Oleh: DR. KH. Encep Safrudin Muhyi, MM,.M.S.c, Pimpinan Pondok Pesantren Fathul Adzmi
اُدْعُ اِلٰى سَبِيْلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُۗ اِنَّ رَبَّكَ هُوَ اَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيْلِهٖ وَهُوَ اَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِيْنَ ١٢٥
Artinya: “Serulah (manusia) ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik serta debatlah mereka dengan cara yang lebih baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang paling tahu siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia (pula) yang paling tahu siapa yang mendapat petunjuk.” (QS An-Nahl: 25).
Pembaharu Pendidikan
Pesantren adalah lembaga pendidikan Islam di mana para siswa (santri) tinggal bersama dan belajar di bawah bimbingan seorang guru yang dikenal sebagai kyai, serta menyediakan asrama sebagai tempat tinggal santri. Para santri berada dalam kompleks yang juga dilengkapi dengan masjid untuk beribadah, ruang belajar, dan fasilitas untuk kegiatan keagamaan lainnya. Kompleks ini biasanya dikelilingi tembok untuk mengawasi pergerakan santri sesuai dengan peraturan yang berlaku.
Pesantren merupakan sistem pendidikan Islam tradisional yang telah lama ada di Indonesia. Beberapa pesantren bahkan telah berdiri selama ratusan tahun, membuktikan eksistensi pesantren sejak zaman kolonial. Pesantren memainkan peran penting dalam penyebaran agama Islam di Indonesia. Hingga saat ini, pesantren terus mempertahankan eksistensinya sebagai lembaga pendidikan Islam yang berkualitas.
Pesantren adalah lembaga pendidikan Islam yang menerapkan sistem asrama (pondok), dengan kiai sebagai figur sentral dan masjid sebagai pusat aktivitas. Sejak awal, pesantren memiliki bentuk yang beragam, tanpa standarisasi yang berlaku untuk semua. Namun, dalam perkembangannya, pesantren memiliki pola umum atau unsur khas, seperti keberadaan kiai, masjid, santri, asrama, serta pengajian kitab kuning.
Secara umum, pola yang sama dalam sebuah pesantren terdiri dari empat komponen pokok. Pertama, kiai sebagai pemimpin, pendidik, dan tokoh panutan. Kedua, santri sebagai peserta didik. Ketiga, masjid sebagai tempat shalat berjamaah dan kegiatan belajar-mengajar. Keempat, pondok sebagai tempat tinggal santri. Dari segi non-fisik, pengajian disampaikan dengan berbagai metode yang memiliki keragaman, meskipun sifatnya tidak mendasar.
Awalnya, pesantren adalah lembaga pendidikan dan pengajaran agama Islam yang diselenggarakan secara non-klasikal. Seorang kiai mengajar para santrinya berdasarkan kitab-kitab berbahasa Arab tanpa harakat, yang sering disebut “kitab gundul,” di rumah kiai, masjid, atau teras asrama.
Penegak Moral Bangsa
Pondok Pesantren telah berperan penting dalam mencetak generasi muslim yang berkualitas, baik dari segi ilmu pengetahuan, akhlak, maupun keterampilan. Generasi santri memiliki karakteristik seperti lebih kritis, terbuka, dan kreatif.
Masyarakat Indonesia selalu mengedepankan semangat kebersamaan dalam bertindak dan bekerja sama untuk kemajuan. Sejak awal berdirinya bangsa Indonesia, tokoh pendidikan dan pahlawan kemerdekaan telah mencetuskan terbentuknya pendidikan non-formal secara integratif. Usaha membangun manusia seringkali dikaitkan dengan pendidikan, sehingga selalu ada semangat saling menasihati dengan hak dan kesabaran dalam berbagai aktivitas.
Pendidikan secara luas adalah usaha membangun seseorang menjadi lebih dewasa, atau proses transformasi peserta didik untuk mencapai hal-hal tertentu sebagai hasil dari pendidikan yang diikutinya. Menurut Jean Piaget, pendidikan berarti menghasilkan atau mencipta, walaupun tidak banyak, dan dapat diartikan sebagai segala situasi hidup yang memengaruhi pertumbuhan individu sebagai pengalaman belajar yang berlangsung dalam segala lingkungan dan sepanjang hidup.
Posisi pesantren dalam penegakan moral bangsa, melalui pendidikan Islam, tampak pada perannya sebagai sarana transformasi nilai dan budaya yang diinternalisasikan dalam unsur-unsur pesantren yang bergerak mengiringi tuntutan agama.
Pondok pesantren dan madrasah adalah pencetak dan penggembleng akhlak anak bangsa dari berbagai macam penyakit masyarakat. Pesantren dan madrasah menjadi garda terdepan dalam membentuk karakter anak bangsa. Salah satu peran besar pesantren (santri) adalah menjaga moralitas. Di tengah arus globalisasi dan perkembangan teknologi, santri hadir sebagai pengingat bahwa nilai-nilai agama dan akhlak tetap harus dijaga.
Santri tidak hanya mempelajari teori, tetapi juga mengamalkan ilmunya dalam kehidupan sehari-hari. Contohnya, mereka terbiasa shalat berjamaah, mengaji setiap hari, menghormati guru, serta disiplin dalam mengatur waktu. Semua ini merupakan latihan nyata untuk membentuk pribadi yang berakhlak mulia.
Tujuan utama pendidikan pesantren adalah mencetak individu yang berilmu dan bertakwa. Ilmu dan takwa adalah dua hal yang harus dimiliki oleh seorang santri. Menurut doktrin pesantren, berilmu tanpa takwa akan berbahaya, begitu pula sebaliknya. Saat ini, berbagai upaya pembenahan sistem pendidikan pesantren (pengembangan dan pembaharuan) telah banyak dilakukan. Dengan demikian, pesantren dapat membentuk santri agar siap mengemban amanah besar, baik sebagai pemimpin agama maupun pemimpin di masyarakat.
Penulis adalah Pimpinan Pondok Pesantren Fathul Adzmi Cikedal Pandeglang & Anggota FKUB Provinsi Banten)











