CILEGON, RADARBANTEN.CO.ID – Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Cilegon menyoroti kondisi lingkungan di Kota Cilegon yang dinilai mengalami defisit ekologis.
Kota industri strategis nasional tersebut disebut menghasilkan jutaan ton emisi karbon setiap tahun yang tidak sebanding dengan daya serap ruang terbuka hijau (RTH) yang tersedia.
Ketua HMI Cabang Cilegon, Tb Rizki Andika menjelaskan kendaraan bermotor yang melintas di jalan protokol Kota Cilegon menghasilkan sekitar 4,4 juta ton emisi karbon dioksida (CO₂) setiap tahunnya.
Sementara vegetasi dan ruang terbuka hijau yang tersedia hanya mampu menyerap sekitar 395 ribu ton emisi per tahun.
Dengan demikian, terdapat selisih sekitar 4 juta ton emisi karbon yang tidak terserap dan terus terakumulasi di udara.
Kondisi tersebut dinilai memperburuk kualitas udara serta meningkatkan risiko gangguan kesehatan bagi warga.
Selain persoalan emisi kendaraan, HMI juga menyoroti alih fungsi lahan hutan kota seluas 2,1 hektare yang kini berubah menjadi pusat gedung pemerintahan.
Kebijakan tersebut dinilai berpotensi mempersempit ruang terbuka hijau yang justru sangat dibutuhkan untuk menyerap emisi dan menjaga keseimbangan ekologis kota.
“Di tengah kondisi defisit serapan karbon yang sudah timpang, pengurangan hutan kota akan semakin memperparah situasi. Setiap hektare ruang hijau memiliki fungsi vital sebagai paru-paru kota. Jika terus berkurang, maka beban lingkungan akan semakin berat,” tegas Rizki pada Senin 3 Maret 2026.
HMI juga mengingatkan bahwa operasional industri berskala besar di Kota Cilegon berpotensi menimbulkan pencemaran berlapis, mulai dari limbah cair, emisi gas berbahaya, hingga limbah padat.
Persoalan tersebut diperparah dengan tantangan struktural seperti kelangkaan air baku dan keterbatasan energi pembangkit yang dalam jangka panjang dapat mengancam keberlanjutan operasional industri itu sendiri.
Reporter: Adam Fadillah
Editor: Agung S Pambudi












