KOTA TANGERANG, RADARBANTEN.CO.ID-Ritual memandikan perahu leluhur menjadi daya tarik utama dalam Festival Budaya Petjoen yang digelar di Klenteng Koet Goan Bio (Mpeh Peh Cun), Kelurahan Sukajadi, Kecamatan Karawaci, Kota Tangerang.
Tradisi khas masyarakat Cina Benteng tersebut menyedot ribuan pengunjung dari berbagai daerah.
Wakil Ketua Panitia Festival Budaya Petjoen, Anto Tjiu Abaw, mengatakan tradisi Peh Cun rutin digelar setiap tahun sebagai bentuk penghormatan kepada Qu Yuan (Koet Goan).
Ritual tersebut ditandai dengan pembukaan dan pemandian perahu keramat yang dipercaya telah berusia ratusan tahun.
“Tradisi Petjoen dilaksanakan setiap tanggal lima bulan lima dalam penanggalan Tionghoa atau Go Gwe Ce Go. Tujuannya untuk mengenang leluhur melalui perahu keramat yang dibuka, dimandikan, dan diberkati setahun sekali,” kata Anto, Kamis 18 Juni 2026.
Dalam prosesi tersebut, perahu keramat dimandikan menggunakan air kembang yang telah didoakan oleh pemuka agama. Air dan kain merah yang digunakan dalam ritual kemudian dibagikan kepada masyarakat karena dipercaya membawa keberkahan, kesehatan, dan keselamatan.
Menurut Anto, perahu keramat tersebut memiliki nilai sejarah yang tinggi. Berdasarkan cerita turun-temurun, perahu itu merupakan peninggalan leluhur masyarakat Tionghoa yang datang ke wilayah Tangerang melalui Sungai Cisadane.
“Karena itulah tradisi ini selalu dinantikan masyarakat, bukan hanya warga sekitar, tetapi juga pengunjung dari Jakarta, Bogor, Cilegon, dan daerah lainnya,” ujarnya.
Selain ritual utama, Festival Budaya Petjoen juga diramaikan berbagai kegiatan budaya seperti pertunjukan musik gambang kromong, pembagian kue sangjit, serta bazar kuliner yang berlangsung pada 15 hingga 19 Juni 2026.
Panitia berharap tradisi tersebut terus dilestarikan sebagai bagian dari kekayaan budaya Kota Tangerang dan dapat diteruskan kepada generasi mendatang.
“Kami ingin tradisi ini menjadi milik bersama sehingga seluruh masyarakat dapat menikmati kebersamaan sekaligus mengenal budaya Cina Benteng yang telah menjadi bagian dari sejarah Kota Tangerang,” pungkas Anto.
Editor: Bayu Mulyana











