PANDEGLANG, RADARBANTEN.CO.ID – Volume sampah di Kabupaten Pandeglang melonjak selama libur Lebaran 2026. Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Pandeglang mencatat, sampah yang masuk ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Bangkonol mencapai 67,3 ton pada puncak Idul Fitri.
Jumlah itu meningkat dibandingkan hari biasa yang rata-rata hanya 52,4 ton per hari. Kenaikan volume sampah diperkirakan mencapai sekitar 15 persen.
Sekretaris DLH Kabupaten Pandeglang, Winarno, mengatakan lonjakan sampah saat Lebaran didominasi dari sektor rumah tangga, pertokoan, pasar, hingga kawasan wisata.
“Berdasarkan data yang kami peroleh, pada puncak Idul Fitri volume sampah yang ditimbang di TPA Bangkonol mencapai 67,3 ton. Sementara hari biasa rata-rata sekitar 52,4 ton per hari,” kata Winarno, Senin 30 Maret 2026.
Menurut dia, lonjakan sampah paling tinggi terjadi di sejumlah titik keramaian, terutama kawasan wisata pantai, pusat kota, sekitar alun-alun, dan pasar tradisional.
“Yang signifikan itu di tempat wisata pantai, pusat-pusat keramaian kota, termasuk di sekitar alun-alun dan pasar. Sampah rumah tangga juga ikut meningkat,” ujarnya.
Winarno menjelaskan, jenis sampah yang mendominasi selama libur Lebaran relatif beragam, mulai dari sampah rumah tangga, plastik kemasan, hingga sampah dari kawasan wisata.
Meski begitu, pihaknya terus mendorong masyarakat agar membiasakan memilah sampah sejak dari sumber sebelum dibuang ke tempat pembuangan akhir.
“Kami sudah membiasakan masyarakat untuk melakukan pemilahan sampah sebelum dibuang ke TPA. Jadi, sampah yang masih punya nilai manfaat bisa diolah sendiri oleh masyarakat,” jelasnya.
Untuk mengantisipasi lonjakan volume sampah selama musim libur panjang, DLH Pandeglang mengaku telah menyiapkan pola penanganan khusus seperti tahun-tahun sebelumnya.
Pengangkutan sampah diprioritaskan di titik-titik yang dinilai rawan mengalami peningkatan timbulan sampah, terutama selama Ramadan, Lebaran, hingga pasca-Lebaran.
“Seperti tahun sebelumnya, kami siapkan pola khusus untuk menghadapi puasa, Lebaran, dan pasca-Lebaran, khususnya di titik-titik yang dianggap dominan,” kata Winarno.
DLH juga mengimbau para pengelola objek wisata agar menyediakan tempat sampah terpilah untuk memudahkan pengelolaan sampah organik dan anorganik.
“Kami juga sudah mengimbau pengelola wisata agar menyediakan bak sampah terpilah untuk organik dan anorganik,” tambahnya.
Meski volume sampah meningkat, Winarno menyebut sejauh ini belum ada kendala berarti yang dihadapi petugas kebersihan di lapangan. Namun, padatnya arus lalu lintas selama libur Lebaran membuat proses pengangkutan sampah menjadi lebih lambat.
“Sementara ini belum ada kendala yang berarti. Hanya saja, lalu lintas yang padat membuat waktu pengangkutan jadi lebih lama,” ujarnya.
DLH Pandeglang juga menekankan pentingnya peran masyarakat dalam mengurangi timbulan sampah, khususnya di lingkungan permukiman, area publik, dan tempat wisata.
Sebagai upaya jangka panjang, Pemkab Pandeglang telah menerbitkan surat edaran bupati terkait pembentukan bank sampah di setiap desa, minimal satu unit.
“Kami sudah membuat surat edaran bupati agar di setiap desa dibentuk minimal satu bank sampah. Harapannya, ini bisa membantu mengurangi timbulan sampah, terutama sampah anorganik,” kata Winarno.
DLH pun mengimbau wisatawan agar membawa kantong sampah sendiri dan tidak membuang sampah sembarangan saat berwisata. Winarno juga meminta masyarakat memilah sampah sesuai jenisnya agar memudahkan proses pengolahan.
“Kami mengimbau wisatawan membawa kantong sampah sendiri atau membuang sampah pada tempat yang sudah disediakan. Sampah juga harus dipilah, organik di tempat warna hijau, anorganik di warna kuning, dan B3 di warna merah,” tegasnya.
Ia menegaskan, persoalan sampah bukan semata tanggung jawab pemerintah atau petugas kebersihan. Menurutnya, setiap individu harus bertanggung jawab atas sampah yang dihasilkan.
“Sesuai undang-undang, setiap individu bertanggung jawab terhadap sampah yang dihasilkannya. Pemerintah hanya menyiapkan sarana dan prasarananya,” ujarnya.
Winarno menambahkan, persoalan sampah kini bukan lagi isu daerah semata, melainkan sudah menjadi persoalan nasional hingga global. Karena itu, kesadaran masyarakat dinilai menjadi kunci utama dalam menciptakan lingkungan yang bersih dan sehat.
“Semakin tinggi kesadaran masyarakat dalam mengelola dan mengurangi sampah, maka semakin maju pula peradaban suatu daerah,” pungkasnya.
Editor: Bayu Mulyana











