PANDEGLANG, RADARBANTEN.CO.ID – Sampah tak lagi sekadar masalah, tapi bisa jadi peluang ekonomi. Warga Perumahan Bumi Cadasari (BCI), Desa Kaungkacang, Kecamatan Cadasari, Kabupaten Pandeglang, berhasil memanfaatkan limbah rumah tangga menjadi barang bernilai jual tinggi.
Lewat program pengelolaan sampah kreatif, berbagai jenis limbah diolah menjadi beragam produk, mulai dari kerajinan tangan hingga sabun cair.
Program ini digagas Bank Sampah Pelangi sejak 2021. Tujuannya bukan hanya mengurangi volume sampah, tapi juga meningkatkan pendapatan warga. Masyarakat dilatih memilah dan mengolah sampah organik maupun anorganik menjadi produk yang punya daya jual di pasaran.
Bank Sampah Pelangi di Perumahan Bumi Cadasari (BCI) ini jadi contoh nyata pengelolaan sampah yang menguntungkan. Warga tak hanya membantu menjaga lingkungan, tapi juga bisa menabung hingga menukar hasilnya dengan sembako.
Ketua Kelompok Pengelola Bank Sampah Pelangi, Nurwati mengatakan bahwa dirinya terinspirasi dari pemberitaan di media soal bank sampah. Menurutnya, konsep itu cocok diterapkan di lingkungan kompleks.
“Awalnya saya lihat di media, kok bank sampah bisa jadi uang. Bahkan plastik saja bisa menghasilkan. Kebetulan saya punya teman penyuluh di Dinas Lingkungan Hidup (DLH), saya tanya, dan ternyata di Pandeglang bisa bikin,” kata Nurwati, Senin 11 Agustus 2025.
Dijelaskannya, Bank Sampah Pelangi mulai beroperasi pada 2021. Jenis sampah yang dikumpulkan bervariasi, mulai dari botol, kardus, buku bekas, plastik, ember, hingga peralatan rumah tangga tak terpakai. Sebagian sampah diolah menjadi kerajinan, sisanya dijual ke pengepul.
Lebih lanjut, karena mayoritas warga bekerja, sistem penjemputan diberlakukan. Warga cukup meletakkan sampah terpilah di depan rumah sesuai jadwal penimbangan, lalu pengelola mengambilnya.
“Kalau pas ditimbang dapatnya sedikit, misalnya Rp2.000–Rp5.000, biasanya mereka ditabung. Nanti diambil kalau butuh. Ada juga yang langsung dijual cash,” jelasnya.
Nurwati juga menyediakan opsi penukaran tabungan sampah dengan sembako atau token listrik.
“Misalnya tabungannya sudah Rp50 ribu, mereka bisa ambil beras. Semua kami catat di buku tabungan,” ujarnya.
Tujuan utama program ini, kata Nurwati, adalah menjaga kebersihan lingkungan sekaligus mengurangi sampah yang berakhir di tempat pembuangan akhir.
“Ini aksi nyata, bukan cuma omong-omong,” tegasnya.
Sementara itu, salah satu warga setempat Irma mengaku senang dengan adanya program bank sampah di lingkungannya. Menurutnya, sistem penjemputan sampah oleh pengelola sangat memudahkan.
“Jadi bersih, terus dapat duit juga. Lingkungan bersih, rumah juga bersih,” kata Irma.
Irma mengumpulkan sampah plastik bekas kemasan minuman seperti ale-ale dari rumahnya sendiri. Dalam sekali setor, ia biasanya mendapatkan 5–6 kilogram sampah plastik.
“Enaknya dijemput, tinggal kasih sampah, terus dikasih uang. Saya nggak nabung, langsung ambil uangnya,” ungkapnya.
Menurutnya, program bank sampah membuat warga lebih peduli lingkungan.
“Senang, nggak perlu pusing. Harusnya sampah dibuang-buang saja, sekarang malah jadi duit. Lumayan kalau ngumpulin sedikit-sedikit,” tandasnya.
Reporter: Moch Madani Prasetia
Editor: Aditya

