Oleh: H. M. Aopidi (Kepala Desa Kadugenep, Kecamatan Petir, Kabupaten Serang)
Kami ucapkan terima kasih kepada Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal Republik Indonesia, Bapak Yandri Susanto, Wakil Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal Republik Indonesia, Bapak Ahmad Riza Patria, serta seluruh jajaran atas dukungan, arahan, serta bimbingannya sehingga kami dapat pengalaman yang berharga untuk kami terapkan di kampung halaman serta membangun Indonesia dari Desa.
Inovasi menjadi keniscayaan bagi pemerintah untuk pelayanan publik yang optimal, serta mewujudkan kemandian ekonomi masyarakat, tak terkecuali pemerintah Desa. Inspirasi itu setidaknya menjadi kerangka berfikir bagi kami setelah mengikuti Program Pelatihan Kader Desa Indonesia di Tiongkok yang berlangsung pada tanggal 14 Juli hingga 4 Agustus 2026.
Program atas undangan dari Kementerian Perdagangan Republik Rakyat Tiongkok dan diselenggarakan oleh Pusat Layanan Kerja Sama Internasional, Kementerian Pertanian dan Urusan Perdesaan Republik Rakyat Tiongkok, serta didanai sepenuhnya oleh Pemerintah Republik Rakyat Tiongkok serta dikoordinasikan oleh Kedutaan Besar Tiongkok di Indonesia serta Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal.
Selama 21 hari penuh belajar di Tiongkok, membuka sudut pandang pikiran kami sebagai kepala desa, bahwa pemerintah Desa bukan hanya sebatas ujung tombak layanan publik saja, akan tetapi juga menjadi pilar pembangunan Indonesia yang dimulai dari Desa.
Secara garis besar, ada dua hal yang kami dapatkan yang kemudian menjadi inspirasi untuk diterapkan di desa kami. Pertama, soal layanan publik yang prima diselenggarakan melalui digitalisasi. Kedua, terkait pemanfaatan teknologi untuk pengembangan pertanian.
Tiongkok memang mempunyai pola pikir yang lebih maju, didukung dengan infrastruktur dan anggaran yang sangat cukup. Dalam hal penyelenggaraan pelayanan publik, Tiongkok sudah jauh lebih dulu menerapkan digitalisasi, sehingga masyarakat yang ingin mendapatkan layanan, sangat mudah dan cepat mengaksesnya.
Di bidang pertanian, Tiongkok memiliki sumber daya manusia (SDM) yang mumpuni, kemudian didukung dengan penggunaan teknologi yang modern. Sehingga pertanian menjadi sektor ekonomi yang krusial, yang bukan hanya dijalankan oleh petani konvensional yang sudah renta. Pertanian Tiongkok hampir sepenuhnya dilakukan menggunakan kecanggihan teknologi. Mulai dari menggarap lahan, menanam, hingga memanen. Semuanya menggunakan teknologi modern, sehingga prosesnya bisa lebih cepat, efisien dan maksimal.
Ditambah lagi dukungan pemerintah yang sangat kuat untuk sektor pertanian. Para petani tidak sulit untuk mendapatkan alat-alat canggih tersebut. Tak kalah pentingnya, inovasi yang lahir dapat merubah semua yang sulit menjadi ringan.
Dua sektor itu cukup membuat kami merubah kerangka berpikir, bahwa inovasi menjadi kewajiban dalam menyelenggarakan pemerintahan. Sehingga persoalan keterbatasan anggaran dapat menemui jalannya.
Saya selalu Kepala Desa Kadugenep, Kecamatan Petir, Kabupaten Serang, tentu sudah mengidentifikasi potensi lokal yang harus dikembangkan melalui inovasi yang harus dilahirkan. Ada dua potensi yang bisa kembangkan di desa kami, pengembangan UMKM serta pertanian dan perkebunan.
Meskipun tidak sepenuhnya dapat kami adopsi dari Tiongkok karena keterbatasan berbagai hal, setidaknya setelah kami belajar dari Tiongkok, ada motivasi yang dapat kami pegang. Bahwa semua kemajuan itu berawal dari sebuah inovasi. Hal yang paling mendasar yang akan kami lakukan, adalah merubah mindset masyarakat untuk benar-benar siap menghadapi tantangan industri. Kemudian membangun kolaborasi dengan lintas sektor, baik dengan pemerintah daerah maupun swasta.

