Selepas Subuh, telepon saya berdering. Dari seorang sahabat: Tabrani. Tidak terjawab. Saya kembali tidur. Malam sebelumnya baru tiba di rumah pukul 02.30.
Baru pulang mengajak teman-teman general manager dan pemimpin redaksi ke Jawa Tengah dan Yogyakarta.
Ketika bangun, ada pesan dari Kak Tab. Begitu saya biasa memanggil Tabrani. Banyak orang di Cilegon dan Serang mengenalnya sebagai notaris. Saya lebih sering mengenalnya sebagai teman ngopi. Ajakan ngopi. Sudah hampir dua bulan kami tidak bertemu. Dua bulan bagi kami termasuk lama. Biasanya, paling tidak sebulan sekali, salah satu mengirim pesan. “Ngopi…”. Jawabannya hampir selalu sama. “Yuk, gas.”
Kali ini pesannya lebih lengkap. “Kang Dir, jam satu nanti kita ngopi, ya. Bareng Pak Kapolda dan Wakapolda di Teras Bahagia.”
Jam 08.09, saya ditelepon Kak David. Sahabat kami: David. Profesinya lawyer. Juga sama. Ajakan ngopi bareng di Teras Bahagia. Teras Bahagia adalah perumahan subsidi yang dikembangkan Kak Tab melalui PT Hamparan Kebahagiaan Sejati di Desa Sindangheula, Kecamatan Pabuaran, Kabupaten Serang. Letaknya tidak terlalu jauh dari kampus Untirta di Sindangsari.
Saya sudah lama mendengar nama itu. Sejak Kak Tab mencari lahan, mendapatkannya, lalu mulai melakukan cut and fill, saya mengikuti ceritanya. Hanya melalui cerita. Baru kemarin saya datang langsung. Lokasinya bagus. Kontur lahannya dibentuk mengikuti ketinggian, hampir seperti terasering. Dari beberapa bagian perumahan, perbukitan di sekitar Waduk Sindangheula terlihat jelas. Di belakang kawasan masih terhampar pepohonan hijau. Anginnya juga berbeda.

Saya datang bersama Kapolda Banten Irjen Pol. Hengki, Wakapolda Banten Brigjen Pol. Iwan Saktiadi, dan sejumlah pejabat utama Polda Banten. Ada Kabid Propam Kombes Pol. Murwoto, Dirbinmas Kombes Pol. Imam Tarmudi, serta Kapolresta Serang Kota Kombes Pol. Yudha Satria.
Kami melihat rumah-rumah yang sudah selesai dibangun. Tipe 30 di atas tanah 72 meter persegi. Dua kamar tidur, ruang tamu, kamar mandi, dan ruang terbuka di belakang. Bagian depannya masih cukup untuk mobil dan sepeda motor.
Jalan di dalam blok lebarnya sekitar delapan meter. Jalan utamanya 12 meter. Di dalam blok, dua mobil dapat berpapasan tanpa salah satunya harus mengalah, berhenti, lalu memberi jalan.
Hal seperti itu mungkin biasa di perumahan komersial. Di perumahan subsidi, belum tentu. “Bagus ini rumahnya,” kata Kapolda.
Wakapolda mengiyakan. Yang dipuji bukan rumahnya saja. Lokasi, pemandangan, dan udaranya juga.
Kapolda mengatakan banyak bintara muda yang masih membutuhkan rumah. Perumahan seperti Teras Bahagia bisa menjadi salah satu pilihan. Tentu keputusan membeli tetap urusan masing-masing. Termasuk keputusan bank yang akan membiayai.
Menurut rencana yang diceritakan Kak Tab, kawasan seluas sekitar 11 hektare itu akan menampung kurang lebih 750 rumah. Masih ditambah fasilitas umum dan fasilitas sosial. Ada masjid, taman, dan jogging track.
Rumahnya tidak besar. Memang tidak perlu berpura-pura besar. Tetapi penataannya membuatnya tidak terasa sebagai rumah yang dibuat sekadar untuk memenuhi batas paling murah.
Data resmi Sikumbang BP Tapera mencatat Teras Bahagia sebagai perumahan subsidi dengan harga Rp166 juta. Luas bangunannya 30 meter persegi di atas tanah 72 meter persegi.
Luas tanah rumah subsidi memang boleh dimulai dari 60 meter persegi. Karena itu, tambahan 12 meter di Teras Bahagia terasa lumayan. Apalagi bagi keluarga muda yang suatu hari ingin menambah dapur, membuat tempat jemuran, atau sekadar menanam cabai. Saya pun berminat membeli. Sayangnya, saya bukan sasaran rumah subsidi. Program itu diperuntukkan bagi masyarakat berpenghasilan tertentu yang belum mempunyai rumah dan belum pernah menerima bantuan pembiayaan perumahan dari pemerintah.
Jadi, bukan tidak bisa mencicil. Tidak boleh ikut antre. Sebagai sahabat, saya ikut senang. Kak Tab memulai pembangunan rumah subsidi di Pandeglang.
Kini ia masuk ke Kabupaten Serang dengan kawasan yang jauh lebih luas. Saya tahu membangun rumah subsidi bukan perkara mudah. Harga dibatasi. Mutu tetap dituntut. Tanah, bahan bangunan, perizinan, dan ongkos kerja tidak mengenal kata subsidi. Di situlah pengembang diuji. Mengurangi keuntungan masih bisa. Mengurangi semen, jangan.
Kemarin, selain melihat rumah, kami juga ngopi dan makan durian bersama Kapolda, Wakapolda, para pejabat utama Polda Banten, masyarakat sekitar, serta Kepala Desa Sindangheula, Suheli. Akhirnya saya bukan hanya ingin punya rumah di Teras Bahagia. Saya juga ingin diajak ngopi dan makan durian lagi.
Yang terakhir itu tidak perlu memenuhi syarat penghasilan. (*)

