KOTA JAKARTA, RADARBANTEN.CO.ID – Pembelajaran farmasi tidak berhenti pada penguasaan obat dan ilmu kefarmasian di ruang kelas. Melalui Praktik Farmasi Sosial (PFS), mahasiswa Program Studi Farmasi Universitas Esa Unggul Powered by Arizona State University mendapatkan pengalaman langsung untuk menerapkan pengetahuan sekaligus memahami kebutuhan kesehatan masyarakat.
Pengalaman tersebut dijalani mahasiswa PFS Kelompok 22 dibawah dampingan Dr. Anna Yuliana, S.K.M., M.Si. di RW 004, Kelurahan Kenari, Kecamatan Senen, Jakarta Pusat, selama 3–18 Agustus 2026. Dalam rangkaian kegiatan tersebut, mahasiswa tidak hanya memberikan edukasi kesehatan, tetapi juga terlibat dalam pelayanan Posyandu dan Posbindu, pemeriksaan kesehatan dasar, hingga kegiatan berbasis pemberdayaan masyarakat seperti penanaman Tanaman Obat Keluarga (TOGA) dan demonstrasi pembuatan minuman herbal.
Kegiatan ini merupakan bagian dari mata kuliah wajib bagi mahasiswa Semester 6 Angkatan 2023 Program Studi Farmasi Universitas Esa Unggul. Melalui PFS, mahasiswa belajar menerjemahkan pengetahuan akademik menjadi informasi dan praktik kesehatan yang dapat dipahami serta diterapkan masyarakat.
Belajar Memahami Kebutuhan Kesehatan Masyarakat
Selama pelaksanaan PFS, mahasiswa menjalankan tujuh program yang menyasar berbagai kelompok masyarakat. Program tersebut mencakup penyuluhan kesehatan, Posyandu Gemasting 3P, Posbindu, sosialisasi pembuatan spray antinyamuk, edukasi Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), penanaman TOGA, serta demonstrasi pembuatan minuman herbal berbahan jahe.
Salah satu kegiatan utama adalah edukasi mengenai hipertensi kepada masyarakat RW 004. Materi yang disampaikan mencakup pengertian hipertensi, faktor risiko, kemungkinan komplikasi apabila tidak dikendalikan, serta pentingnya menerapkan pola hidup sehat.
Interaksi langsung dengan masyarakat membuat mahasiswa tidak hanya berperan sebagai penyampai informasi. Berbagai pertanyaan dan pengalaman warga menjadi bagian dari proses pembelajaran yang membantu mahasiswa memahami bagaimana persoalan kesehatan muncul dalam kehidupan sehari-hari.
Pengalaman tersebut juga diperoleh ketika mahasiswa terlibat dalam kegiatan Posyandu dan Posbindu bersama kader PKK RW 004 dan Puskesmas Kenari. Mahasiswa membantu pelayanan kesehatan, pencatatan data, serta memberikan edukasi kepada peserta. Keterlibatan ini memperkenalkan mahasiswa pada pentingnya pemantauan kondisi kesehatan secara rutin pada berbagai kelompok usia.
Edukasi Kesehatan melalui Pendekatan yang Dekat dengan Masyarakat
PFS Kelompok 22 juga menunjukkan bahwa edukasi kesehatan dapat dilakukan melalui pendekatan sederhana dan kontekstual.
Dalam kegiatan sosialisasi pembuatan spray antinyamuk berbahan dasar serai, mahasiswa memperagakan proses pembuatannya sekaligus menjelaskan pemanfaatan serai sebagai bahan alami yang dikenal memiliki aroma yang tidak disukai nyamuk.
Sementara itu, edukasi PHBS diberikan kepada siswa-siswi SDS Rumah Kita dengan fokus pada kebiasaan mencuci tangan secara benar. Agar lebih mudah diterima anak-anak, mahasiswa menggunakan pendekatan interaktif melalui praktik langsung dan permainan edukatif.
Pendekatan tersebut menjadi pengalaman penting bagi mahasiswa karena menunjukkan bahwa komunikasi kesehatan perlu disesuaikan dengan karakter audiens. Informasi yang sama dapat membutuhkan cara penyampaian yang berbeda ketika diberikan kepada anak-anak, orang dewasa, maupun kelompok usia lanjut.
Selain edukasi, mahasiswa juga mengajak masyarakat melakukan penanaman TOGA. Kegiatan ini tidak hanya berupa pemberian bibit tanaman, tetapi disertai penjelasan mengenai pemanfaatan sejumlah tanaman obat yang umum dikenal dan digunakan dalam kehidupan sehari-hari.
Kegiatan lain yang mendapat perhatian masyarakat adalah demonstrasi pembuatan minuman herbal berbahan utama jahe. Mahasiswa memperlihatkan proses pembuatannya secara langsung sekaligus memperkenalkan jahe sebagai bahan alami yang telah lama dimanfaatkan dalam kehidupan sehari-hari.
Ketika Masyarakat Menjadi Bagian dari Proses Pembelajaran
Rangkaian kegiatan PFS tersebut memperlihatkan bahwa kompetensi mahasiswa farmasi tidak hanya dibangun melalui kemampuan memahami obat, senyawa, dan pelayanan kefarmasian. Mahasiswa juga perlu memiliki kemampuan berkomunikasi, memahami kebutuhan masyarakat, bekerja lintas pihak, serta menerjemahkan pengetahuan ilmiah menjadi informasi yang mudah dipahami.
Di RW 004 Kelurahan Kenari, mahasiswa berhadapan dengan kondisi nyata yang tidak selalu dapat ditemukan dalam buku teks maupun ruang kuliah. Mereka belajar bahwa edukasi kesehatan bukan sekadar menyampaikan informasi, tetapi juga membutuhkan kemampuan membangun interaksi, mendengarkan masyarakat, dan menciptakan kepercayaan.
Pada saat yang sama, masyarakat tidak hanya menjadi penerima informasi. Partisipasi dan antusiasme warga selama kegiatan menjadi bagian dari proses pembelajaran dua arah. Interaksi tersebut membuka ruang bagi perguruan tinggi untuk hadir secara lebih dekat sekaligus membangun hubungan yang bermanfaat dengan masyarakat.
Bagi Universitas Esa Unggul, Praktik Farmasi Sosial menjadi salah satu bentuk pembelajaran yang menghubungkan pendidikan tinggi dengan kebutuhan masyarakat. Pengalaman di lapangan memberikan mahasiswa bekal untuk memasuki dunia profesional dengan pemahaman bahwa kompetensi tenaga kefarmasian tidak hanya ditentukan oleh penguasaan ilmu, tetapi juga oleh kemampuan menggunakan ilmu tersebut secara tepat dan komunikatif.
Melalui kegiatan seperti ini, Universitas Esa Unggul terus mendorong pembelajaran yang memberikan pengalaman nyata kepada mahasiswa sekaligus menghadirkan manfaat bagi masyarakat. Dari ruang kelas hingga lingkungan warga, ilmu kefarmasian dibawa lebih dekat agar dapat dipahami, digunakan, dan memberikan dampak dalam kehidupan sehari-hari.












