TANGERANG, RADARBANTEN.CO.ID – Di era modern saat ini, batas antara dunia bisnis dan akademik semakin tipis. Banyak pengusaha sukses tidak lagi hanya fokus membangun perusahaan, tetapi juga memperdalam ilmu pengetahuan melalui pendidikan tinggi. Fenomena ini melahirkan sosok baru: pengusaha sekaligus investor yang aktif di dunia akademia, bahkan sedang menempuh pendidikan doktoral (S3).
Menjalani peran sebagai pengusaha, investor, dan akademisi tentu bukan perkara mudah. Ketiganya membutuhkan waktu, fokus, serta tanggung jawab besar. Namun bagi sebagian orang, kombinasi tersebut justru menjadi kekuatan yang saling melengkapi.
Seorang pengusaha terbiasa mengambil keputusan cepat, membaca peluang, serta menghadapi risiko. Sementara dunia akademik mengajarkan pendekatan ilmiah, analisis mendalam, dan kemampuan berpikir kritis.
Ketika dua dunia ini bertemu, lahirlah perspektif yang lebih luas dalam melihat perkembangan ekonomi, teknologi, maupun sosial masyarakat.
“Tak sedikit pengusaha yang memilih melanjutkan studi S3 karena ingin membangun bisnis berbasis riset dan inovasi. Mereka menyadari bahwa perkembangan teknologi, artificial intelligence (AI), transformasi digital, hingga perubahan perilaku pasar membutuhkan pemahaman yang lebih mendalam dan ilmiah,” kata Intan Kemala Hidayat Kartasasmita, S.E., M.M salah satu Mahasiswi Pendidikan S3 Doctor Ilmu Ekonomi Trisakti.
Selain itu, kata Intan, pengalaman sebagai investor juga memberikan sudut pandang berbeda dalam dunia pendidikan. Investor terbiasa melihat potensi jangka panjang dan menilai sebuah ide dari aspek keberlanjutan.
“Kemampuan ini sangat membantu dalam penelitian akademik, terutama dalam menghasilkan solusi yang aplikatif bagi masyarakat maupun industri,” ucapnya.
“Menjadi mahasiswa doktoral di tengah kesibukan bisnis tentu menghadirkan tantangan tersendiri. Jadwal rapat, pengelolaan perusahaan, aktivitas investasi, hingga tanggung jawab akademik harus dijalani secara bersamaan. Tidak jarang waktu istirahat menjadi lebih sedikit dibandingkan kebanyakan orang,” tambah sang wanita pebisnis tersebut.
Namun, di balik tantangan tersebut terdapat semangat belajar yang luar biasa. Pendidikan S3 bukan sekadar mengejar gelar, melainkan proses memperluas wawasan dan membangun kontribusi nyata bagi ilmu pengetahuan. Banyak pengusaha yang ingin penelitiannya mampu memberikan dampak langsung terhadap perkembangan industri, pendidikan, hingga pemberdayaan masyarakat.
Kehadiran sosok pengusaha-akademisi juga membawa warna baru di lingkungan kampus. Pengalaman praktis dari dunia bisnis membuat diskusi akademik menjadi lebih kontekstual dan relevan dengan kebutuhan industri saat ini. Sebaliknya, dunia kampus memberikan pendekatan ilmiah yang dapat meningkatkan kualitas pengambilan keputusan dalam bisnis dan investasi.
“Fenomena ini menunjukkan bahwa belajar tidak mengenal usia maupun status. Kesuksesan finansial tidak menghentikan seseorang untuk terus mencari ilmu. Justru semakin tinggi pengalaman seseorang, semakin besar pula kesadaran bahwa pengetahuan harus terus diperbarui,” papar Intan.
Di tengah perubahan zaman yang bergerak cepat, kombinasi antara pengusaha, investor, dan akademia menjadi sosok penting dalam menciptakan inovasi masa depan. Mereka tidak hanya mengejar keuntungan bisnis, tetapi juga berupaya menghadirkan solusi, inspirasi, dan kontribusi nyata bagi masyarakat melalui pendidikan dan penelitian.
Menempuh pendidikan S3 di tengah aktivitas bisnis adalah bukti bahwa semangat belajar dan berkembang tidak pernah berhenti. Sebab pada akhirnya, ilmu pengetahuan dan pengalaman adalah investasi terbaik untuk masa depan.
Reporter: Eko Fajar A









