KOTA TANGERANG, RADARBANTEN.CO.ID – Tiga dekade mengabdi sebagai guru membuat Dedi Herdiana mengalami langsung perubahan dunia pendidikan, dari era pembelajaran konvensional hingga perkembangan teknologi yang kini semakin memengaruhi proses belajar mengajar.
Guru SMP Negeri 9 Kota Tangerang itu menerima penghargaan Satyalencana pada momentum HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia. Penghargaan tersebut diserahkan Wali Kota Tangerang Sachrudin bersama Wakil Wali Kota Tangerang Maryono dalam upacara peringatan HUT ke-81 RI di Lapangan Ahmad Yani, Alun-Alun Kota Tangerang, Senin, 17 Agustus 2026.
Bagi Dedi, penghargaan tersebut bukan sekadar pengakuan atas lamanya masa pengabdian. Penghargaan itu justru menjadi pengingat bahwa tugas guru tidak berhenti pada menyampaikan materi pelajaran, tetapi juga membentuk karakter dan mempersiapkan siswa menghadapi perubahan zaman.
Perjalanan Dedi sebagai abdi negara dimulai pada 1994 ketika ia menjadi Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS). Selama perjalanan kariernya, ia pernah mengajar di SMP Negeri 19 Kota Tangerang dan SMP Negeri 27 Kota Tangerang sebelum akhirnya bertugas di SMP Negeri 9 Kota Tangerang.
Puluhan tahun berada di ruang kelas membuat Dedi menyaksikan perubahan pola belajar peserta didik. Salah satu tantangan yang dihadapinya adalah perkembangan teknologi yang menuntut guru terus meningkatkan kemampuan.
Menurut Dedi, guru tidak boleh berhenti belajar hanya karena telah lama mengajar. Kemampuan mengikuti perkembangan teknologi diperlukan agar metode pembelajaran tetap sesuai dengan kebutuhan peserta didik.
Selain kemampuan akademik, ia menilai guru memiliki tanggung jawab untuk menanamkan nilai dan membangun karakter siswa. Peran tersebut menjadi semakin penting di tengah perubahan lingkungan belajar dan perkembangan teknologi yang begitu cepat.
Penghargaan Satyalencana yang diterimanya pun tidak dianggap sebagai titik akhir pengabdian. Dedi masih akan melanjutkan tugasnya sebagai pendidik hingga memasuki masa purnabakti.
“Saya masih memiliki waktu untuk terus memberikan kontribusi hingga memasuki masa purnabakti yang pada 2028 mendatang,” ujarnya.
Dengan sisa masa pengabdian tersebut, Dedi memilih tetap berada di ruang kelas dan memberikan kontribusi bagi peserta didik. Baginya, pengalaman selama 30 tahun menjadi modal untuk terus beradaptasi sekaligus membagikan pengetahuan kepada generasi berikutnya.
Reporter: Syaiful Adha – Editor: Aas Arbi

