SERANG, RADARBANTEN.CO.ID. – Balai Besar Pengawasan Obat dan Makanan (BBPOM) Serang menegaskan dugaan keracunan makanan bergizi (MBG) di SMPN 1 Kramatwatu, Kabupaten Serang, pada Rabu 3 September 2025 masih menunggu hasil uji laboratorium.
Sampel makanan telah diambil Dinas Kesehatan Kabupaten Serang untuk diuji di laboratorium terkait.
Kepala Balai BPOM di Serang, Mojaza Sirait, mengatakan pihaknya belum bisa memastikan apakah kejadian yang dialami siswa merupakan keracunan atau bukan.
“Itu kan sebenarnya masih dugaan ya, apakah keracunan atau tidak, nanti akan ditentukan berdasarkan hasil uji laboratorium,” katanya, Sabtu 6 September 2025.
Ia menjelaskan, pihaknya terus berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan untuk menindaklanjuti kasus tersebut. Apalagi, program MBG sudah berjalan sejak pertengahan Agustus lalu dan masih ditemukan sejumlah hal yang perlu dibenahi.
“Dari hasil pengawalan, ada memang beberapa hal yang harus diperbaiki, misalnya alur produksi (agar memperhatikan SOP dan higienis-red). Kemudian operasional personel juga harus ditingkatkan,” ujarnya.
Mojaza menekankan, dalam kasus ini Balai BPOM di Serang tidak berwenang melakukan penindakan hukum. Tugas mereka lebih pada pendampingan dan memberikan saran perbaikan agar kejadian serupa tidak terulang.
“Kami menyebutnya pengawalan atau pendampingan, bukan pengawasan. Fungsi kami adalah mencegah jangan sampai terjadi kejadian luar biasa keracunan pangan,” jelasnya.
Menurut dia, Balai BPOM di Serang selama ini juga telah memberikan pelatihan kepada penyelenggara makanan melalui program yang diatur dari pusat. Meski demikian, pria yang akrab disapa Moses menilai edukasi harus terus diperkuat agar pelaksana program lebih disiplin dalam menjaga standar kebersihan.
“Kalau ada kejadian seperti ini, kami datang untuk memberikan pendampingan, masukan, dan saran perbaikan. Dapur MBG itu kan sudah atas persetujuan Badan Gizi Nasional (BGN), jadi standar sebenarnya ada. Tinggal dijalankan dengan baik,” katanya.
Mojaza berharap rekomendasi perbaikan yang diberikan bisa segera diterapkan. Dengan begitu, risiko keracunan makanan dapat diminimalisasi. “Kalau semua dilaksanakan, seharusnya tidak ada keracunan makanan,” ujarnya.
Selain pemeriksaan, pihaknya juga langsung memberikan edukasi kepada karyawan penyelenggara makanan di lapangan. Edukasi tersebut mencakup cara menjaga makanan agar terhindar dari tiga jenis cemaran, yakni kimia, fisik, dan biologi.
“Kami tadi juga melakukan sharing singkat, tapi inti-inti bagaimana mereka bisa menjadi penyelenggara pangan yang baik. Intinya, pekerja harus mengolah makanan dengan benar agar aman dikonsumsi siswa,” tuturnya.
Editor: Bayu Mulyana











