LEBAK, RADARBANTEN.CO.ID- Seorang bocah bernama Hasbi (10) menjalani hari-harinya dengan penuh keterbatasan. Nasib nahas harus dialaminya, sejak usia tiga bulan, tubuh kecil Hasbi lumpuh layu, membuatnya tak mampu berdiri, apalagi berlari bebas seperti anak-anak lain seusianya.
Hasbi kini terbaring lemah dan tinggal di Kampung Kubang Tengah, Desa Cikulur, Kecamatan Cikulur, Kabupaten Lebak. Anak malang in, merupakan pasangan Suhayab dan Atma yang merupakan warga Desa Cikulur, Kecamatan Cikulur.
Saat berada di kediamannya sang ibu, Suhayah (53), tak kuasa menahan haru saat menceritakan awal mula penderitaan putra bungsunya itu.
“Awalnya panas, sering kejang, terus kena paru-paru. Dari umur tiga bulan sudah begitu, Pak. Sudah saya bawa ke mana-mana, ke rumah sakit, ke Adjidarmo, ke Misi, tapi enggak sembuh. Saya capek, Pak,” kata Suhayah saat bersama dengan Hasbi, Sabtu 6 September 2025.
Suhayah menuturkan, kondisi ekonomi keluarga kian memperparah keadaan. Suami Suhayah hanya seorang pekerja serabutan dengan penghasilan tak menentu. Kadang ia membawa pulang Rp50.000, namun tak jarang pulang dengan tangan kosong.
“Kadang ke sawah, kadang ke bangunan, kadang ambil kelapa. Kalau ada panggilan kerja, baru dapat. Itu pun enggak tentu,” ujarnya.
Ia menambahkan, dengan penghasilan yang tak seberapa, biaya pengobatan bagi Hasbi terasa seperti mimpi yang sulit diwujudkan. Hingga kini, anak itu hanya bisa dirawat seadanya di rumah. Sementara bantuan dari pemerintah dan pihak kesehatan pun belum pernah benar-benar dirasakan.
“Belum ada, Pak. Paling kemarin cuma sekali dapat bantuan beras dari Desa. Itu aja, dari pihak kesehatan juga belum pernah datang ke sini Pak,” kata Suhayah.
Kendati begitu, doa seorang ibu tak pernah putus. Dalam keterbatasannya, Suhayah hanya berharap melihat anaknya bisa merasakan hidup layaknya bocah seusianya.
“Saya pengen anak saya sembuh, bisa jalan, bisa ngomong, bisa sekolah kayak anak-anak lain. Kasihan dia, cuma bisa lihat teman-temannya sekolah,” ucapnya lirih sambil menyeka air mata.
Sang ayah Atma (55), pun tak banyak menuntut. Harapannya sederhana, agar pemerintah maupun pihak-pihak yang peduli sudi memberikan perhatian.
“Mudah-mudahan ada perhatian dari pemerintah buat anak saya. Itu aja harapan saya,” pungkasnya.
Reporter : Nurandi
Editor: Aditya











