KOTA TANGSEL, RADARBANTEN.CO.ID – Muhammad Arbani dikenal sebagai sosok di balik lahirnya platform digital BantuCari. Pria kelahiran Jakarta, 13 Oktober 1996 itu membangun platform tersebut dari pengalaman pribadinya saat kehilangan barang berharga.
Pengalaman tersebut membuat Arbani merasakan kepanikan dan kebingungan ketika harus mencari bantuan secara cepat. Dari situ, ia menyadari masyarakat membutuhkan akses bantuan yang mudah, cepat, dan terhubung dalam satu sistem digital.
Berangkat dari pemikiran tersebut, Arbani kemudian mendirikan BantuCari. Yaitu platform yang menghubungkan masyarakat dengan layanan bantuan terdekat dan terpercaya.
“Menjadikan BantuCari sebagai ekosistem bantuan paling diandalkan yang dapat membantu jutaan orang di seluruh Indonesia dalam hitungan detik,” ujar Arbani, Senin 11 Mei 2026.
Di bawah kepemimpinannya sebagai CEO, BantuCari terus berkembang menjadi platform digital yang menyediakan berbagai layanan bantuan masyarakat. Mulai dari informasi kehilangan barang, kebutuhan darurat, hingga pencarian orang.
Menurut Arbani yang menyandang Magister Kenotariatan Universitas Indonesia ini, BantuCari bukan sekadar inovasi teknologi. Namun, platform itu juga memiliki misi sosial untuk membantu masyarakat yang sedang berada dalam situasi sulit.
“Memperluas jangkauan bantuan dengan terus berinovasi agar platform ini tidak hanya mencakup pencarian barang. Tapi juga menjadi jaringan pengaman sosial yang mampu menangani berbagai kondisi darurat secara efisien,” ujar Ariani, yang pernah mengambil Master of Law di Leeds Beckett University.
Ia juga ingin teknologi dapat menghadirkan rasa aman bagi masyarakat melalui layanan yang mudah diakses kapan saja. “Menciptakan rasa aman melalui teknologi, saya ingin memberikan ketenangan bagi masyarakat bahwa bantuan selalu ada dalam genggaman,” tuturnya.
Dengan semangat inovasi dan kepedulian sosial, Arbani berkomitmen mengembangkan BantuCari menjadi platform yang tidak hanya unggul secara teknologi, tetapi juga memiliki nilai kemanusiaan dalam membantu sesama.
Editor : Rostinah









