KABUPATEN TANGERANG, RADARBANTEN.CO.ID – Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Tangerang mencatat persentase penduduk miskin di Kabupaten Tangerang pada 2025 mengalami penurunan menjadi 6,42 persen. Angka tersebut turun dibandingkan tahun 2024 yang mencapai 6,55 persen.
Statistisi Ahli Muda BPS Kabupaten Tangerang, Masayu Norma Yunita Sari, mengatakan data tersebut diperoleh melalui Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) yang digunakan untuk mengestimasi tingkat kemiskinan makro di daerah.
“Penentuan diawali dengan menetapkan garis kemiskinan. Penduduk yang berada di bawah garis kemiskinan tersebut kemudian dikategorikan sebagai penduduk miskin,” ujar Masayu, Rabu, 5 Agustus 2026.
BPS menetapkan garis kemiskinan Kabupaten Tangerang pada 2025 sebesar Rp655.324 per kapita per bulan. Berdasarkan hasil perhitungan tersebut, jumlah penduduk miskin diperkirakan mencapai sekitar 265 ribu jiwa.
Meski persentase kemiskinan mengalami penurunan, Masayu menjelaskan jumlah penduduk miskin secara absolut tidak mengalami perubahan signifikan. Hal itu dipengaruhi oleh pertumbuhan jumlah penduduk Kabupaten Tangerang yang terus meningkat.
“Penurunannya lebih terlihat pada persentase. Secara jumlah absolut terdapat perubahan karena total penduduk Kabupaten Tangerang juga terus bertambah,” ungkapnya.
Menurut Masayu, pengukuran kemiskinan melalui Susenas tidak hanya melihat faktor pendapatan, tetapi juga mempertimbangkan berbagai indikator lain. Di antaranya kondisi tempat tinggal, pengeluaran konsumsi makanan dan nonmakanan, serta kepemilikan aset rumah tangga.
Terkait perbedaan data kemiskinan dengan pemerintah daerah maupun Dinas Sosial, Masayu menjelaskan bahwa BPS menggunakan metode survei berbasis sampel. Karena itu, data yang dihasilkan bukan berupa daftar penduduk miskin berdasarkan nama dan alamat (by name by address).
“Data yang kami hasilkan merupakan estimasi tingkat kabupaten, sehingga tidak dapat menunjukkan siapa saja penduduk miskin berdasarkan desa atau kecamatan untuk keperluan penyaluran bantuan,” terangnya.
Ia menambahkan, penyebaran sampel Susenas di Kabupaten Tangerang disesuaikan dengan kepadatan penduduk. Kecamatan dengan jumlah penduduk besar seperti Pasar Kemis, Rajeg, dan Cikupa mendapatkan jumlah sampel yang lebih banyak.
Secara keseluruhan, survei tersebut melibatkan sekitar 170 Satuan Lingkungan Setempat (SLS) atau sekitar 1.700 rumah tangga di Kabupaten Tangerang.
“Nah, hasil akhir perhitungan indikator kemiskinan, termasuk indeks kedalaman kemiskinan, akan difinalisasi dan dipublikasikan oleh BPS Pusat,” pungkasnya.
Editor: Mastur Huda

