LEBAK, RADARBANTEN.CO.ID- Kampung Guahguyang yang berada di Desa Cibungur, Kecamatan Cigemblong, Kabupaten Lebak, dikenal sebagai sentra pembuatan kerajinan tangan berbahan bambu. Hampir seluruh warga di kampung ini memiliki keterampilan menganyam dan membuat berbagai produk rumah tangga tradisional dari bambu. Aktivitas tersebut sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari sekaligus sumber penghidupan masyarakat.
Sejak lama, kerajinan bambu telah menjadi identitas warga Kampung Guahguyang. Berbagai produk tradisional seperti tampah, boboko, nyiru, sair, kipas, hingga beragam peralatan dapur lainnya dihasilkan secara telaten. Meski hidup di tengah perkembangan zaman modern, warga setempat tetap mempertahankan warisan budaya ini dengan penuh kebanggaan.
Salah satu perajin muda yang konsisten menekuni usaha ini adalah Asmawiah. Ia mengaku sejak kecil sudah terbiasa membantu keluarganya membuat peralatan rumah tangga dari bambu. Hampir setiap hari, ia tampak sibuk duduk di teras rumah panggung sederhana miliknya sambil menganyam bilah-bilah bambu menjadi kerajinan yang bernilai guna.
“Asal ada bambu, kami bisa membuat berbagai macam peralatan rumah tangga. Dari kecil saya sudah terbiasa membantu orang tua, sampai akhirnya jadi keterampilan yang terus saya jalani sampai sekarang,” tutur Asmawiah, kepada RADARBANTEN.CO.ID, pada 21 September 2025.
Ia menambahkan, hasil kerajinannya tidak hanya dipakai sendiri, tetapi juga dipasarkan ke desa sekitar hingga ke pasar tradisional di Lebak.
“Ini saya lagi bikin boboko, ini bahan dasarnya terbuat dari bambu tali. Yang kecil bisa dapat 10, yang besar lima sehari. Selain boboko, saya juga bikin nyiru, haseupan, kipas, dan sair,” kata Asmawiah
Untuk pemasaran, keluarga Asmawiah mengaku tidak mengalami kesulitan karena sudah memiliki langganan tetap. Harga produk yang dijual pun tergolong terjangkau, mulai dari Rp7.000 untuk ukuran kecil hingga Rp15.000 untuk ukuran besar.
Kreativitas masyarakat Kampung Guahguyang membuktikan bahwa tradisi mampu bertahan sekaligus berkontribusi pada perekonomian lokal. Kerajinan bambu bukan hanya sekadar produk, melainkan juga simbol warisan budaya yang tetap hidup di tengah perubahan zaman.
Reporter: Nurandi
Editor: Aditya










