KOTA TANGSEL, RADARBANTEN.CO.ID – Pemkot Tangsel memastikan tidak memperpanjang status tanggap darurat sampah yang telah berakhir sejak 19 Januari 2026.
Keputusan tersebut diambil setelah pengelolaan sampah dinilai mulai menemukan solusi, meski masih membutuhkan penguatan di sejumlah sektor.
Wali Kota Tangerang Selatan, Benyamin Davnie, menegaskan bahwa hingga saat ini tidak ada rencana perpanjangan status darurat tersebut.
“Tidak diperpanjang. Sampai hari ini tanggap darurat sampah tidak diperpanjang,” ujar Benyamin saat ditemui di kawasan Perkantoran Lengkong Wetan, Rabu 28 Januari 2026.
Menurut Benyamin, Pemkot Tangsel kini fokus pada penguatan sistem pengelolaan sampah dari hulu hingga hilir.
Salah satu langkah strategis yang dilakukan adalah memastikan Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Cipeucang tidak lagi difungsikan sebagai tempat pembuangan akhir, melainkan diarahkan menjadi lokasi pemrosesan akhir berbasis teknologi.
“Cipeucang tetap tidak kita gunakan sebagai tempat pembuangan akhir. Di sana akan kita jadikan tempat pemrosesan akhir dengan pendekatan teknologi, tentu ini membutuhkan dana dan waktu yang tidak sebentar,” jelasnya.
Benyamin mengatakan, untuk memenuhi kebutuhan pengolahan sampah harian, Pemkot Tangsel juga telah menjalin kerja sama pengangkutan sampah ke TPA Cilowong di Serang.
Saat ini, pengangkutan dilakukan hampir setiap malam dengan kapasitas mendekati maksimal.
“Sekarang kapasitasnya hampir 400 ton, sekitar 70 truk per malam. Kurang lebih 280 ton per hari kita angkut ke sana,” ungkap Benyamin.
Meski demikian, ia mengakui masih terdapat tumpukan sampah di sejumlah trotoar dan ruang publik. Hal tersebut disebabkan keterbatasan armada pengangkut.
Untuk mengatasi persoalan itu, Pemkot Tangsel tengah menyelesaikan proses kontraktual pengadaan transporter tambahan dari pihak swasta.
“Kalau transporter tambahan sudah ada, akan ada 42 truk dari pihak swasta yang membantu pengangkutan sampah di Tangerang Selatan,” katanya.
Selain penguatan di hilir, Pemkot Tangsel juga mendorong pengelolaan sampah dari hulu, khususnya di lingkungan masyarakat. Program pembuatan lubang biopori di setiap kelurahan menjadi salah satu fokus utama.
“Saya sudah targetkan setiap kelurahan membuat 1.000 sampai 2.000 lubang biopori di masyarakat,” tandas Benyamin.
Tak hanya itu, Benyamin menambahkan Pemkot Tangsel juga berencana membangun Tempat Edukasi dan Budidaya Sampah (TEBA) modern di kantor-kantor pemerintahan, mulai dari kelurahan hingga kecamatan, sebagai bagian dari upaya pengelolaan sampah berkelanjutan.
Editor Daru











