SERANG, RADARBANTEN.CO.ID – Perekonomian Banten pada triwulan II 2025 mencatatkan pertumbuhan impresif sebesar 5,33 persen (yoy), naik dibandingkan triwulan sebelumnya yang tumbuh 5,19 persen. Capaian ini melampaui rata-rata pertumbuhan ekonomi nasional yang berada di angka 5,12 persen dan regional Jawa sebesar 5,24 persen, menempatkan Banten sebagai provinsi dengan pertumbuhan tertinggi kedua di Pulau Jawa setelah DIY.
Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Banten, Rawindra Ardiansah menjelaskan bahwa laju pertumbuhan ini ditopang oleh akselerasi di beberapa sektor utama, terutama industri pengolahan, konstruksi, dan real estate. Dari sisi permintaan, investasi atau Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) menjadi motor penggerak utama, tumbuh 9,90 persen berkat realisasi penanaman modal dalam negeri (PMDN) dan asing (PMA) serta kelanjutan proyek strategis nasional.
“Investasi di Banten semester I 2025 mencapai Rp60,7 triliun atau 6,2 persen dari total nasional, menempatkan Banten di peringkat kelima secara nasional,” ungkapnya. Beberapa proyek besar yang menopang pertumbuhan tersebut antara lain Tol Serang–Panimbang, Tol Serpong–Balaraja, Kawasan Terpadu PIK 2, KEK BSD City, dan Kawasan Industri Krakatau Sarana Infrastruktur–Anyer.
Sektor konstruksi tumbuh signifikan 15,36 persen, seiring masifnya pembangunan infrastruktur dan kawasan industri. Sementara itu, sektor real estate naik 7,91 persen, didorong peningkatan penjualan properti di Tangerang Raya. Industri pengolahan juga tetap menjadi penggerak utama, mencatat pertumbuhan 4,82 persen berkat kenaikan ekspor besi baja, kimia, dan plastik ke berbagai negara, termasuk Eropa dan ASEAN.
Dari sisi perdagangan, pertumbuhan melambat menjadi 2,82 persen karena normalisasi konsumsi pasca Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) dan penurunan penjualan kendaraan bermotor. Konsumsi rumah tangga pun cenderung melambat, tumbuh 3,61 persen, seiring pola belanja yang lebih selektif meski daya beli masih terjaga.
Ke depan, BI memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Banten tahun 2025 berada di kisaran 4,6–5,5 persen (yoy). Potensi penguatnya datang dari kelanjutan hilirisasi industri, geliat sektor pariwisata, serta stimulus ekonomi pemerintah, meskipun tetap dibayangi risiko eksternal seperti perang tarif global dan tekanan produk impor terhadap industri dalam negeri.
Reporter: Rostinah
Editor: Aditya











