RADARBANTEN.CO.ID – Komitmen dan semangat pengabdian tampak begitu kuat dalam sosok Muhammad Fitrulloh. Selain dikenal sebagai akademisi di Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), Ia juga menjadi tokoh sentral di tubuh Muhammadiyah Kota Cilegon.
Saat ini, Ia menjabat sebagai Ketua Pimpinan Daerah (PD) Muhammadiyah Cilegon, sekaligus menjadi sosok yang aktif mendorong kemajuan pendidikan dan kaderisasi di tubuh organisasi Islam tersebut.
Perjalanan Fitrulloh di Muhammadiyah dimulai lebih dari satu dekade lalu. “Tahun 2012 saya mulai aktif di Muhammadiyah, ketika diajak rapat pembentukan PCM Purwakarta. Sejak itu, saya terus aktif dan berkhidmat,” ujarnya saat berbincang dengan Radar Banten, Jum’at (18/7).
Salah satu momen paling berkesan dalam kiprah organisasinya adalah saat mendirikan SMK Muhammadiyah di Cilegon bersama para senior dan rekan sejawat.
“Saat itu kami mendirikan jurusan teknik metalurgi dan keperawatan. Cilegon sebagai kota industri membutuhkan tenaga terampil di bidang metalurgi, khususnya baja. SMK ini jadi satu-satunya yang membuka jurusan itu di Cilegon,” kenangnya.
Selain menjabat sebagai Ketua PD Muhammadiyah, Fitrulloh juga aktif di Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah (Dikdasmen), mengelola SMP, SMA, dan SMK Muhammadiyah. Ia juga kerap terlibat dalam pengajaran karena dunia pendidikan adalah habitat yang sudah ia geluti sejak lama.
“Dunia akademik saya juga terus berjalan. Sejak 2005 saya mengajar, sempat bolak-balik dari Depok ke Cilegon. Tahun 2011 saya jadi sekretaris jurusan, lalu 2016 jadi ketua jurusan. Karena saya juga pernah aktif di HMI, jadi saya terbiasa membagi waktu antara dunia kampus dan organisasi,” ujarnya.
Fitrulloh menilai, nilai-nilai dalam Muhammadiyah sangat fundamental dan menjadikan organisasi ini kokoh.
“AD/ART Muhammadiyah itu paripurna. Organisasi ini stabil dalam sistem pemilihannya. Hampir tidak pernah saya lihat konflik internal yang besar,” ucapnya.
Salah satu nilai yang paling ia pegang dalam bermuhammadiyah adalah ringan tangan dan gotong royong.
“Saya ingat saat awal merintis SMK, kami urunan dan bisa kumpulkan dana operasional hingga Rp150 juta sebelum sekolah berjalan. Muhammadiyah itu ringan berkontribusi untuk amal usaha,” ungkapnya.
Reporter: Adam Fadillah
Editor: Bayu Mulyana











