• Berita Utama
  • Kota Serang
  • Kabupaten Serang
  • Pandeglang
  • Lebak
  • Tangerang
  • Cilegon
  • Hukum
  • Olahraga
  • Humaniora
  • Info Bhayangkara
  • Info Adhyaksa
  • Komunitas
  • Persona
  • Catatan SEKAM
  • E-Paper
  • Radar Banten TV
  • Berita Utama
  • Kota Serang
  • Kabupaten Serang
  • Pandeglang
  • Lebak
  • Tangerang
  • Cilegon
  • Hukum
  • Olahraga
  • Humaniora
  • Info Bhayangkara
  • Info Adhyaksa
  • Komunitas
  • Persona
  • Catatan SEKAM
  • E-Paper
  • Radar Banten TV
  • Berita Utama
  • Kota Serang
  • Kabupaten Serang
  • Pandeglang
  • Lebak
  • Tangerang
  • Cilegon
  • Hukum
  • Olahraga
  • Humaniora
  • Info Bhayangkara
  • Info Adhyaksa
  • Komunitas
  • Persona
  • Catatan SEKAM
  • E-Paper
  • Radar Banten TV
  • Berita Utama
  • Kota Serang
  • Kabupaten Serang
  • Pandeglang
  • Lebak
  • Tangerang
  • Cilegon
  • Hukum
  • Olahraga
  • Humaniora
  • Info Bhayangkara
  • Info Adhyaksa
  • Komunitas
  • Persona
  • Catatan SEKAM
  • E-Paper
  • Radar Banten TV
Home Bisnis Ekonomi

Apa Itu Impulsive Buying? Ini Penyebab, Tanda dan Cara Mengatasinya

Mulyadi by Mulyadi
Selasa, 5 Agustus 2025 06:33
in Ekonomi, Utama
0
Apa Itu Impulsive Buying? Ini Penyebab, Tanda dan Cara Mengatasinya
0
SHARES
52
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare On Whatsapp

TANGERANG, RADARBANTEN.CO.ID – Pernah mendengar istilah impulsive buying? Impulsive buying adalah perilaku belanja atau membeli sesuatu tanpa berpikir panjang dan hanya didasarkan pada keinginan sesaat.

Tindakan ini sering kali disamakan dengan perilaku konsumtif. Padahal, keduanya cukup berbeda.

Perilaku konsumtif lebih merujuk pada konsumsi produk atau jasa secara berlebihan.

Sejalan dengan masifnya marketplace, impulsive buying seakan menjadi tren dalam masyarakat.

Secara harfiah, impulsive buying artinya belanja impulsif. Impulsive buying adalah keinginan dalam diri seseorang untuk berbelanja suatu produk dalam jumlah banyak tanpa pertimbangan.

Perilaku ini juga dapat terjadi secara tiba-tiba saat seseorang merasa harus membeli produk yang telah menjadi incarannya sesegera mungkin.

Impulsive buying bisa berefek negatif bagi pelakunya. Pasalnya, keputusan tersebut tidak didasari oleh logika atau proses berpikir panjang, melainkan emosi semata.

Tidak jarang, produk yang dibeli pun bukan barang atau kebutuhan prioritas. Akibatnya, tindakan ini hanya akan menimbulkan pemborosan yang tidak baik untuk kondisi finansial.

Salah satu contoh impulsive buying adalah ketika kamu membeli aksesoris besar-besaran di toko secara spontan, padahal yang seharusnya dibeli hanya pakaian.

Hal itu menunjukkan bahwa kamu tidak memiliki skala prioritas atau tidak dapat mengontrol keinginan untuk membeli barang tidak terlalu dibutuhkan.

Penyebab

Impulsive buying dapat terjadi karena berbagai macam faktor, yakni:

1. Strategi pemasaran.

Strategi pemasaran produk, seperti potongan harga, cashback, dan promo termasuk penyebab utama seseorang melakukan impulsive buying.

Bukan tanpa alasan, faktor tersebut nyatanya mampu menarik perhatian maupun minat konsumen dan membuat seseorang sulit menahan godaan untuk melakukan transaksi pembelian.

2. Jenis produk.

Seiring waktu, para pelaku usaha terus berupaya untuk mengembangkan dan meningkatkan kualitas produknya agar dapat bersaing di pasaran. Alhasil, kemasan, desain, dan jenisnya lebih variatif.

Keterbatasan atau eksklusivitas produk yang dijual juga dapat mendorong seseorang untuk berperilaku impulsif. Padahal, produk-produk yang ingin dibeli tersebut belum tentu dibutuhkan.

3. Budaya.

Penerapan budaya hidup mandiri di kalangan masyarakat kini semakin populer. Tidak hanya berdampak positif, budaya ini dapat membawa pengaruh negatif pula.

Pasalnya, jika dibandingkan dengan budaya kolektif, kecenderungan impulsive buying lebih banyak terjadi pada individu atau masyarakat yang menerapkan budaya mandiri.

Hal itu bisa terjadi karena beberapa hal, seperti dorongan ekspresi diri, kebutuhan mengatasi stres secara individual, paparan media sosial, hingga kurangnya pertimbangan kolektif.

4. Kepribadian.

Umumnya, seseorang yang cenderung melakukan impulsive buying sangat memperhatikan status sosial dan gengsi. Salah satu pemicunya adalah FOMO (Fear of Missing Out).

Seseorang yang FOMO akan merasa seakan takut ketinggalan tren apabila tidak memiliki barang yang sedang naik daun di pasaran.

Hal ini yang kemudian mendorongnya untuk membeli barang-barang baru secara spontan tanpa berpikir dua kali walaupun sebenarnya tidak terlalu penting.

Tujuan belanja impulsif ini tidak lain adalah hanya untuk meningkatkan citra diri dan memuaskan rasa gengsi.

Tanda-Tanda Impulsive Buying

Biasanya, perilaku impulsive buying memiliki ciri tersendiri, adalah:

– Rasa iri pada teman dan bertujuan untuk bersaing dengannya.

– Mempunyai terlalu banyak barang karena tidak berpikir terlebih dahulu saat berbelanja.

– Berbelanja hanya sebagai bentuk kepuasan diri untuk membuat diri merasa senang dan lebih baik, terutama saat sedang lelah, bosan, atau sedih.

-Kondisi finansial tidak sehat alias memburuk sebab terlalu boros dalam mengeluarkan uang.

– Membeli produk atau jasa berkedok self reward.

– Menjadikan window shopping sebagai penghilang rasa stres.

– Gampang tergiur diskon dan promo produk atau jasa dengan dalih kesempatan tidak akan terulang kembali.

Cara Mengatasi Impulsive Buying

Belanja impulsif sebenarnya dapat dikelola dengan baik tanpa harus khawatir kehilangan momen berharga.

Cara mengatasi impulsive buying adalah:

1. Menyusun daftar prioritas.

Untuk menghindari sikap impulsif saat berbelanja, sebaiknya susunlah daftar prioritas terlebih dahulu. Kamu perlu mempertimbangkan antara kebutuhan dan keinginan.

Dengan skala prioritas, kamu bisa tetap fokus pada hal-hal yang lebih penting dan pengeluaran pun terkelola secara bijaksana.

2. Memanfaatkan promo dengan cerdas.

Membeli produk atau jasa dengan harga promo memang bisa menghemat pengeluaran dana, namun kamu harus tetap bijaksana dalam memanfaatkannya. Ambil manfaat promo atau diskon untuk berbelanja barang yang dibutuhkan saja.

3. Menetapkan anggaran.

Demi mencegah terjadinya pemborosan, penting untuk menetapkan anggaran. Alokasikan dana untuk pengeluaran yang penting dan realistis.

Tidak hanya mengatasi impulsive buying, manajemen keuangan yang tepat juga dapat membuat aktivitas berbelanja menjadi lebih nyaman.

4. Menetapkan batasan ketika melakukan self reward.

Membeli barang secara berlebihan dengan alasan self reward memicu timbulnya perilaku impulsive buying.

Oleh karena itu, tentukan waktu yang tepat untuk melakukan self reward. Tetapkan batasan yang pasti agar tidak terjebak dalam kebiasaan impulsive buying.

5. Membatasi akses e-commerce.

Kemudahan akses ke e-commerce dapat mendorong tindakan impulsif saat berbelanja. Cara mengatasi impulsive buying ini bisa dilakukan dengan mulai membatasi aksesnya.

Maka dari itu, hindari terlalu banyak pemasangan aplikasi belanja online di handphone kamu.

Demikian pembahasan mengenai definisi, faktor penyebab impulsive buying, tanda-tanda, dan cara mengatasinya secara tepat.

Editor: Agus Priwandono

Tags: belanja impulsife-commercegaya hidupImpulsive Buyingperilaku konsumtif
Plugin Install : Subscribe Push Notification need OneSignal plugin to be installed.
Previous Post

Waktu Terbaik untuk Menabung Emas, Ini Tipnya Biar Untung Maksimal

Next Post

Jadi Tersangka Dugaan Penipuan KH Mahmudi, Akhmad Jajuli Mengatakan Hal ini

Next Post
Jadi Tersangka Dugaan Penipuan KH Mahmudi, Akhmad Jajuli Mengatakan Hal ini

Jadi Tersangka Dugaan Penipuan KH Mahmudi, Akhmad Jajuli Mengatakan Hal ini

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


Ikuti Kami

Facebook Instagram X-twitter Youtube
Gates of Olympus

Kanal

News

Redaksi

Peluang Usaha

Viral

Inspirasi

Love Story

Olahraga

News Video

Serba Serbi

E-Paper

Tekno

Pedoman Pemberitaan

Indeks

Tutorial

Pilihan Editor

56 Kafilah Banten Berlaga di MTQ Nasional XXXI 2026

56 Kafilah Banten Berlaga di MTQ Nasional XXXI 2026

by Yusuf Permana
Senin, 14 September 2026 07:22
0

SERANG, RADARBANTEN.CO.ID – Sebanyak 56 kafilah Provinsi Banten ambil bagian dalam Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) Nasional XXXI 2026 yang digelar...

Dinkes Kota Serang Ingatkan Cara Membersihkan Abu Vulkanik agar Tak Terhirup

Dinkes Kota Serang Ingatkan Cara Membersihkan Abu Vulkanik agar Tak Terhirup

by Nahrul Muhilmi
Senin, 14 September 2026 07:10
0

SERANG, RADARBANTEN.CO.ID - Masyarakat Kota Serang diminta tidak sembarangan membersihkan abu vulkanik Gunung Anak Krakatau (GAK) yang menempel di lingkungan...

No Result
View All Result
  • Berita Utama
  • Kota Serang
  • Kabupaten Serang
  • Pandeglang
  • Lebak
  • Tangerang
  • Cilegon
  • Hukum
  • Olahraga
  • Humaniora
  • Info Bhayangkara
  • Info Adhyaksa
  • Komunitas
  • Persona
  • Catatan SEKAM
  • E-Paper
  • Radar Banten TV

© 2026 RadarBanten.