SERANG, RADARBANTEN.CO.ID – Kondisi Sungai Ciujung di Kabupaten Serang kembali menjadi sorotan. Memasuki musim kemarau, kualitas air sungai terus memburuk. Air berubah menjadi hitam pekat, mengeluarkan bau menyengat, serta tampak lapisan menyerupai minyak mengambang di permukaannya.
Berdasarkan pantauan Radar Banten pada Minggu, 19 Juli 2026, perubahan warna air terlihat mulai dari kawasan Jembatan Kragilan-Kibin di Jalan Raya Serang-Jakarta. Memasuki wilayah Tirtayasa, tepatnya di Jembatan Jongjing, warna air semakin pekat disertai aroma menyengat yang tercium hingga ke permukiman warga di sekitar bantaran sungai.
Selain itu, kilapan menyerupai minyak tampak mengapung di permukaan Sungai Ciujung, meski saat itu debit air masih relatif tinggi.
Kondisi yang lebih memprihatinkan terlihat di Desa Tengkurak, Kecamatan Tirtayasa. Air sungai tampak semakin hitam dan bau yang ditimbulkan semakin menyengat. Warga yang tinggal di sekitar bantaran sungai mengaku harus menghadapi kondisi tersebut setiap hari.
Mereka mengeluhkan bau yang membuat sesak napas, memicu batuk, hingga menyebabkan gatal-gatal saat bersentuhan dengan air sungai.
Tak hanya warga, pencemaran Sungai Ciujung juga mengancam mata pencaharian nelayan tambak di Desa Tengkurak. Para pembudidaya ikan bandeng dan nila terpaksa menutup pintu masuk air dari sungai ke tambak menggunakan plastik tebal, kayu, dan lumpur agar air tercemar tidak masuk ke kolam budidaya.
Salah seorang nelayan tambak, Wandi, mengatakan kondisi air Sungai Ciujung yang menghitam telah berlangsung sekitar tiga bulan terakhir.
“Kalau airnya masuk ya bisa-bisa pada mati ikannya. Makanya kita urugin (tutup) supaya ikan mujair sama bandengnya enggak mati,” ujarnya saat ditemui di tambaknya, Minggu 19 Juli 2026.
Meski berhasil melindungi ikan di tambaknya, Wandi mengaku kehilangan sumber penghasilan harian. Biasanya ia memasang perangkap udang dan ikan di pintu masuk tambak saat air pasang.
“Biasanya pasang jebakan, kalau air rob lumayan dapat ikan atau udang sampai satu kilo buat dijual kebutuhan sehari-hari. Sekarang sudah enggak bisa lagi. Yang penting ikan di tambak selamat,” katanya.
Menurutnya, pencemaran Sungai Ciujung juga berdampak terhadap hasil panen. Tambak seluas 2,5 hektare miliknya yang biasanya mampu menghasilkan lebih dari satu kuintal ikan, kini hanya mampu menghasilkan sekitar tiga hingga lima timbangan karena banyak ikan yang mati.
“Kalau lagi begini paling tiga sampai lima timbang panennya. Banyak yang mati,” ujarnya.
Ia mengaku bingung dengan kondisi Sungai Ciujung yang semakin tercemar. Selain kehilangan penghasilan dari hasil tangkapan di sungai, ia juga khawatir bibit ikan yang ditebar di tambak mati akibat limbah.
Karena itu, Wandi berharap pemerintah maupun perusahaan yang beroperasi di sekitar Sungai Ciujung dapat memberikan bantuan kepada masyarakat terdampak, seperti bantuan bibit ikan apabila terjadi kematian massal.
“Misalkan ngasih bibit ikan ke kita kalau ikan-ikan kami pada mati. Selama ini enggak ada, semuanya modal sendiri. Kalau banyak yang mati ya kami yang nanggung,” katanya.
Ia mengenang, sebelum kawasan industri berkembang di Kabupaten Serang, Sungai Ciujung menjadi sumber kehidupan masyarakat. Air sungai dimanfaatkan untuk mengairi tambak dan sawah, mandi, mencuci, hingga kebutuhan memasak.
Sementara itu, warga Desa Tengkurak lainnya, Sutini, mengatakan pencemaran Sungai Ciujung membuat aktivitas masyarakat terganggu. Warga kini tidak lagi bisa menggunakan air sungai untuk kebutuhan sehari-hari.
“Sekarang harus beli air buat kebutuhan sehari-hari, mulai mandi, mencuci sampai memasak. Per galon Rp4 ribu. Air sumur juga bau karena rumah dekat sungai,” ujarnya.
Selain kesulitan mendapatkan air bersih, warga juga mengaku mengalami gangguan kesehatan seperti batuk, sesak napas, dan gatal-gatal.
“Nyesek, bikin batuk,” katanya.
Sutini berharap pemerintah maupun pihak swasta dapat segera menyalurkan bantuan air bersih kepada warga Desa Tengkurak agar beban masyarakat dapat berkurang.
Editor: Mastur Huda










