SERANG, RADARBANTEN.CO.ID – Pemerintah Kota (Pemkot) Serang menyiapkan tiga strategi untuk menjaga pasokan pangan dan mengendalikan harga kebutuhan pokok di tengah ancaman bencana kekeringan dan perubahan cuaca ekstrem.
Langkah tersebut disiapkan melalui Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Kota Serang untuk mengantisipasi dampak perubahan iklim terhadap produksi pertanian yang berpotensi memicu kenaikan harga pangan.
Wakil Wali Kota Serang, Nur Agis Aulia, mengatakan bahwa perubahan iklim ekstrem perlu diantisipasi karena dampaknya dapat merembet dari sektor pertanian hingga ke pasar dan masyarakat.
“Kekeringan sudah terjadi di beberapa daerah termasuk Kota Serang. Ini berdampak pada sektor pertanian. Ada pergeseran musim tanam dan potensi gagal panen yang mengancam pasokan pangan,” kata Agis pada Jumat, 21 Agustus 2026.
Menurutnya, terganggunya produksi pertanian dapat berdampak langsung terhadap ketersediaan pangan.
Ketika pasokan berkurang, harga komoditas di pasar berpotensi mengalami kenaikan.
“Kalau pasokan terganggu, harga di pasar pasti melonjak. Dan yang pertama merasakan dampaknya adalah masyarakat kecil,” ujarnya.
Untuk mengantisipasi kondisi tersebut, TPID Kota Serang menetapkan tiga strategi utama.
Pertama, memperkuat ekosistem pangan daerah dari hulu hingga hilir dengan memperkuat rantai pasok lokal, mengoptimalkan lumbung pangan dan memperluas kerja sama antardaerah dengan wilayah sentra produksi pangan.
Kedua, memperkuat mitigasi perubahan iklim di sektor pertanian. Dinas Pertanian didorong meningkatkan pendampingan kepada petani, termasuk melalui pemanfaatan teknologi pertanian adaptif iklim, perbaikan sistem irigasi serta penggunaan varietas bibit yang lebih tahan terhadap cuaca ekstrem.
Ketiga, melakukan intervensi pasar secara terukur dan berbasis data. Pemkot Serang melakukan pemantauan harga bahan pokok secara real-time untuk mendeteksi lebih awal komoditas yang mulai mengalami kenaikan.
Jika terjadi gejolak harga, pemerintah dapat melakukan intervensi melalui Operasi Pasar Murah, Gerakan Pangan Murah maupun pemanfaatan Cadangan Pangan Pemerintah Daerah secara tepat sasaran.
Ketiga strategi tersebut diperkuat dengan pendekatan 4K, yakni Keterjangkauan Harga, Ketersediaan Pasokan, Kelancaran Distribusi dan Komunikasi Efektif.
Agis mengatakan, pengendalian inflasi membutuhkan kerja sama lintas sektor.
Karena itu, koordinasi dengan berbagai pihak dinilai penting agar potensi gangguan pasokan dan kenaikan harga dapat diantisipasi sejak awal.
“Kunci utamanya: sinergi dan kolaborasi. Hilangkan ego sektoral,” tegasnya.
Kolaborasi tersebut melibatkan Bank Indonesia, BPS, Satgas Pangan Polres, Kejaksaan, Dandim 0602 serta seluruh pemangku kepentingan terkait.
Upaya pengendalian inflasi Kota Serang sejauh ini menunjukkan hasil positif. Inflasi Kota Serang pada Juli 2026 tercatat 2,77 persen secara tahunan atau year on year (YoY), masih berada dalam rentang sasaran inflasi nasional sebesar 2,5 persen plus minus 1 persen.
Pemkot Serang berharap, strategi tersebut dapat menjaga stabilitas harga sekaligus melindungi daya beli masyarakat di tengah ancaman perubahan iklim dan gejolak pangan.
Editor: Agus Priwandono












