Dua puluh lima tahun lalu, sekitar pertengah 2001, saya mengenal seorang warga Baduy Luar. Namanya Sarip. Ketika itu, ia sudah memiliki dua anak. Itoh berusia enam tahun. Wawan baru satu tahun. Saya memanggilnya Kak Sarip. Kadang Mang Sarip.
Sabtu kemarin, saya kembali menemuinya. Panggilannya sudah berubah: Olot Sarip. Bukan hanya karena ia telah memiliki tiga cucu. Enam tahun lalu, Sarip diangkat menjadi salah seorang kokolot Baduy. Ia masuk dalam kelembagaan adat yang biasa disebut Jaro Tujuh.
Meski namanya Jaro Tujuh, anggotanya berjumlah 15 orang. Salah seorang di antaranya disebut Tangkesan. Tugasnya membawa pesan, memberikan pertimbangan, dan mengusulkan jalan keluar ketika ada persoalan besar yang harus diputuskan oleh Puun.

Jabatan Sarip sudah berubah. Usianya bertambah. Anak-anaknya telah berkeluarga. Namun, caranya menyambut dan menghormati tamu tidak berubah. Saya sudah memberi kabar akan datang bersama teman-teman alumni Mapala Unila. Rombongannya lintas generasi. Dari angkatan pertama sampai angkatan puluhan.
Kami terlambat sekitar satu jam dari jadwal. Tiba di Ciboleger hampir pukul sebelas malam. Olot Sarip masih menunggu. Berdiri di Terminal Ciboleger.
Seperti 25 tahun lalu.
Saya pertama kali mengenal Olot Sarip melalui sahabat saya, Dadan Sudana, seorang pemerhati budaya yang tinggal di Pandeglang. Tahun 2001, kami bertiga pergi ke Baduy: saya, Dadan, dan Asep Hilmi. Kami bermalam di rumah Sarip.
Itoh dan Wawan masih kecil. Sekarang keduanya sudah berkeluarga. Itoh memiliki dua anak. Wawan satu anak. Rumah yang dulu kami tempati kini dihuni Itoh bersama suami dan anak-anaknya.
Olot Sarip dan istrinya, Sami, tinggal di rumah yang disiapkan adat bagi kaolotan di Kaduketug Gede.
Kalau menggunakan istilah kita, mungkin semacam rumah dinas. Tentu tanpa papan nama, pagar tinggi, dan tulisan: “Dilarang Masuk Tanpa Izin.”
Sejak pertama kali datang ke Baduy pada 1997, perjalanan saya lebih banyak berhenti di kampung-kampung Baduy Luar. Baru pada kedatangan kali ini saya sempat mengunjungi Cibeo dan Cikertawana. Tinggal Cikeusik yang belum.
Saat tiba di Cibeo, tiga Puun dan para tokoh adat sedang berkumpul. Olot Sarip ikut dalam pertemuan itu. Mereka membahas berbagai persoalan. Urusan di dalam Baduy. Juga persoalan yang datang dari luar.
Saya bertahan di Cibeo sampai sekitar pukul dua siang. Menunggu rapat selesai. Menunggu Olot Sarip agar kami bisa kembali bersama.
Perjalanan dari Ciboleger menuju Cibeo hanya bisa ditempuh dengan berjalan kaki. Ada yang mencapainya dalam tiga jam. Ada yang empat jam. Bahkan ada yang membutuhkan enam sampai tujuh jam. Tergantung kekuatan kaki. Juga seberapa sering berhenti untuk mengatur napas.
Hubungan saya dengan Olot Sarip juga menyimpan cerita lain. Tahun 2001, saya, Dadan, Asep, dan tentu saja Sarip, mendapat izin membawa dua gadis Baduy keluar dari wilayah mereka. Namanya Anis dan Sarinah.

Keduanya ikut dalam kegiatan Ikatan Dokter Indonesia Wilayah Banten di Hotel Marbella, Anyer. Mereka menjaga stan Banten. Saya terlibat karena diminta membantu publikasi oleh ketua pelaksana, dr. Jirjis Ridlo, Ph.D., yang kemudian terpilih menjadi Ketua IDI Wilayah Banten pertama.
Kegiatan itu berlangsung selama empat hari dan diikuti sekitar 1.000 dokter dari berbagai daerah. Menteri Kesehatan saat itu, Achmad Sujudi, sempat mengunjungi stan Banten dan berkomunikasi dengan Anis dan Sarinah yang belum lancar berbahasa Indonesia.
Foto keduanya dimuat Harian Banten, yang kini menjadi Radar Banten. Anehnya, seorang yang disebut pemerhati budaya menyatakan bahwa mereka bukan warga Baduy. Alasannya, tidak mungkin gadis Baduy diizinkan pergi sejauh ke Anyer.
Padahal, yang mengaku paling tahu kadang justru tidak pernah bertanya kepada orang yang benar-benar tahu.
Sabtu kemarin, saya menanyakan kabar mereka. Anis kini tinggal di Kaduketug. Sarinah di Cicakal Muara. Keduanya sudah memiliki cucu. Dua gadis Baduy yang dahulu membuat orang tidak percaya, kini telah menjadi nenek.
Ada satu hal lain yang menarik dari kegiatan IDI itu. Setiap peserta mendapatkan koja, tas tradisional Baduy dari kulit kayu. Materi seminar yang biasanya dimasukkan ke dalam tas buatan pabrik, dibawa dengan hasil kerajinan warga Baduy. Jauh sebelum produk ramah lingkungan ramai dibicarakan dalam seminar.
Dalam kunjungan kali ini, saya dan Olot Sarip sempat berbincang serius. Tentang lingkungan. Perilaku masyarakat. Perubahan zaman. Hubungan Baduy dengan dunia luar. Bahkan kebijakan nasional.
Saya juga kembali menanyakan satu kalimat yang terpampang di pintu masuk Baduy dari arah Ciboleger:
Lojor teu beunang dipotong, pendok teu beunang disambung.
Yang panjang tidak boleh dipotong. Yang pendek tidak boleh disambung.
Apa sebenarnya makna kalimat itu?
Olot Sarip menjelaskannya dalam pengertian yang luas. Bukan hanya tentang panjang dan pendek. Bukan pula sekadar aturan adat. Kalimat itu adalah pegangan hidup.
Kenyataan tidak boleh dikurangi agar sesuai dengan keinginan kita. Juga tidak boleh ditambah agar menguntungkan kita.
Kalau benar, katakan benar. Kalau salah, katakan salah.
Sederhana sekali.
Namun, justru kesederhanaan seperti itu yang semakin sulit ditemukan. Kita hidup pada zaman ketika yang panjang bisa dipotong agar tampak pendek. Yang pendek bisa disambung agar terlihat panjang. Fakta dapat dipilih. Kalimat bisa dipelintir. Kesalahan dibungkus menjadi pembenaran.
Kadang-kadang kebohongan tidak dibuat dengan mengatakan sesuatu yang sepenuhnya salah. Cukup dengan memotong sebagian yang benar.
Baduy mungkin tidak memiliki gedung tinggi. Tidak sibuk membuat slogan integritas. Tidak pula menggelar seminar kejujuran di hotel berbintang.
Namun, selama ratusan tahun mereka menjaga satu kalimat yang hari ini justru semakin dibutuhkan negeri ini:
Lojor teu beunang dipotong. Pendek teu beunang disambung.
Sampaikan segala sesuatu sebagaimana adanya. Jangan dikurangi. Jangan ditambahi.
Kita yang merasa lebih modern, ternyata masih harus berjalan berjam-jam ke Baduy untuk belajar satu hal yang paling sederhana: kejujuran. (*)

