TANGERANG SELATAN, RADARBANTEN.CO.ID – Di tengah persepsi publik bahwa dunia politik identik dengan ongkos tinggi dan praktik tertutup, sosok Ferdiansyah justru menghadirkan narasi yang berbeda. Politikus muda dari Partai Solidaritas Indonesia (PSI) ini membuktikan bahwa keterbukaan dan kepercayaan publik bisa diraih tanpa harus bergelimang modal.
Ferdiansyah pertama kali melangkah ke dunia politik pada Pemilu 2019, mencalonkan diri sebagai anggota DPRD Kota Tangerang Selatan dari daerah pemilihan Pamulang. Kala itu, modal kampanyenya hanya sekitar Rp10 juta—tanpa tim sukses, tanpa membayar saksi, bahkan hanya “menumpang” di baliho caleg PSI lainnya.
“Saya benar-benar mulai dari nol. Tidak ada saksi yang saya bayar, tidak ada tim sukses, dan saya nebeng di baliho teman-teman satu partai,” kenangnya, Jumat (18/7), saat ditemui usai peluncuran laporan kinerjanya.
Namun keterbatasan tak menghalangi langkahnya. Suara warga membawanya ke kursi legislatif. Keberhasilan ini bukan hanya soal efisiensi biaya, tapi juga cerminan kepercayaan yang dibangun lewat pendekatan langsung dan gaya politik yang bersih.
Ferdiansyah memposisikan dirinya sebagai wakil rakyat yang bisa diakses, diajak diskusi, dan dipantau kinerjanya. Sejak awal menjabat, ia menyusun laporan kerja bulanan dan tahunan secara rutin, yang diunggah secara terbuka di media sosial.
“Saya ingin warga tahu apa yang saya kerjakan. Tidak perlu menunggu lima tahun untuk menilai. Semua bisa diakses setiap bulan,” ujarnya.
Bagi Ferdi, transparansi bukan sekadar jargon. Ini adalah bagian dari etika politik baru yang ia coba bangun—politik yang bisa dipercaya karena dibuktikan, bukan dijanjikan.
Lima tahun berlalu, Ferdiansyah kembali maju di Pemilu 2024. Kali ini, ia sudah punya lebih banyak pengalaman dan struktur dukungan. Biaya kampanyenya pun meningkat, terutama untuk operasional saksi, logistik tim sukses, serta materi kampanye seperti baliho dan pamflet.
“Pos operasional paling besar menyedot anggaran. Tapi prinsip transparansi tetap saya jaga,” katanya.
Keterbukaan tetap menjadi nilai utama. Meski biaya meningkat, ia memastikan tak ada ruang gelap dalam pembiayaan kampanye atau pengelolaan kepercayaan masyarakat.
Kini, setelah berhasil duduk kembali untuk periode kedua, Ferdiansyah membawa lebih dari sekadar pengalaman. Ia membawa harapan bahwa politik bisa dijalankan dengan cara yang bersih, masuk akal, dan berpihak.
Di mata sebagian orang, ia mungkin hanya satu dari sekian banyak anggota dewan. Tapi bagi warga yang menyaksikan langsung cara bekerjanya, Ferdiansyah adalah bukti bahwa politik bisa dijalani dengan jujur, sederhana, dan bertanggung jawab.
Reporter: Syaiful Adha
Editor: Aas Arbi











