PANDEGLANG, RADARBANTEN.CO.ID – Media sosial dihebohkan dengan foto seorang siswa kelas II SDN Rancapinang 2, Kecamatan Cimanggu, Kabupaten Pandeglang, yang diduga menjadi korban perundungan atau bullying.
Bocah berinisial MFA itu disebut-sebut dimasukkan ke dalam karung lalu diceburkan ke area persawahan hingga tubuhnya dipenuhi lumpur.
Informasi dugaan bullying itu awalnya diunggah orang tua korban di Facebook. Radar Banten melakukan penelusuran terkait unggahan tersebut dan mengonfirmasi kebenarannya kepada keluarga.
Ibu korban, Mulyanti, menceritakan kronologi kejadian itu terjadi pada Sabtu (29/11) pagi. Saat itu ia meminta putranya berangkat ke sekolah. Tak lama kemudian, MFA pulang dalam kondisi basah kuyup dan tanpa baju.
“Katanya dia diceburin ke susukan sampai penuh lumpur. Menurut pengakuan anak saya, dia dimasukin ke karung, digotong anak kelas VI, lalu diceburkan ke sawah,” kata Mulyanti saat dihubungi melalui sambungan telepon WhatsApp, Senin 12 Desember 2025.
Ia mengaku terpukul atas apa yang dialami anaknya. Setelah kejadian, MFA mengalami demam ringan dan terlihat ketakutan.
“Sebagai ibu, hati saya hancur. Saya kira dia bisa sekolah dengan baik, ternyata perlakuan teman-temannya begitu,” ujarnya.
Mulyanti berharap pihak sekolah meningkatkan pengawasan agar kasus serupa tak terulang.
“Anak-anak harus dijaga. Kami berharap sekolah lebih memperhatikan,” ucapnya.
Pemerhati pendidikan Kabupaten Pandeglang, Bang Kumis Berbagi, turut menyoroti dugaan perundungan ini. Ia mengaku sudah mengonfirmasi informasi ke pihak sekolah, camat, dan keluarga korban.
“Saya sudah berkomunikasi dengan para pihak. Ini jadi acuan bahwa pengawasan anak adalah tanggung jawab orang tua dan sekolah,” ujarnya.
Ia menegaskan akan mendampingi penyelesaian kasus secara baik tanpa memperkeruh suasana.
“Pelaku dan korban sama-sama masih anak-anak, masa depan mereka harus diselamatkan,” ucapnya.
Pihak kecamatan dan sekolah dijadwalkan memfasilitasi pertemuan kedua belah pihak pada Senin (1/12) untuk mencari penyelesaian terbaik atas insiden tersebut.
Reporter: Moch Madani Prasetia
Editor: Agung S Pambudi










