CILEGON,RADARBANTEN.CO.ID – Siti Nurcahya tidak menyangka jika di usianya yang baru 33 tahun harus mengalami kondisi gawat darurat yang mengharuskan dirinya mendapatkan penanganan medis serius. Perempuan asal Kecamatan Cibeber, Kota Cilegon itu menderita usus buntu pecah sehingga harus menjalani operasi.
Operasi berlangsung di Rumah Sakit Krakatau Medika (RSKM) Cilegon. Beruntung tindakan medis tersebut berjalan lancar.
Ditemui pada awal Juni lalu, perempuan kelahiran Oktober 1992 itu pun tinggal menjalani perawatan pasca operasi. Selain kondisi yang semakin membaik, hal lain yang Nurcahya syukuri adalah kepesertaan BPJS Kesehatan.
Pasalnya, serangkaian tindakan medis yang diterimanya agar bisa selamat dari kondisi gawat darurat tersebut ditanggung oleh BPJS Kesehatan. Saat ditemui di ruang rawat inap RSKM, Nurcahya bercerita, dirinya tak menyangka akan mengalami hal tersebut.
Perempuan berambut panjang dengan warna pirang di bagian ujungnya itu mengaku belum pernah sakit parah.
“Sekalinya sakit langsung masuk UGD,” ujar pekerja swasta tersebut.
Ia mengaku mempunyai riwayat asam lambung, namun tak menyadari jika selama ini alami usus buntu lantara tidak ada tanda tanda yang dirasakan sebelumnya. Nurcahya mengaku bekerja di Jakarta, sakit di bagian perut dirasakannya saat sedang berada di rumahnya di Kecamatan Cibeber, Kota Cilegon.
Karena sakit yang sangat parah, Nurcahya dilarikan ke RSKM dan langsung masuk UGD. Saat itu lah Ia tahu jika rasa sakit parah itu berasal dari usus buntu yang telah pecah.
Setelah menderita penyakit tersebut dan menjalani operasi, Ia mengaku membuktikan seberapa besarnya manfaat BPJS Kesehatan. Menurutnya, BPJS Kesehatan sangat membantu bagi orang yang alami kondisi medis darurat seperti yang dialaminya.
“BPJS (Kesehatan-red) sangat membantu, terutama untuk kita yang sedang membutuhkan,” tuturnya.
Kendati berobat menggunakan BPJS Kesehatan, Nurcahya mengaku mendapatkan pelayanan medis yang sangat baik. Sejak masuk UGD, operasi, hingga perawatan pasca operasi, semuanya terlayani baik oleh RSKM tanpa harus mengeluarkan biaya tambahan apapun.
“Program ini harus tetap ada, jangan dihapuskan,” ujarnya. (*)








