PANDEGLANG, RADARBANTEN.CO.ID – Cuaca ekstrem berupa angin kencang dan gelombang tinggi melanda perairan selatan Kabupaten Pandeglang. Kondisi tersebut membuat para nelayan setempat mengalami masa paceklik karena tidak dapat melaut.
Fenomena angin barat dengan tinggi gelombang laut mencapai hingga 3 meter dinilai membahayakan keselamatan, sehingga sebagian besar nelayan memilih menghentikan aktivitas melaut.
Untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari selama masa paceklik, nelayan pun terpaksa membongkar tabungan yang selama ini disimpan.
Salah satu nelayan Desa Teluk, Kecamatan Labuan, Ino mengatakan cuaca buruk telah berlangsung lebih dari tiga bulan.
“Dari akhir tahun 2025 nyambung sampai awal tahun 2026. Minggu kemarin sempat memaksa melaut, tapi tidak dapat ikan,” katanya, Jumat 23 Januari 2026.
Ia menjelaskan, kondisi angin barat dengan gelombang tinggi sangat berisiko bagi keselamatan nelayan.
“Kalau sekarang paling ngopi saja, beberes jaring, nambal jaring yang bolong,” ujarnya.
Selama tidak melaut, kebutuhan hidup sehari-hari dipenuhi dari tabungan yang dikumpulkan saat cuaca masih baik.
“Biasanya nabung sedikit-sedikit. Kadang Rp50 ribu, kadang Rp100 ribu. Itu buat antisipasi cuaca seperti ini,” katanya.
Menurut Ino, tanpa tabungan, nelayan akan sangat kesulitan bertahan saat angin barat melanda.
“Kalau tidak nabung, ya babak belur. Makanya saya biasakan menyisihkan hasil saat cuaca bagus,” ujarnya.
Ia mengaku tidak mengetahui hingga kapan cuaca buruk akan berlangsung. Menurutnya, kondisi cuaca saat ini semakin sulit diprediksi.
“Sekarang cuaca susah diprediksi. Dulu biasanya lewat tahun baru angin barat selesai, tapi sekarang sudah lewat tahun baru masih begini,” katanya.*
Editor : Krisna WIdi Aria











