan Muharram berkaitan erat dengan peristiwa hijrah Nabi Muhammad SAW dari Mekah ke Madinah pada 622 Masehi, yang kemudian menjadi awal mula penetapan 1 Muharam sebagai penanggalan Islam.
Muharam adalah bulan yang penuh keistimewaan dan mukjizat bagi umat Islam, terutama bagi mereka yang memohon ampunan kepada Allah SWT. Bulan ini dianggap mulia, khususnya pada Hari Asyura (10 Muharram), karena banyak peristiwa agung bagi para nabi yang terjadi di dalamnya.
Sebagai salah satu dari empat bulan suci yang ditetapkan oleh Allah SWT, Muharram memiliki makna yang mendalam. Nama “Muharram” sendiri berarti “terlarang”, merujuk pada larangan berperang di bulan ini. Oleh karena itu, umat Islam dianjurkan untuk meningkatkan ibadah selama bulan suci ini. Gelar Muharam sebagai “Bulan Allah” menjadikannya istimewa dan paling diberkahi dalam kalender Islam. Sejarah Muharram sangat panjang dan sarat akan makna keagamaan serta berbagai peristiwa penting yang membentuk perjalanan Islam.
Momentum Introspeksi Diri
Peringatan 1 Muharam merupakan momentum yang baik untuk introspeksi diri, mengevaluasi perbuatan, dan bertekad menjadi pribadi yang lebih baik di tahun mendatang. Introspeksi diri adalah proses berkelanjutan yang membutuhkan kesabaran dan ketekunan. Dengan melakukannya secara teratur, seseorang dapat mencapai pemahaman diri yang lebih mendalam, meningkatkan kualitas hidup, dan menjadi pribadi yang lebih baik, memahami kekuatan, kelemahan, nilai-nilai, dan keyakinan diri.
Bulan Muharam juga menjadi waktu yang tepat untuk memperkuat ikatan sosial dan komunitas. Di tengah individualisme modern, Muharam mengajak kita untuk lebih memperhatikan sesama, berbagi kebahagiaan, dan membantu mereka yang membutuhkan, sehingga tercipta solidaritas dan kebersamaan.
Selain itu, Muharam mengajarkan tentang hijrah, yang tidak hanya berarti perpindahan fisik, tetapi juga transformasi spiritual dan moral. Dalam konteks modern, hijrah dapat diartikan sebagai perubahan menuju kehidupan yang lebih baik, meninggalkan kebiasaan buruk, dan berusaha menjadi pribadi yang terus berkembang, namun tetap berpegang pada nilai-nilai keimanan dan kebaikan.
Sebagai bulan suci, Muharam adalah waktu yang tepat bagi umat Islam untuk meningkatkan amal ibadah, seperti sedekah jariyah, salat sunah, puasa, dan membaca Al-Qur’an. Umat Islam juga dapat merenungkan tahun yang telah berlalu dengan mengunjungi masjid, dan menghabiskan waktu bersama orang-orang terkasih.
Meskipun Muharam dirayakan sebagai awal Tahun Baru Islam dan kesempatan untuk mendekatkan diri kepada Allah, bulan ini juga menjadi waktu untuk mengenang dan bermuhasabah. Proses pemikiran dan refleksi ini penting untuk pertumbuhan pribadi, membantu seseorang membuat keputusan yang lebih baik, memperbaiki hubungan, dan meningkatkan kualitas hidup.
Rasulullah SAW memandang Muharam sebagai bulan yang utama setelah Ramadan. Karena kemuliaannya, umat Islam disunahkan untuk berpuasa pada Hari Asyura (10 Muharram). Muharram memiliki keutamaan karena dipilih oleh Allah SWT sebagai momen pengampunan dosa dan kesalahan umat Islam. Dengan memanfaatkan bulan ini secara optimal, umat Islam diharapkan dapat meraih kebahagiaan di dunia dan akhirat.
Setiap 1 Muharam, umat Muslim seluruh dunia memperingatinya sebagai Tahun Baru Islam. Peringatan ini adalah momentum bagi umat Muslim untuk bermuhasabah diri dan berhijrah menjadi pribadi yang lebih baik. Beberapa hal yang bisa dilakukan untuk memulai hijrah, yaitu: introspeksi diri, silaturahmi sesuai anjuran Nabi Muhammad, mengeluarkan sedekah, serta memperbanyak dan memperindah bacaan Al-Qur’an serta berusaha mengamalkan isinya.
Momentum Tahun Baru Islam mengajak kita untuk melakukan muhasabah diri dan meningkatkan keimanan serta ketakwaan. Ini adalah saat yang tepat untuk merefleksikan perjalanan di tahun sebelumnya dan berupaya menjadikan diri lebih baik, serta membawa optimisme baru dengan komitmen untuk lebih banyak berbuat kebaikan bagi keluarga, masyarakat, dan dalam beribadah kepada Allah SWT.
Peristiwa hijrah Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah menjadi contoh nyata tentang perubahan dan perbaikan diri. Muharam mengingatkan umat Islam untuk melakukan hijrah dari kebiasaan buruk menuju kebaikan, serta memperdalam keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT dengan memperbanyak ibadah.

Penulis: Pimpinan Pondok Pesantren Fathul Adzmi Cikedal Pandeglang / Penulis Buku Islam Dalam Transformasi Kehidupan & Buku Kepemimpinan Pendidikan Transformasional).












