PANDEGLANG, RADARBANTEN.CO.ID – Kepala SDN Jiput 4, Ira Pujianti, berinisiatif menata lahan berbukit untuk dijadikan lapangan upacara.
Lahan SDN Jiput 4 di Kampung Paniis, Desa Jiput, Kecamatan Jiput, Kabupaten Pandeglang memiliki luas 1.689,74 meter. Seluas 600 meter persegi di antaranya sudah menjadi bangunan sekolah. Lahan sisanya, dalam proses pemerataan untuk lapangan upacara.
Awal pemerataan pada Juni 2025 dilakukan secara manual menggunakan cangkul. Lalu, untuk mempercepat pekerjaan, ada warga menawarkan menggunakan alat berat.
Proses penggalian itu berjalan atas hasil musyawarah dengan masyarakat yang disebut tanpa izin dari Disdikpora Pandeglang.
Jadi penggalian itu tanpa ada permintaan biaya. Pihak sekolah juga tidak mendapatkan apa-apa saat tanah itu menjadi bahan urukan dan dijual kepada pihak lain.
Selain lahan sekolah, ternyata warga setempat juga yang memiliki lahan akhirnya turut menjual tanah untuk bahan urukan.
Pemerataan lahan sekolah itu malah berpotensi menimbulkan bencana tanah longsor.
Penggaliannya terlalu dalam hingga sampai mendekati fondasi bangunan sekolah. Apabila tidak segera melakukan pemasangan TPT atau turap bisa menyebabkan longsor.
“Karena saat itu lahan tidur berbukit atau tak beraturan jadi ingin ada pematangan lahan agar rata. Tujuannya ingin punya lapangan,” kata Kepala SDN Jiput 4, Ira Pujianti, Sabtu, 22 Agustus 2026.
Selain untuk lapangan upacara, kata Ira, sekolah mengajukan untuk pembangunan ruang kelas baru setelah lahannya rata. Saat itu, pihak sekolah bermusyawarah dengan masyarakat.
“Pas kumpul itu, disepakati melakukan pengerukan menggunakan alat seadanya, menggunakan cangkul,” katanya.
“Warga setempat ada yang bersedia mendatangkan alat berat dan mengelolanya (melakukan penggalian lahan-red). Lahan digali itu aset sekolah seluas 1.000 meter,” katanya.
“Saat itu penggalian sempat stop karena membuat banjir ke sekolah. Kami emggak nyangka bakal begini, penggalian dalam dan berpotensi menyebabkan longsor,” katanya.
Ira mengakui, memang setelah proses penggalian saat ini sekolah punya tanah lapangan. Ada tempat bermain.
“Han saja saat ini kondisinya mengkhawatirkan jadi perlu ada penanganan lebih lanjut,” katanya.
Editor: Agus Priwandono

